Elisabeth Bromley Mengaku Minimo Adalah Tempat Pertama Pendaratan Injil di Lembah Balim

0
661

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Kisah pendaratan Injil di Lembah Balim, kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, dibacakan oleh Elisabeth Bromley, anak dari misionaris asal Amerika, Dr. Myron Bromley ketika memperingati Hut Pekabaran Injil (PI) ke-69 tahun di Minimo, Wamena, Rabu (20/4/2023).

Elisabeth Bromley mengunjungi Minimo didampingi saudarinya Lois Bromley, bertepatan dengan perayaan 69 tahun Hut PI di Minimio (20 April 1954 – 20 April 2023).

Kampung Minimo, distrik Maima, kabupaten Jayawijaya, merupakan lokasi pertama bagi misi di Lembah Balim tiba dengan pesawat kecil.

Dalam membacakan kisah sejarah Injil di Lembah Balim, Elisabeth Bromley mengakui Minimo adalah tempat kontak pertama masyarakat Balim dengan dunia luar tepat pada 20 April 1954.

Rombongan bersama Dr. Miron Bromley pertama kali menginjakkan kaki di pinggir sungai Mini, kampung Minimo, distrik Maima.

“Saya datang ke sini untuk ikut bersama-sama ibadah di sini pada 20 April 2023. Bapak saya ‘Molamali’ [Dr. Myron Bromley] telah bawa Injil ke sini dan warga Minimo telah mempertahankannya, jadi saya bangga,” tukas Elisabeth anak kedua dari misionaris Bromley.

Ia lalu menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Minimo yang telah menerima ayahnya bersama rombongan pada waktu itu.

“Terima kasih kepada masyarakat Minimo karena telah menerima bapak saya untuk memperbesar kabar Injil di daerah ini.”

ads
Baca Juga:  Masyarakat Nduga Tertekan Konflik Berkepanjangan, Begini Saran Anggota DPRP

Elisabeth sendiri lahir di Tangma, salah satu pos pekabaran Injil di wilayah Kurima, kabupaten Jayawijaya.

Dalam momentum itu, Elisabeth berpesan kepada masyarakat Minimo agar tidak menjual tanah karena tanah merupakan mama yang membesarkan kita dan memberikan kekuatan untuk hidup.

Wakil Bupati Jayawijaya, Marthin Yogobi ketika menyampaikan sambutannya. (Supplied for SP)

Wene esin negen he ake mel yogohisak. Hit hinewe Minimo yoma logolik he, keang ati hinetawi rogo motok logosak. Keang yi re nit ninagosa negen, ninalawut hago motok welagarek, ati nen he keang hinetawi rogo logolik oko Wanusak motok mea. Keang hinetawi rogo logosak,” tukas Elisabeth dalam bahasa Wamena.

Baca Juga:  Demi Generasi Bangsa, Kabulkanlah Suara Masyarakat Adat Awyu dan Moi!

Yang artinya, “Satu hal yang paling penting dan saya harus sampaikan kepada masyarakat di Minimo, kalian harus mencintai tanah yang kalian miliki. Tanah tidak boleh jual kepada orang lain dengan sembarangan, karena tanah itu mama kita, yang membesarkan kita. Oleh karena itu, kita harus mencintai tanah ini.”

Wakil Bupati Jayawijaya, Marthin Yogobi yang hadir dalam perayaan 69 tahun Injil masuk itu, mengatakan kehadiran Elisabeth dan saudarinya telah mengikuti jejak kaki ayahnya di kampung Minimo. Hal ini membuktikan bahwa sejarah pendaratan Injil pertama di Lembah Balim adalah di Minimo.

“Dengan kehadiran [kedua] putri Bromley yang ada di sini, perayaan hari ini memberikan justifikasi bahwa yang sesungguhnya tempat pendaratan Injil itu di sini – yang memberikan pengakuan sejarah bahwa sesungguhnya saya punya orang tua mendarat di sini [Minimo],” ujar Yogobi.

Untuk itu, wakil bupati berharap agar semua pihak bisa membedakan sejarah pendaratan Injil pertama dan sejarah penyebaran Injil. Karena keduanya memiliki makna sejarah yang berbeda.

Baca Juga:  Aparat Kepolisian Diminta Segera Tangani Konflik Antara Masyarakat Asolokobal dan Wouma

Hitigima adalah sejarah tempat penyebaran Injil, tapi Minimo adalah pendaratan Injil pertama.

“Saya harap konsensus semacam ini disepakati oleh intelektual. Harus duduk bicara. Saya harap pak Camat punya tugas ini harus bicara,” harapnya.

Kepala Distrik Maima, Irman Mulait juga mengatakan, kehadiran Elisabeth Bromley dan saudarinya membuktikan sejarah bahwa pendaratan Injil di Lembah Balim Wamena pertama kali terjadi di kampung Minimo pada 20 April 1945.

“Selama ini ada yang bilang Injil bukan masuk di kampung Minimo. Biasa ada ibadah di beda-beda tempat. Tetapi sudah terbukti sesuai sejarah, apalagi Elisabeth Bromley sebagai anaknya misionari perintis hadir di kampung Minimo dan bermalam di sini itu membuktikan sejarah yang sebenarnya,” tegas Mulait.

 

Pewarta: Onoy Lokobal
Editor: Elisa Sekenyap

Artikel sebelumnyaPasal Makar Dilekatkan Aparatus Negara ke OAP Buat Bungkam Hak Bicara
Artikel berikutnyaTPNPB Umumkan Bantuan Peralatan Perang Kepada Negara Anggota PBB