BeritaKetua ULMWP Nyatakan Duka Nasional West Papua

Ketua ULMWP Nyatakan Duka Nasional West Papua

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Setelah rakyat bersama aktivis dan berbagai pihak lain, ucapan dukacita yang mendalam juga disampaikan Benny Wenda, ketua United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), atas meninggalnya Filep Karma.

Benny Wenda mengungkapkan, mendiang Filep Karma semasa hidupnya tercatat sebagai tokoh Papua merdeka yang memilih berjuang tanpa kekerasan selama puluhan tahun sejak kasus Biak Berdarah 6 Juli 1998.

Dilansir Radio New Zealand, presiden sementara West Papua itu menyebut Filep Karma sebagai pemimpin rakyat Papua Barat yang selalu hadir di setiap aksi massa dan berbicara tentang pembebasan dari penjajahan adalah solusi terbaik.

Filep Karma dianggap sosok pejuang yang meyakinkan dan menginspirasi semua orang Papua Barat yang berbaris dan berdoa bersamanya.

“Bagi orang West Papua, Filep Karma setara dengan Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, atau Martin Luther King,” kata Wenda.

Baca Juga:  Pelatihan Jurnalis Rakyat, AMAN Harapkan Generasi Muda Berperan Aktif Dalam Masyarakat

Benny Wenda mencatat Filep Karma semasa hidupnya berjuang membela keadilan, perdamaian, demokrasi, dan bentuk perlawanannya tanpa kekerasan. Tetapi almarhum pernah dipenjara karena berorasi dan kibarkan bendera Bintang Kejora yang dianggap sebagai tindakan makar.

“Semua orang West Papua baik yang ada di hutan, kamp pengungsian, pengasingan maupun di dalam kota, sedang berduka atas meninggalnya Filep Karma,” ucapnya.

Sebagai aktivis West Papua yang konsisten dengan komitmennya, kata Benny, wajar saja rakyat akar rumput sedang berdukacita karena merasa sangat kehilangan seorang pejuang kebenaran.

“Hari ini seluruh bangsa Papua sedang berkabung atas tewasnya Filep Karma. Kami nyatakan sebagai hari duka nasional West Papua,” ujar Wenda.

Ia juga mengkritik negara Indonesia yang melalui aparat kepolisian mencoba merampas bendera Bintang Kejora saat massa mengantar jenazah ke rumahnya.

Baca Juga:  ULMWP: Aneksasi Papua Ke Dalam Indonesia Adalah Ilegal!

Dilansir The Guardian, Benny Wenda mengungkapkan sangat berdukacita untuk rekannya yang meninggal dunia dengan tidak wajar.

Menurutnya, 16 pemimpin Papua, banyak yang berusia 40-an dan 50-an telah meninggal “secara misterius” sejak tahun 2020.

Benny Wenda mempertanyakan, bagaimana Filep Karma ditemukan tidak bernyawa di pinggir pantai?.

Diberitakan media ini sebelumnya, direktur eksekutif ULMWP, Markus Haluk, menyatakan, bangsa Papua sangat kehilangan seorang pejuang Papua.

“Kepergian bapak Filep Karma, kita merasakan bahwa tulang punggung perjuangan bangsa Papua patah. Karena beliau merupakan tulang punggung yang menopang tubuh manusia, tubuh perjuangan Papua. Hari ini bangsa Papua kehilangan seorang pejuang dan nasionalis Papua,” ujarnya menyampaikan sambutan pelepasan jenazah dari rumah duka ke tempat peristirahatan terakhir, Rabu (2/11/2022) siang.

Baca Juga:  TPNPB Mengaku Telah Eksekusi Satu Anggota TNI di Sinak

Dukacita rakyat Papua, lanjut Haluk, karena almarhum dianggap sebagai seorang patriot yang selama puluhan tahun berjuang demi membela tanah air, rakyat dan bangsa Papua.

Filep Karma tercatat sebagai tahanan politik yang dipenjara 15 tahun. Divonis kurungan badan karena terlibat kibarkan bendera Bintang Kejora dan berorasi dalam aksi pawai kemerdekaan Papua pada tahun 2004. Tanggal 19 November 2015, Filep Karma bebas setelah 11 tahun mendekam di penjara. Pembebasan Filep Karma dari penjara setelah mendapat grasi dari presiden Joko Widodo terhadap sejumlah tahanan politik di Papua.

Setelah bebas pun Filep Karma tetap lanjutkan tekadnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Papua secara damai.

Editor: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

KNPB Gelar Aksi Pemasangan Lilin Mengenang 12 Tahun Kematian Musa Mako...

0
“KNPB bersama roh dan semangat perlawanan 39 orang yang telah di bunuh dan roh Mako Tabuni akan tetap ada dan akan selalu ada selama rakyat Papua tidak diberikan ruang demokrasi untuk menentukan nasib sendiri.”

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.