BeritaFeatureDari Hasil Jual Daun Singkong Hingga Raih Magister Pendidikan di UKSW

Dari Hasil Jual Daun Singkong Hingga Raih Magister Pendidikan di UKSW

SALATIGA, SUARAPAPUA.com — Dukungan kedua orang tua dengan segala keterbatasan nyata dalam seluruh proses pendidikan anaknya sejak sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi. Dibiayai dengan hasil jual daun singkong, perkuliahannya dituntaskan tepat waktu. Bahkan, gelar Magister Pendidikan (M.Pd) pun sukses diraihnya.

Pagi itu, Kamis (25/1/2024), suasana berbeda memenuhi gedung Balairung Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah. Rasa bahagia kental terasa saat upacara wisuda periode 1 tahun akademik 2023/2024 berlangsung.

Pada prosesi wisuda itu, rektor UKSW Salatiga, Prof. Dr. Intiyas Utami, SE, M.Si, Ak melepas 1.095 wisudawan-wisudawati yang terdiri dari program Diploma, Sarjana, Magister dan Doktoral.

Selain menjaga nama baik UKSW, Intiyas Utami berpesan, para lulusan harus menjadi agen perubahan yang kritis, inovatif, dan cerdas dalam mengelaborasi permasalahan nasional maupun global.

Rektor UKSW menekankan, insan creative minority merupakan kaum pemimpin yang mewujudkan golongan kecil, di mana superiorita jiwa dan rohnya karena kekuatan keyakinan, maka sanggup membimbing masa yang pasif menjadi aktif.

“Harapan kami, wisudawan tetap satu hati bersama UKSW serta dapat menjadi bibit cemerlang dan pribadi unggul yang berpegang pada motto UKSW yakni takut akan Tuhan sebagai pangkal pengetahuan,” kata Intiyas.

Anak Petani
Wisuda ini membawa kenangan tersendiri bagi salah satu mahasiswi Program Pascasarjana UKSW yang telah menyelesaikan studi Magister Pendidikan dan diwisuda bersama ratusan wisudawan-wisudawati lainnya. Ia adalah Nanita Tabuni.

Dengan wisuda itu, Nanita Tabuni menambah satu titel baru di belakang namanya, yakni M.Pd atau Magister Pendidikan. Kini lengkapnya, Nanita Tabuni, S.Pd, M.Pd.

Kenangan tersendiri bagi anak kampung itu bisa menyelesaikan perkuliahan. Ia anak petani, berasal dari keluarga tidak mampu. Ayahnya, Anton Tabuni bersama Rosali Arambo hanyalah petani biasa. Kedua orang tuanya tidak mampu membiayai, apalagi anaknya tidak hanya Nanita Tabuni.

Baca Juga:  Pelajar dan Mahasiswa Papua di Salatiga Sukses Hadirkan HIPMAPA

Bapak Anton Tabuni dan mama Rosali Arambo hari-hari habiskan waktu di kebun. Hasil berkebun itulah yang biasa dipasarkan untuk seterusnya dikirim ke anaknya untuk biaya hidup dan biaya pendidikan.

Saban hari, mama Rosali Arambo menjual daun singkong di pasar. Harapannya, hasil jualan bisa membiayai pendidkan anak-anaknya. Termasuk Nanita Tabuni.

Seperti kebanyakan masyarakat biasa, kedua orang tuanya tak mampu dari segi ekonomi. Mereka hidup apa adanya.

Namun, komitmen, kerja keras, doa kedua orang tua membuahkan hasil luar biasa. Ini karena semua anak mereka sekolah dan kuliah. Ada yang masih SD, SMP, SMA dan kuliah S1.

Bersyukur, Nanita Tabuni setelah selesaikan pendidikan strata satu (S1), lanjutkan studi S2. Dan, baru saja wisuda.

Nanita Tabuni, S.Pd, M.Pd, usai wisuda di kampus Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah, Kamis (25/1/2024). (Ist)

Pendidikan, Kunci Sukses
Setuju dengan pendapat Nelson Mandela, “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”. Memang benar, tidak ada jalan pintas untuk sukses. Hanya dengan kerja keras dan belajar sungguh-sungguh, kesuksesan akan terwujud.

Perjalanan seorang anak petani hingga sukses meraih gelar Magister Pendidikan merupakan sebuah prestasi yang menginspirasi dan patut diapresiasi. Kisah Nanita Tabuni adalah bukti kekuatan, ketekunan, kerja keras dalam pencarian ilmu meski menghadapi berbagai tantangan hidup.

Perjuangan Nanita Tabuni melalui proses yang panjang di kampus UKSW Salatiga. Mampu menyelesaikan program studi Magister Pendidikan dengan melewati berbagai situasi hingga di tahap akhir.

Keluarga turut senang karena sebagai anak petani, ia berhasil melewati rintangan dan berhasil mengenyam pendidikan tinggi, yang puncaknya adalah menyelesaikan Magister Pendidikan di UKSW. Tonggak sejarah ini bukan hanya sebuah kemenangan pribadi, tetapi juga simbol harapan dan kemungkinan bagi individu yang menghadapi situasi serupa.

Baca Juga:  Yayasan PNG Memfasilitasi Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus di Dogiyai

Perjalanan akademis putri asli Nduga ini menunjukkan dampak transformatif dari pendidikan. Sebelumnya lanjut program S2, Nanita Tabuni menyelesaikan studi S1 yakni Guru Sejarah di UKSW. Pendidikan dituntaskan hanya dalam waktu tiga tahun dengan raih indeks prestasi kumulatif (IPK) sangat memuaskan.

Selama menjalani proses perkuliahan, dia dikenal sebagai anak yang pintar, tangguh, dan disiplin.

Kesuksesannya hendak menegaskan bahwa terlepas dari latar belakang pendidikan atau sosio-ekonomi seseorang, akses terhadap pendidikan berkualitas dapat menjadi katalisator untuk mobilitas ke atas dan kepuasan pribadi. Pengejaran akademisnya berfungsi sebagai pengingat yang kuat akan potensi yang ada dalam diri setiap individu, yang menunggu untuk dibuka melalui pembelajaran dan ketekunan.

Bapak Anton Tabuni dan mama Rosali Arambo, orang tua Nanita Tabuni. (Ist)

Lebih dari itu, pencapaian Nanita Tabuni menyoroti pentingnya diversifikasi lanskap akademik. Latar belakangnya yang unik membawa perspektif baru dalam bidang pendidikan, memperkaya wacana dengan wawasan yang bersumber dari pengalamannya sebagai anak petani. Keberagaman pemikiran dan pengalaman ini sangat berharga dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih inklusif dan holistik.

Dengan track record yang bagus, Nanita Tabuni bakal direkrut menjadi salah satu dosen di perguruan tinggi terbaik Indonesia yang ada di Tanah Papua.

Pencapaian ini memang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Tetapi dari seluruh perjalanan hingga kemampuan pengetahuan yang dimiliknya, agaknya sangat layak untuk menerima tantangan baru sebagai akademisi.

Di hari wisudanya Nanita Tabuni mendapatkan undangan langsung dari pengurus salah satu kampus terbaik di Papua.

Torehan prestasi ini seperti satu tamparan bagi pemerintah daerah. Faktanya, pemerintah kabupaten Nduga tidak menyiapkan skala prioritas dalam pembangunan, terutama sesuai kebutuhan daerah, yaitu tenaga guru.

Salah satu anak kampung sukses meraih titel Magister Pendidikan, sebaiknya pemerintah buka mata melihat pengembangan sumber daya manusia (SDM) terutama anak-anak negeri yang memiliki harapan dan masa depan.

Baca Juga:  Cegah Krisis SDM Papua, Kuayo: Selamatkan Anak Dari Pengaruh Negatif!

Tidak berlebihan bila muncul harapan agar perlu ada skala prioritas dalam menyiapkan SDM Nduga yang unggul, terampil, inovatif dan kreatif yang siap untuk mengabdi di Nduga nantinya.

Kesuksesan Nanita Tabuni juga menjadi sumber inspirasi bagi calon mahasiswa, terutama anak-anak yang menghadapi tantangan sosial ekonomi serupa. Kisahnya menggenapi pepatah bahwa dengan tekad dan dedikasi, seseorang dapat mengatasi hambatan dan mencapai keunggulan akademik.

Ya, jelas. Ini memberikan pesan yang kuat kepada individu-individu dari latar belakang kurang mampu bahwa keadaan mereka tidak menentukan masa depan mereka, dan bahwa pendidikan adalah alat yang ampuh untuk memutus siklus kesenjangan.

Selain itu, prestasi Nanita Tabuni meneguhkan peran penting sistem pendukung dan bimbingan dalam memfasilitasi keberhasilan pendidikan. Hal ini menyoroti pentingnya program dan inisiatif bimbingan yang bertujuan untuk memberikan bimbingan dan sumber daya kepada siswa dari latar belakang yang terpinggirkan, memberdayakan mereka untuk mengejar dan unggul dalam upaya akademis mereka.

Perjalanan Nanita Tabuni dari seorang anak petani hingga menyabet gelar Magister Pendidikan merupakan bukti kekuatan transformatif pendidikan, pentingnya keberagaman dalam dunia akademis, dan ketahanan jiwa kemanusiaan. Kisahnya menjadi sumber inspirasi, menekankan potensi kesuksesan akademis terlepas dari latar belakang seseorang.

Seturut itu juga mau mengingatkan tentang perlunya sistem dukungan inklusif untuk membina talenta dari semua lapisan masyarakat.

Prestasi yang diraih Nanita Tabuni merupakan sebuah perayaan atas tekad, kerja keras, dan kegigihannya dalam menuntut ilmu pengetahuan. []

Reportase: Narik Yimin Tabuni, mahasiswa Papua asal Nduga di Salatiga

Terkini

Populer Minggu Ini:

Forum Pro Demokrasi Akan Laporkan Pelanggaran Pemilu Distrik Dekai Kepada Bawaslu...

0
“Kemarin kami melihat juga proses rekapan dan pleno yang juga memakan beberapa waktu, sehingga Bawaslu harus bertindak tegas. Karena jadwal pelaksanaan dalam PKPU kan sudah diatur,” ucapnya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.