PolhukamHAMSiksa Perempuan Papua Hingga Tewas, Benny Wenda: Bukti Budaya Militer Indonesia

Siksa Perempuan Papua Hingga Tewas, Benny Wenda: Bukti Budaya Militer Indonesia

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Benny Wenda, tokoh perjuangan kemerdekaan Papua di luar negeri, angkat bicara soal kasus penyiksaan dua perempuan Papua di Dekai, kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, baru-baru ini.

Wenda menyatakan, penyiksaan terhadap perempuan Papua sudah biasa dilakukan oleh militer Indonesia.

“Saya sangat sedih mendengar tentang dua ibu West Papua yang diperkosa dan dimutilasi oleh tentara Indonesia di Yahukimo. Perlakuan terhadap dua perempuan ini sungguh tidak manusiawi. Apa yang dimaksud dengan pandangan Indonesia terhadap warga Papua yang tentaranya merasa mampu melakukan hal ini terhadap perempuan kita?,” demikian Benny Wenda dalam website pribadinya.

Dua orang perempuan di Dekai yang dianiaya orang tak kenal (OTK) hingga satunya ditemukan tak bernyawa dan lainnya luka berat hingga dirawat di RSUD Dekai itu diketahui bernama Aminera Kabak (25), dan Ima Selepole (29).

Peristiwa memilukan itu terjadi dalam sehari di tempat yang sama dalam selang waktu dua jam pada Rabu (11/10/2023) pagi di area kebun Lokasi Baru Kilometer 5 ujung jalan Statistik, distrik Dekai, kabupaten Yahukimo.

Baca Juga:  Musdat Sukses, Sub Suku Imu Komitmen Bangkit dari Ketertinggalan

Benny Wenda menyatakan, “Indonesia secara konsisten melakukan mutilasi, penyiksaan, dan tindakan brutal terhadap rakyat saya. Ini adalah praktik umum, bagian dari budaya militer Indonesia. Seperti yang diungkapkan oleh seorang akademisi, penyiksaan adalah ‘cara pemerintahan’ di Papua Barat. Empat warga sipil Papua yang dibunuh dan dimutilasi oleh tentara di Mimika tahun lalu adalah buktinya.”

“Pengungsian massal, pemerkosaan, pembunuhan tokoh agama, pembunuhan anak-anak – semua ini adalah taktik umum dalam perang Indonesia melawan keberadaan rakyat saya. Lima remaja yang dibunuh bulan lalu di Yahukimo menunjukkan bahwa Indonesia bersedia menyasar generasi baru Papua Barat. Generasi muda, bahkan bayi, umumnya menjadi korban pendudukan militer. Kita tidak melupakan ‘Paniai Berdarah’, atau tiga anak sekolah yang dibunuh oleh pasukan pembunuh di Puncak pada tahun 2022.”

Baca Juga:  Lima Wartawan Bocor Alus Raih Penghargaan Oktovianus Pogau

Rentetan kasus penghilangan nyawa di West Papua menurut Wenda perlu perhatian dunia internasional.

“Perhatian dunia selama satu setengah tahun terakhir tertuju pada invasi Rusia ke Ukraina, dan kini beralih ke situasi sulit di Israel-Palestina. Papua Barat sekali lagi diabaikan, seperti yang telah terjadi selama enam puluh tahun terakhir. Berapa tahun lagi kita akan terus menderita penganiayaan dan kematian sebelum dunia menyadarinya?”

“Komunitas internasional harus tahu bahwa mereka tidak mampu lagi menanggung pendudukan Indonesia selama bertahun-tahun. Di Papua Barat, genosida dan ekosida berjalan bersamaan. Kami adalah pengelola hutan hujan terbesar ketiga di dunia, yang merupakan paru-paru dunia. Saat ini, negeri kami sedang dihancurkan oleh Indonesia dan kepentingan korporasi pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dunia harus mendukung perjuangan kami demi kemanusiaan,” bebernya.

Baca Juga:  Pemuda Katolik Papua Tengah Mendukung Aspirasi Umat Keuskupan Jayapura

Tahun ini menurut Benny Wenda, penuh dengan kekerasan dan traumatis bagi masyarakat Papua Barat.

“Masyarakat saya sudah ribuan orang mengungsi, termasuk akibat insiden bulan lalu di Yahukimo dan Nduga. Pembantaian adalah hal biasa. Perempuan muda, seperti Tarina Murib, terus menerus dibunuh. Kami membutuhkan semua orang untuk berdoa bagi Papua Barat: kami sedang menderita akibat terorisme yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia,” ujar pengurus ULMWP urusan Luar Negeri itu.

“Sekali lagi,” lanjut Wenda, “Kami menuntut kunjungan PBB ke Papua Barat, sesuai dengan seruan PIF, OACPS, dan sekarang MSG. Kami juga menuntut agar Indonesia mengizinkan jurnalis dan pengamat internasional masuk ke Papua Barat. Hal ini penting agar masyarakat memahami apa yang sebenarnya terjadi. Indonesia tidak boleh lagi menyembunyikan rahasia memalukan mereka.” []

Terkini

Populer Minggu Ini:

KPU Lanny Jaya Gelar Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Perolehan Suara

0
“Kami harap kepada 39 distrik yang belum pleno di masing-masing distrik, secepatnya diselesaikan untuk selanjutnya bawa hasilnya ke KPU. Ada satu distrik yang sudah kumpul. Kalau batas waktu lewat, pasti KPU dan Bawaslu bersama keamanan akan turun jemput langsung,” ujar Aminastri Kogoya, ketua KPU kabupaten Lanny Jaya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.