Tanah PapuaDomberaiPerjuangan Mama-mama Papua di Sorong Andalkan Kelapa Muda

Perjuangan Mama-mama Papua di Sorong Andalkan Kelapa Muda

SORONG, SUARAPAPUA.com — Mama-mama Papua dari pesisir pantai pulau Soup dan pulau lainnya saban hari menjajakan kelapa muda di Tembok Berlin dan pondok kelapa depan Gereja Imanuel Boswesen. Tidak lain, usahanya untuk mencukupi kebutuhan keluarga dan bertahan hidup di tengah kerasnya kehidupan di kota Sorong, Papua Barat Daya.

Bila ke kota Sorong, rugi jika tidak pernah coba kelapa muda di Tembok Berlin ataupun yang biasa disediakan di depan Gereja Imanuel Boswesen.

Di Tembok Berlin, kita akan ketemu mama-mama muda hingga lansia yang biasa duduk tadah panas di bawah tenda biru dengan harapan kelapanya terjual semua. Hasil dari jualan kelapa muda dibawa pulang untuk belanja kebutuhan sehari-hari, juga buat uang jajan anak.

Tetapi, tahukah anda bagaimana mama-mama dari pesisir berjuang menjual kelapa muda dan berapa pendapatannya maupun manfaatnya bagi kehidupan sehari-harinya dalam rumah tangga?

Mama Elsa Burdam berdiri dibawah tenda birunya sambil kupas kelapa. Berbekal parang tajam dan tangan yang lincah, kelapa muda disajikan kepada para pengunjung yang hendak menikmati segarnya air kelapa muda.

Tahun 2016, Elsa mulai jual kelapa muda ketika Tembok Berlin masih menyisakan jejak keasrian sebelum dijadikan area reklamasi.

Katanya, di tahun itu, ia tidak banyak mengeluarkan biaya transportasi karena kelapa dibawah dari pulau Soup dan perahu speedboat sandar di depan Tembok Berlin.

Berbeda dengan dulu. Sekarang ia harus muat dua kali. Transportasi laut dan darat. Speedboat muat kelapa harus bayar 100 ribu rupiah hingga 150 ribu rupiah. Setelah tiba di pelabuhan Dom, kelapa diangkut lagi menggunakan taksi kuning ke tembok Berlin dengan bayar 50 ribu rupiah. Setiap tiga hari sekali dalam seminggu harus bayar sampah Rp50 ribu. Bayar orang panjat dan petik buah kelapa dengan biaya Rp50 hingga 100 ribu ripiah. Hitung pengeluaran Rp200 ribu-300 ribu.

Baca Juga:  Pemkab Sorong Serahkah SK Pengakuan MHA Tujuh Sub Marga

Jual kelapa buah sekitar 30-40 buah jika laku, sudah pasti akan mendapat sekitar Rp 200-300 ribu. Katanya, kalau jual kelapa 100 buah dan rame pembeli, maka sehari bisa ketiban keuntungan Rp 500 ribu sampai satu juta rupiah.

Saya jual kelapa sejak tahun 2016. Dulu, pengeluaran tra banyak karena bawa kelapa dari Soup langsung sandar di tembok sini. Waktu itu, tembok Berlin belum direklamasi. Sekarang, muat dengan kapal, diturunkan terus pakai mobil lagi. Macam hanya kasih kembali kami pu uang saja. Untung kalo kelapa banyak dan pembeli rame,” kata mama Burdam saat dijumpai suarapapua.com di pondok kelapa muda, Jumat (19/1/2024).

Mama Elsa Burdam sedang kupas kelapa untuk pembeli di Tembok Berlin, kota Sorong, Papua Barat Daya. (Maria Baru
– Suara Papua)

Mama Burdam mengaku menjual kelapa muda dua kali dalam seminggu dapat membantu kebutuhan keluarganya. Seperti uang transportasi dan jajan anak sekolah setiap hari.

Ibu empat anak itu mengaku walau suaminya bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN), namun uang tersebut kurang karena suaminnya hanya staf biasa pada sebuah kantor di kabupaten Sorong.

Kadang disindir tetangga maupun keluarga lain karena dicap kurang menghargai sumainya. Tetapi ia tak pusing dengan cibiran tersebut. Justru tetap berjualan kepala muda di Tembok Berlin.

Baca Juga:  127 Orang di Kapela Yogonima Buta Huruf, Gereja Diminta Prioritaskan Pembangunan SDM

“Orang bilang saya harus jaga nama baik suami. Saya bilang, anak-anak sekolah banyak, harap gaji saja tidak bisa. Anak-anak perlu uang transportasi dan jajan tiap harap, gaji suami tra cukup,” ujar Elsa.

Perjuangan sama digeluti mama Yohana Mambrisa Imbir. Ia menceritakan banyak kisah selama berjualan kelapa muda di pondoknya yang terletak di depan Gereja Imanuel, Boswesen.

Usahanya terus dilanjutkan meski untuk berdiri saja sudah tak tegak lagi. Rambutnya bahkan telah memutih semua. Mama Yohana menghabiskan masa tuanya di pondok kelapa muda. Ia berjualan setiap hari. Mengupas kulit kelapa dengan parang hingga air kelapa siap diminum para pengunjung.

Pondok kelapa muda yang terletak di depan Gereja Imanuel Boswesen. Jika panas, di sinilah tempat bersantai sambil menikmati kelapa muda. (Maria Baru – Suara Papua)

Di pondoknya, mama Imbir dan lainnya menjual kelapa yang dibeli dari orang-orang di pulau seperti pulau Soup, pulau Buaya, dan pulau lainnya di sekitar Sorong. Mereka beli kelapa muda satu buah seharga tiga hingga lima ribu rupiah. Dari pondiknya dijual lagi ke konsumen degan tarif Rp15.000.

“Di sini kami jual setiap hari. Kalo yang di Tembok Berlin itu biasa gantian. Kami beli kelapa dari pulau. Biasa dong jual dengan harga bervariasi. Kami jual 15 ribu karena harus sewa tempat dan bayar sampah jadi,” jelasnya sambil kupas kulit kelapa.

Mereka menyewa tempat di bibir pantai depan Gereja Imanuel Boswesen Rp 10 ribu per kepala dan distor setiap hari. Kemudian, biaya sampah 50 sampai 100 ribu rupiah per tiga hari.

Baca Juga:  Dewan Adat Segun: Tanah Jangan Dijadikan Lahan Bisnis!

Selain kelapa muda, kata mama Imbir, mereka juga jual minyak kelapa dan tikar senat. Minyak kelapa jerigen lima liter dibeli seharga Rp 300 ribu. Kemudian, disharing di botol kecil, sedang, dan agak besar. Harganya dari Rp25 ribu, Rp50 ribu, dan Rp100 ribu.

Sedangkan tikat senat dijual Rp250 ribu dan ada yang seharga Rp500 ribu. Tikar senat mereka pesan sama pengrajin untuk dijual lagi dengan harga berbeda. Contohnya, senat kecil dibeli di pengrajin Rp200 ribu, lalu dijual kembali seharga Rp250 ribu.

“Kami beli minyak, sapu lidi, dan tikar senat lalu jual dengan harga yang beda,” imbuhnya.

Selain kelapa muda, mama-mama juga jual minyak kelapa dan tikar senat. (Maria Baru – Suara Papua)

Mama Imbir mengaku dengan menjual kelapa, ia pun bisa hidup bersama keluarganya.

Walau pendapatannya tidak besar, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di rumah. Menurutnya, kelapa muda adalah tumpuan ekonomi keluarga. Usaha kelapa muda telah dijadikan sebagai satu pekerjaan utama.

Jika kelapanya banyak dan laku, maka bisa beruntung Rp 300-500 ribu. Kelapa pun laku tergantung cuaca kota Sorong. Jika panas, pasti pengunjungnya ramai. Sebaliknya bila hujan, sehari hanya bisa mendapatkan Rp30-50 ribu.

“Kelapa ini sudah yang mama dapat uang untuk penuhi kebutuhan keluarga. Kelapa banyak, cuaca bagus, pembeli banyak, pasti kami dapat lumayan. Satu hari bisa 300 sampai 500 ribu. Kalo hujan, pembeli kurang,” tutur mama Imbir. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Forum Pro Demokrasi Akan Laporkan Pelanggaran Pemilu Distrik Dekai Kepada Bawaslu...

0
“Kemarin kami melihat juga proses rekapan dan pleno yang juga memakan beberapa waktu, sehingga Bawaslu harus bertindak tegas. Karena jadwal pelaksanaan dalam PKPU kan sudah diatur,” ucapnya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.