Tanah PapuaLa PagoPLII dan STMIK Agamua Gagas Pentingnya Literasi di Wamena

PLII dan STMIK Agamua Gagas Pentingnya Literasi di Wamena

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Peace Literacy Institute Indonesia (PLII) di Papua bersama Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Informatika dan Teknik Komputer (STMIK) Agamua Wamena menggelar diskusi tentang pentingnya literasi baca tulis yang dihadiri 60 orang.

Diskusi bertajuk “Ko baca buku, ko tra kosong”, Sabtu (5/8/2023) di kafe Mukoko, Wamena, kabupaten Jayawjaya, Papua Pegunungan, menghadirkan beberapa pembicara. Diantaranya, Marthen Medlama, ketua STMIK Agamua dan penulis buku, Mikaus Gombo, dosen dan pendiri TK Paud Green School Papua, Revin Tabuni, guru SMP Negeri 1 Wamena, dan Ermanus Tabuni, guru SMP-SD Gelok Beam kabupaten Lanny Jaya yang juga pegiat literasi di pedalaman Laapago.

Diskusi yang dimoderatori Maiton Gurik, deputi PLII, menjelaskan tema “Ko baca buku, ko tra kosong” artinya “Kamu baca buku, kamu cerdas atau kamu berisi”, merupakan tema diskusi literasi yang muncul dari situasi dan kondisi kekinian.

Menurut Maiton Gurik melalui keterangan tertulis kepada suarapapua.com, untuk menjawab pentingnya literasi, tentu dibutuhkan kerja sama dan kerja kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mengkampanyekan literasi di Papua khusunya di Papua Pegunungan.

Baca Juga:  Kata Para Tokoh dan Aktivis Terkait Gerakan “All Eyes on Papua”

Ermanus Tabuni, salah satu narasumber dalam diskusi tersebut mengaku, banyak generasi muda yang mau bersaing belajar, tetapi tidak gemar baca bahkan di beberapa sekolah gurunya tidak betah menjalankan tugas, ditambah minimnya buku bacaan.

“Ada seorang anak perempuan yang punya mimpi besar ingin sekolah, tetapi karena belum lancar membaca, terpaksa memilih kawin. Kami juga temukan anak laki-laki di SMP kelas 1 yang tidak bisa baca dan menulis. Hampir sebagian gedung sekolah megah-megah, tetapi tidak disertai ketersediaan buku-buku bacaan. Gurunya banyak yang pemalas masuk mengajar,” tutur Ermanus.

Mirisnya, kata Tabuni, perpustakaan daerah juga hampir tidak ada, meski ada kantor pemerintahan. Fenomena demikian cukup memprihatinkan, karena menurutnya hampir sebagian sekolah yang ada di daerah pedalaman Papua sama adanya.

“Literasi merupakan dasar yang sangat penting dan perlu dikampanyekan terus menerus, baik dari sekolah maupun di rumah. Peran orang tua sangat penting untuk membangun literasi terhadap anak mereka. Minimnya literasi yang juga membuat kita tidak bisa maju dan bersaing dalam berbagai aspek. Karena itu, perlu bangun literasi yang cepat dan kompak,” harapnya dalam diskusi itu.

Baca Juga:  Tamatkan 25 Siswa SSB, Kogoya: Kami Selenggarakan Tiga Program

Marthen Medlama menyebut budaya orang Melanesia lebih pada mendengar ketimbang membaca. Karena itu, ia berharap perlu diberitahukan kepada orang Papua tentang pentingnya membaca dan menulis untuk mempersiapkan diri agar mampu bertahan dalam kehidupan sehari-hari.

“Papua memang wilayah konflik dan penuh krisis masalah kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, kita butuh kerja keras agar semua orang yang ada di atas tanah ini mampu menjaga dirinya sendiri dari konflik dan kekerasan. Orang yang punya kemampuan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang cukup, dia akan mampu menciptakan perdamaian dalam dirinya ketimbang orang yang tidak punya pemahaman yang luas pasti mudah terjebak dan terpengaruh terhadap konflik dan kekerasan,” tuturnya.

Marthen menyarankan, guru atau LSM yang bergerak di bidang pendidikan harus memahami terlebih dahulu budaya orang Papua. Sebab, itu dasar dalam mengadaptasi lingkungan atau tempat mengajar.

Baca Juga:  Pemuda Adat Tekankan Cakada Harus Memihak Masyarakat

“Penguasaan budaya sangat penting bagi seorang guru, tetapi juga pecinta literasi Papua. Bahasa menjadi hal penting dalam membangun literasi terhadap orang lain. Artinya, otak kita harus lebih besar dari otot. Kadang kita OAP lebih utamakan otot ketimbang otak,” kata Mikaus Gombo.

Di negara Finlandia, kata Gombo, literasinya lebih kuat dari Amerika Serikat. Dampaknya terlihat dalam aspek moral. Melihat perbedaan yang sangat jauh, apalagi Indonesia dan Papua, sehingga budaya literasi harus dilestarikan di setiap aktivitas kehidupan masyarakat.

“Di satu sisi, kita krisis keteladanan pemimpin. Krisis kemanusiaan. Krisis sosok panutan seperti Gus Dur. Papua butuh sosok yang gila menciptakan perubahan, tetapi juga berani dalam menciptakan perdamaian. Benar, Papua butuh perdamaian yang permanen. Sebab, orang Papua sudah lama menderita karena konflik politik, juga secara ekonomi,” tandasnya. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

PT MAM Masih Beroperasi, Pemkab Sorong Dituding Sengaja Biarkan

0
“Kami tidak ingin hutan adat kami dihancurkan. Kami minta pemerintah daerah segera bertindak demi melindungi hak-hak masyarakat adat, yakni marga Klesi, Klow, Murpa, Maas, dan Kwanik,” ujar Torianus Kalami.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.