Jonah Wenda, dari Penjara Kalisosok hingga ketua WPNCL

0
1326

Oleh : Julian Haganah Howay)* 
)* Penulis adalah aktivis Papua

Siang itu di bulan Juli 2016, dalam rumah kakak laki-laki saya di kompleks Perumahan Kehutanan, Padang Bulan, Abepura, Kota Jayapura, Papua, pikiran saya diliputi suasana penuh kecemasan bercampur stress. Saat itu saya sedang memutar otak memikirkan apa yang perlu saya lakukan.

Sumber kecemasan ini bermula dari kiriman email yang saya terima sehari sebelumnya dari seorang staf administrasi beasiswa American Indonesian Exchange Foundation (Aminef) Fulbright di Jakarta. Isi email itu meminta saya bersama teman-teman penerima beasiswa yang sama di Papua agar dalam waktu tidak lebih dari dua hari ke depan, harus bisa mendapatkan suntikan vaksinasi Measles, Mumps, Rubela (MMR). Lalu mengirim sertifikatnya ke Jakarta via email.

Vaksinasi itu diperlukan karena dua hari lagi saya akan berangkat meninggalkan Papua untuk belajar selama hampir setahun di Scottsdale, Arizona, Amerika Serikat. Tiket dengan rute Sentani Jayapura – Jakarta – Los Angeles California – Phoenix Arizona, sudah disiapkan pihak beasiswa. Tapi syarat bagi mahasiswa asing dari daerah tropis sebelum memasuki wilayah AS, mereka sudah harus divaksin  MMR.

Dalam suasana cemas bercampur linglung lantaran saya tidak punya uang untuk mendapatkan vaksinasi itu, tiba-tiba handphone jadul saya berdering tanda panggilan. Saya mendapat telpon dari ipar Yunus Wenda atau biasa dipanggil Jonah atau JW di Sentani. Ia hanya sekedar mau menanyakan kabar dan berbincang.

ads

Kesempatan itu lalu saya gunakan untuk memberitahu dia bahwa saat ini saya benar-benar sedang  butuh uang sebesar 900 ribu rupiah guna mendapatkan suntikan vaksinasi MMR. Saya juga memberitahu ipar JW bahwa saya akan berangkat ke Amerika dalam dua hari ke depan. Tapi sebelumnya harus divaksin. Dia terkejut tapi ikut senang.

Saya lantas memberitahu dia secara jujur bahwa saya sama sekali tidak punya uang untuk mendapatkan suntikan vaksin MMR. Jadi saya perlu bantuannya. Tanpa basa-basi, melalui telpon dia lantas meminta saya segera keluar untuk menunggunya di pinggir jalan raya Padang Bulan Abepura – Waena – Sentani. Tepatnya di sekitar supermarket Holla Plaza yang sekarang bangunannya sudah berganti jadi hotel Horizon.

Lima belas menit kemudian, dengan penuh semangat akan bantuan yang segera datang, saya bergegas menuju lokasi bertemu. Tidak lama, Jonah Wenda pun tiba dengan mobil kijang kapsul tuanya. Saya lupa nama merk mobilnya. Ia lalu menepikan mobil,  menurunkan kaca depan dan saya pun mendekat. Di dalam mobil ia ditemani istrinya, seorang perempuan Sentani bermarga Deda, dan anak lelaki sulungnya yang saat itu berusia sekitar 4 tahun.

Dia menyuruh istrinya membuka pintu mobil dan memangil saya masuk. “Hallo brata, ade jago. Ini kaka bantu ko 500 ribu saja ee. Ade ko pegang. Semoga sisanya nanti ade bisa usaha cari lagi secepatnya supaya urus barang-barang untuk berangkat. Sukses ee ade. Tuhan berkati,” kata kaka JW tersenyum sambil memberikan uang ke saya di dalam mobil.

Saya lalu menjabat tangannya erat sembari menyampaikan terima kasih kepada mereka kemudian turun dari mobil. Tidak ada pembicaraan lanjutan sebab mereka harus balik lagi ke Sentani. Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya merasa sangat terbantu dan berharap kebutuhan sisa uang 400 ribu untuk biaya vaksin bisa didapat secepatnya lagi.

Sesudah kembali ke rumah, saya juga menelepon beberapa orang rekan untuk meminta bantuan. Beruntung, ada dua orang yang saya telepon berniat membantu. Dari dua orang ini, seorang merupakan pegiat masyarakat adat Papua. Yang satunya pegiat senior LSM. Dia orang Batak dan pernah menjadi atasan saya. Mereka meminta saya bertemu esok pagi di dua tempat berbeda di sekitaran Abepura agar uangnya diberikan.

Esok paginya, sesudah menerima tambahan masing-masing uang sebesar 200 ribu dari kedua kolega itu, saya langsung bergegas menumpang angkot menuju sebuah klinik di kota Sentani yang melayani vaksinasi MMR. Sebab  dari seluruh klinik di seantero kota Jayapura hingga Sentani, hanya klinik ini yang melayani vaksinasi itu. Biayanya cukup mahal, hampir sejuta rupiah.

Dalam kondisi demam dan kedua lengan yang masih terasa nyeri selepas disuntik vaksin sore itu, di perjalanan pulang mengikuti angkot dari Sentani menuju Abepura, saya menyempatkan waktu mengirim sertifikat vaksin ke Jakarta melalui email. Setiba di rumah saya pun lega, meskipun sangat kelelahan.

Dua hari kemudian di pagi hari keberangkatan, saya bergegas untuk menumpang angkot menuju bandara Sentani dari Padang Bulan Abepura. Saat saya hendak berjalan keluar dari rumah sambil menenteng ransel dan menarik koper berukuran sedang yang penuh barang, seorang kakak laki-laki di kompleks menyapa saya. Ia merupakan tetangga dekat sebelah rumah yang sedang menggendong anak perempuannya sambil berdiri di depan rumahnya.

“Eh ade, mo berangkat ka?” tanya dia. Iya kaka. Ini sa mo berangkat ke Amerika nih,” jawab saya.

“Adow ade sayang…,ini pas hanya ada uang 200 ribu saja di saku nih. Ko pegang untuk uang taksi atau makan di bandara,” kata dia sambil menarik uang dari saku celananya lalu memberkan kepada saya, seraya menyampaikan sukses dan hati-hati hingga tiba di tujuan.

Saya menerima uang itu sembari berucap terima kasih lalu pamit untuk bergerak ke bandara Sentani. Selanjutnya saya harus menempuh rute penerbangan sesuai tiket. Dari bandara Sentani Jayapura Tanah Papua, singgah sehari di kantor Aminef Fulbright Jakarta untuk pengecekan akhir berkas. Esok malamnya lanjut terbang menuju Los Angeles California dan transit. Lalu lanjut menumpang pesawat jet Delta Airlines yang berbadan sedang menuju kota tujuan, Phoenix, Arizona.

Saat tiba di bandara Phoenix Sky Harbour International Airport, Arizona, AS, bersama seorang rekan dari Merauke, kami sudah ditunggu di pintu kedatangan internasional untuk dijemput mama asuh (host mom) kami masing-masing. Mereka menunggu kami dengan tanda bertuliskan nama kami.

Baca Juga:  Nasionalisme Papua Tumbuh Subur di Tengah Penjajahan

Saat bertemu di pintu keluar kedatangan, kami pun berpelukan kegirangan. Saat itu suhu udara siang musim panas di wilayah Arizona yang tandus menyerupai wilayah Timur Tengah, terasa begitu membakar kulit. Terik matahari diluar begitu terasa hingga membuat baju saya basah oleh keringat.

Kami lalu membawa bagasi. Saya menaikan koper dan tas ransel ke mobil mama asuh saya, Elena Montiel (76 tahun), seorang perempuan berdarah Yahudi. Suaminya, John Benson, seorang pria kulit hitam paruh baya yang selalu sibuk mengurus restoran mereka tidak ikut saat menjemputku.

Mama Elena membawa saya menumpag di rumahya untuk sementara waktu. Perjalanan pulang dari bandara menuju rumah mama asuh saya yang berada di kota Chandler, Arizona, ini memakan waktu tempuh hampir satu jam. Jadi saya hanya bisa duduk terdiam menikmati alunan musik klasik yang keluar dari speaker mobil mama Elena. Ia sangat menyukai musik klasik.

Dalam perjalanan pulang, saya terus menatap keluar menikmati pemandangan yang begitu asing di balik kaca jendela mobil. Wilayah tandus kering kerontang yang dijejali kaktus-kaktus raksasa dan aneka tumbuhan liar yang hidup di kawasan ini. Walau begitu, jalan-jalan, rumah-rumah dan tata kotanya terlihat sangat rapi, bersih, modern dan indah.

Di dalam mobil ini saya juga sempat mengingat kebaikan orang-orang yang lelah membantu saya seperti kaka Jonah Wenda hingga saya bisa tiba di Amerika. Perenungan ini membuat saya terbawa perasaan hingga meneteskan air mata di dalam mobil. Akhirnya saya sudah tiba di negara super power ini.

Yang mengesankan saat tiba di AS, uang di saku saya hanya sebesar 200 ribu. Kami memang sempat diberikan uang saku dalam amplop coklat kecil sebagai bekal perjalanan sebesar 120 dolar AS. Sedangkan uang sisa di rekening saya satu-satunya di Bank Mandiri hanya sebesar 50 ribu rupiah.

Saya tinggal selama dua minggu di rumah orang tua asuh mama Elena guna penyesuaian diri terhadap lingkungan alam dan kehidupan sosial yang baru di AS. Setelah itu, saya dipindahkan untuk menetap di apartemen dekat kampus agar hidup mandiri bersama teman-teman dari negara lain.

Jonah Wenda pada suatu kesempatan.

Setelah studi kami berjalan selama beberapa  bulan, saya mendapat pesan yang mengejutkan lewat Facebook di penghujung tahun 2016. Istri Jonah Wenda mengabarkan bahwa suaminya ditangkap polisi selepas kembali dari Papua New Guinea (PNG). Dia sempat ditahan di Polda Papua untuk menjalani pemeriksaan. Setelah disidangkan, ia pun dipenjara selama 6 bulan 11 hari di Lapas Abepura, lalu dibebaskan.

Mengenal Pace Jonah Wenda

Suatu hari di sore menjelang malam, kami berkumpul untuk diskusi terbatas di dalam sebuah rumah milik keluarga seorang kawan di area Padang Bulan, Abepura. Setelah sejam berdiskusi, kami lalu kedatangan beberapa tamu yang tidak saya kenal sebelumnya.

Setelah bertemu dan beberapa menit berbincang dengan para tamu ini, salah satu diantara mereka yang kelihatannya berpengaruh ini ternyata bernama Jonah Wenda. Disinilah pertama kali saya bertemu denganya di tahun 2008. Waktu itu saya masih aktif bekerja sebagai wartawan di salah satu media lokal.

Saat bertemu, kami yang hadir dalam diskusi ini sudah diberitahu bahwa cukup memanggil beliau dengan sebutan komandan JW atau pace JW saja. Badannya agak pendek dan ramping. Sosoknya saat itu terkesan cukup misterius karena muncul di malam hari. Ia dikawal beberapa orang karena figurnya dianggap penting dalam aktivitas politik pembebasan Papua.

Beberapa waktu selepas pertemuan itu, saya kemudian bisa memahami bahwa Jonah Wenda menempati posisi sebagai juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB OPM) kala itu. Pimpinannya adalah Brigjen Richard Joweni yang saat itu membangun basis di Pantai Utara Tanah Merah Jayapura dan memangku jabatan sebagai ketua Dewan Militer TPNPB.

Joweni juga menjadi ketua eksekutif West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) hingga meninggal pada 15 Oktober 2015. Ia lalu digantikan Andy Ayamiseba yang berdomisili di Vanuatu. Sayangnya, dalam pengasingannya di Vanuatu, Andy juga meninggal di Australia pada 21 Februari 2020 karena cukup lama menderita sakit.

Sebelum meninggal, Andy merasa bahwa dirinya sudah dalam keadaan sakit dan berhalangan tetap untuk meminpin WPNCL. Jadi setahun sebelumnya diadakan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) WPNCL di Port Moresby PNG. Dalam forum ini Jonah Wenda terpilih sebagai ketua eksekutif WPNCL pada 14 Desember 2019, sekaligus Ketua I Legislatif Council United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Ia menggantikan posisi Andy Ayamiseba yang telah sakit dan kemudian meninggal.

Dengan berjalannya waktu, pada senin pagi, 10 Oktober 2022, lewat sebuah grup WhatsApp, kami dikejutkan kembali dengan info duka yang mengabarkan bahwa Jonah Wenda juga ikut berpulang. Pesan duka berantai ini meneruskan info yang diperoleh dari Buchtar Tabuni di Jayapura, selaku ketua West Papua Council dan pendiri Komite Nasional Papua Barat (KNPB). Info ini saya terima saat berada di Bogor, Jawa Barat.

Jonah Wenda dinyatakan meninggal dunia di Rumah Sakit Dian Harapan (RSDH) Waena, Kota Jayapura, pada pukul 06:00 pagi, Dia meninggal dalam usia 53 tahun. Menurut keluarga, ia mulai mengalami sakit setelah bebas dari Lapas Abepura sehabis menjalani masa hukuman selama 6 bulan 11 hari  di tahun 2016-2017. Pada Desember 2018, dia mulai mengalami gejala sakit yang ditandai dengan lupa ingatan.

Kondisi demikian mulai memburuk ketika kendaraan yang ia kemudikan sering mengalami masalah di jalan raya. Jonah sempat berusaha ke Vanimo, PNG, untuk berobat namun kembali lagi ke Jayapura. Saat kondisi kesehatannya mulai menurun drastis, dia lalu dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis. Namun nyawanya tak tertolong.

Saat  jatuh sakit semenjak keluar dari Lapas Abepura, keluarganya pun mulai curiga. Sebab saat masih di Lapas, makanan yang diantar langsung oleh keluarga sering tidak sampai ke tangan Jonah. Keluarganya pun kadang dibatasi untuk menjenguk sehingga suatu kali sempat terjadi keributan dengan para petugas.

Baca Juga:  Operasi Militer: Kejahatan HAM dan Genosida di Papua

Kepergian Jonah Wenda hanya berselang tiga hari setelah meninggalnya Leonie Tanggahma di Belanda pada 7 Oktober 2022. Leonie merupakan seorang perempuan Papua tangguh yang menjadi diplomat dan pejuang pembebasan Papua Barat di negeri pengasingan. Ia adalah putri dari Ben Tanggahma, diplomat senior yang tercatat pernah membuka kantor perwakilan Papua Barat di Dakar, ibu kota Senegal, Afrika pada 1976 sebelum hengkang ke Belanda.

Menurut daftar riwayat hidup yang dibacakan saat jenazah Jonah Wenda dimakamkan pada 12 Oktober 2022, ia dilahirkan di Wamena pada 17 Juli 1969. Waktu itu Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) sedang berlangsung saat ia lahir. Dari nama marga Wenda yang disandang, dia berasal dari suku Lani, suku terbesar yang mendiami wilayah adat Lapago, Pegunungan Tengah Papua. Marga Wenda adalah salah satu marga terbesar di wilayah ini.

Melalui jalinan perkawinan dengan istrinya, seorang perempuan Sentani bermarga Deda, mereka dikaruniai dua anak. Perempuan inilah yang selalu setia menemani dalam suka dan duka. Saya masih teringat, saat beberapa kali pertemuan di Abepura, Jonah pernah membawa istrinya ini yang usianya jauh lebih muda untuk mendampingi.

Dalam prosesi pengantaran jenazah dari rumahnya di Sentani ke tempat penguburan di Kampung Sereh, peti jenazah Jonah diperlakukan dengan pernghormatan ala militer TPNPB. Petinya dibalut bendera Bintang Fajar, lalu diusung enam prajurit berseragam militer. Di depan iringan peti jenazah, dua prajurit berseragam militer berjalan sambil membentangkan bendera Bintang Fajar.

Dari sejumlah foto dan video yang saya terima, proses pengiringan peti jenazah Jonah ini dilepas isak tangis keluarga, kerabat dan rekan-rekan seperjuangan. Situasi ini membuat saya teringat mendiang Brigjen Richard Joweni, ketua WPNCL saat hendak dikuburkan.

Joweni meninggal saat usianya renta dalam kesunyian pergulatan di belantara pesisir pantai utara Tanah Merah Jayapura pada 15 Oktober 2015. Saat menderita sakit, ia sempat dilarikan dengan speedboat menerobos jalur laut untuk mendapat pengobatan di Vanimo, PNG. Namun sakitnya kian parah dan akhirnya meninggal. Tepat di bulan yang sama dengan juniornya Jonah Wenda.

Sewaktu Joweni meninggal, Jonah kala itu berpangkat kolonel dan menjabat sebagai Jubir TPNPB. Saat info kematian Joweni tiba, Jonah mengontak kami untuk menghadiri pemakaman dari sang pejuang senior satu satunya yang hidup di tanah air rimba Papua ini. Saya diundang sebagai wartawan guna meliput dan meneruskan kepada sejumlah media.

Saat itu akses menuju tempat jenazah Richard Joweni disemayamkan tergolong rumit. Kami harus menggunakan mobil dari kota Jayapura menuju wilayah pesisir Pantai Utara Teluk Tanah Merah Jayapura. Setelah itu, kami harus menggunakan speedboat membelah laut hingga tiba di sebuah kampung kecil di pesisir teluk ini. Kampung ini tersembunyi dibalik tebing-tebing bebatuan.

Perahu ditarik ke pantai dan kami harus mendaki perbukitan berbatuan cadas untuk menuju ke area hutan yang berada di atas tebing-tebing yang menghadap ke pesisir teluk Tanah Merah. Pemandangan dari atas teluk ini tampak begitu menakjubkan dilatari Gunung Cycloop (Dafonsoro) nan gagah menjulang.

Legasi Sebagai Nasionalis Papua

Sebelum mengenal seorang Jonah Wenda, saya sudah pernah mendengar berbagai cerita tentang sepak terjangnya, selain sosok Benny Wenda (BW). Namanya tidak begitu asing lantaran pernah mengorganisir pemuda, mahasiswa dan rakyat Papua dalam berbagai aksi politik pembebasan Papua di Jayapura pada akhir 1980an hingga awal 1990an. Saat itu ia masih sangat muda dan energik.

Para Tapol/Napol Papua saat di Lapas Kalisosok, Surabaya tahun 1990an.

Di tahun 1989 namanya juga dikenal karena menjadi Tahanan/Narapidana Politik (Tapol/Napol) Papua termuda bersama para tahanan politik lainnya di penjara Kalisosok, Surabaya, Jawa Timur. Saat itu dia masih berstatus pelajar SMAN 1 Abepura dan usianya sekitar 17 tahun. Dia dihukum penjara selama 6 tahun berdasarkan surat putusan Pengadilan Negeri Jayapura tertanggal 09 Juli 1990, nomor 24/PB/1990 karena melakukan tindak pidana subversi.

Dia ditangkap karena terlibat menggerakan demonstrasi dalam rangka perayaan satu tahun Deklarasi Negara Melanesia Barat oleh alm. Dr. Thomas Wapai Wanggai pada 14 Desember 1988 yang saat itu berlangsung di Lapangan Mandala, Jayapura. Sebelumnya, Dr. Thomas Wanggai sudah lebih dahulu mendekam sebagai Tapol di Lapas Cipinang, Jakarta Timur atas dakwaan tindak pidana subversi atau melawan negara.

Sementara puluhan Tapol Papua yang diberangkatkan dari Jayapura ke Jawa atas dakwaaan yang sama, dipenjara terpisah di Lapas Kelas I Kalisosok, yang beralamat di di Jalan Kasuari, No. 5, Krembangan Kota Surabaya. Mereka dipenjara terpisah karena berbagai alasan.

Dalam penjara berumur dua ratus tahun yang dibangun kolonial Belanda pada 1806 bagi para pejuang Indonesia merdeka itu, Jonah Wenda terdaftar dengan nomor registrasi B.I. 29/1991 dan nomor register D: 262/1991, dengan nomor daftar tahanan 0611. Saat itu ia dibui bersama puluhan tahanan lain seperti; alm. Drs. Alberth Kaliele, Rev. Edison Waromi, Drs. Septinus Paiki, Jacob Rumbiak, alm. Simon Mosso,SH, alm. Jordan Iek, alm. Martinus Kambu, dan lain-lain.

Dalam suatu kesempatan, Jonah Wenda pernah berkisah tentang situasi yang dia alami sebelum dikirim ke Kalisosok. Setelah dia bersama sejumlah orang ditangkap di Jayapura, mereka lantas ditahan terpisah di sejumlah tempat untuk menjalani proses pemeriksaan dan persidangan selama beberapa waktu. Salah satu tempat penahanan adalah pusat tahanan militer TNI AD Denzipur 10 Waena.

Setelah kasus mereka diputuskan di pengadilan Jayapura, para Tapol Papua ini diangkut secara beregu ke Jawa untuk menjalani hukuman penjara. Mereka diangkut menggunakan pesawat kargo hercules TNI AU dan ada yang diangkut dengan kapal perang TNI AL. Selama penerbangan dan pelayaran, tangan mereka diborgol dan diikat saling menyambung agar tidak terpisah. Yang diangkut dengan pesawat, mata mereka ditutup hingga tiba di Surabaya.

“Waktu itu memang setengah mati. Kami yang dibawa dengan kapal ditahan dalam ruang tahanan di kapal. Kitong juga takut dan pikir bahwa jangan sampai nanti di tengah laut, tentara Indonesia akan kase masuk kitong di dalam karung, lalu buang di laut,” kenang Jonah Wenda.

Baca Juga:  Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Tanah Papua Harus OAP, Aspirasi Lama

Ia juga mengisahkan, dalam perjalanan selama dua minggu di lautan, mereka sering mengalami mabuk laut dan muntah-muntah. Terutama ketika kapal mengalami oleng atau terombang ambing diterpa ombak samudera. Mereka juga hanya diberi makan seadanya, bahkan kurang makan selama di kapal.

Sewaktu puluhan Tapol/Napol Papua ini tiba di Surabaya dan diangkut ke Lapas Kalisosok, di dalam penjara ini juga ditahan banyak tahanan politik Indonesia. Mereka dipenjara rezim Soeharto lantaran dituduh komunis, pemberontak Gerakan Timor Leste Merdeka, Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan orang-orang yang mencoba melawan rezim Orde Baru (Orba).

Setelah menjalani masa hukuman penjara di Lapas Kalisosok selama 6 tahun, Jonah pun dibebaskan untuk menghirup udara segar. Dalam surat pembebasannya tertulis; nama Yunus Wenda, umur 20 tahun, lahir di Wamena, beralamat di Jalan Arso, Kamkey, Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Irian Jaya. Isi surat ini menegaskan bahwa sejak tanggal  23 Agustua 1994, ia dibebaskan karena masa pidanya telah habis dijalani.

Surat pembebasan itu ditandatangani R. Sunarto, BC.IP, selaku Kepala Lapas Kelas 1 Kalisosok kala itu. Setelah bebas dari penjara, Jonah Wenda kembali melanjutkan pendidikannya di SMAN 1 Abepura. Ia juga sempat mendaftar untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Cenderawasih (Uncen), Jayapura. Namun kuliahnya terhenti lantaran dia mengungsi ke PNG paska demonstrasi 18 Maret 1996 yang menyebabkan kota Jayapura dan Sentani rusuh.

Waktu itu dia ikut mengorganisir mahasiswa dan masyarakat di Jayapura dalam penyambutan jenazah Dr. Thomas Wanggai saat tiba di bandara Sentani, setelah meninggal di penjara Cipinang, Jakarta Timur pada 13 Maret 1996. Aksi penyambutan jenazah sekaligus demonstrasi ini juga menuntut pertanggungjawaban Pemerintah Indonesia atas kematian proklamator Negara Melanesia Barat itu.

Ribuan massa yang marah saat itu juga membakar sejumlah fasilitas bangunan di pinggir jalan, mulai dari Sentani hingga Abepura. Jonah juga kemudian mengorganisir masyarakat Papua yang merasa terancam dan hendak mengungsi ke PNG paska aksi yang membuat kota Sentani dan Abepura terpanggang.

Saat berada di PNG, pada tahun 1997 ia bersama beberapa pemuda Papua yang mengungsi membentuk tim penyadaran nasional pemuda Papua Barat. Tim ini dikenal dengan nama West Papua National Youth Awarness Team (WESPANYAT). Kelompok ini bertugas melakukan penyadaran nasional Papua guna mendorong proses persatuan komunitas orang Papua Barat yang tersebar di Vanimo, Lae, Manus, Port Moresby, dan beberapa distrik lainnya.

Antara tahun 1997-2003, Jonah Wenda juga terlibat dalam berbagai proses persatuan kelompok perjuangan Papua Barat di PNG. Ia juga bergabung dengan kelompok solidaritas gerakan pembebasan Melanesia (Melanesian Solidarity Group)  untuk pembebasan Kanaky, Bougainville dan Papua Barat.

Antara tahun 2000 hingga 2003, Jonah kemudian mendapat kesempatan menempuh kuliah program hubungan politik regional di kampus Divine Word University, Madang, PNG. Masa studi ini telah memberinya kesempatan untuk belajar dan memantapkan kemampuan Bahasa Inggris dan Tok Pisin dengan baik.

Pada tahun 2004, ia lalu bergabung bersama Gugus Tugas Perdamaian Papua Barat atau West Papua Peace Task Force (WPPTF) untuk melakukan konsolidasi bagi berbagai komunitas Papua Barat di PNG. Ini dilakukan mengingat komunitas Papua Barat yang bermukim di PNG belum solid dalam kesadaran nasional dan persatuan perjuangan.

Dibawah payung WPPTF, Jonah juga ikut memfasilitasi pertemuan tingkat tinggi gerakan rakyat Papua yang berlangsung pada 29 November – 1 Desember 2005 di Lae, Morobe Province (PNG). Dari pertemuan inilah organisasi payung perjuangan Papua Merdeka bernama West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL) terbentuk.

Selanjutnya di tahun 2006, bersama WPPTF Jonah ikut memfasilitasi pertemuan pimpinan gerilyawan bersenjata Papua Barat di Madang (PNG). Pertemuan ini berhasil menyepakati pembentukan nama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) sebagai nama resmi bagi kelompok pejuang gerilyawan bersenjata di Tanah Papua.

Di tahun 2007, bersama WPPTF Jonah ikut memfasilitasi pertemuan kedua pimpinan TPNPB yang menyepakati struktur kepemimpinan TPNPB. Dari pertemuan ini, ia ditunjuk sebagai Juru Bicara TPNPB. Setahun kemudian atau di tahun 2008, bersama WPPTF dan sebagai juru bicara ia ikut memfasilitasi pelaksanaan Rapat Kerja TPNPB di Vanimo (PNG) yang kemudian memfasilitasi pertemuan tingkat tinggi lanjutan antara pimpinan faksi gerakan pembebasan Papua Barat di Port Vila (Vanuatu).

Dari pertemuan tersebut, posisi WPNCL kemudian dikukuhkan sebagai wadah payung perjuangan rakyat Papua Barat di hadapan Pemerintah Vanuatu. Kemudian di tahun 2011, sebagai jubir TPNPB Jonah Wenda bertemu dr. Faried Husain yang menjadi utusan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan pernah terlibat dalam perundingan damai RI-GAM, guna mendorong gagasan perundingan damai.

Pertemuan yang berlangsung di markas pusat TPNPB wilayah Pantai Utara Jayapura dan terjadi pada pukul 11.00 WIT, tanggal 11 November 2011, ini kemudian dikenal dengan sebutan “Triple 11”. Meski demikian, pertemuan itu sempat ditentang oleh sejumlah figur faksi politik perjuangan karena dianggap sepihak.

Antara tahun 2009-2019, Jonah juga terlibat dalam berbagai koordinasi lintas kelompok TPNPB guna memperkuat persatuan dan membangun komunikasi internasional dengan gerakan-gerakan perlawanan di kawasan Pasifik dan Asia Tenggara. Sedangkan antara tahun 2020-2022, aktivitas perjuangannya mulai berkurang setelah kondisi kesehatannya menurun drastis hingga berpulang pada 10 Oktober 2022.

Bagi sejumlah kalangan yang mengenal Yunus atau Jonah Wenda secara dekat, ia merupakan sosok pejuang pembebasan bangsa Papua sekaligus aktivis kemanusiaan yang sangat konsisten. Sosok yang humanis, cerdas, pandai bergaul, cakap berkomunikasi dan mahir berdiplomasi, serta seorang nasionalis Papua yang tidak berpikiran sempit sukuisme.

Kemudian bagi rekan-rekannya yang pernah aktif bersama dalam berbagai persekutuan ibadah dan perlayanan Kristiani, Jonah Wenda dipandang sebagai seorang yang religius dan taat beribadah. Kini kematian telah membawanya untuk bertemu Tuhan penciptanya. (*)

Artikel sebelumnyaFeki Mobalen: Harus Ada Deputi Khusus Papua di AMAN
Artikel berikutnyaDibutuhkan Dukungan Publik dan Media untuk RUU Masyarakat Adat Disahkan