PendidikanPelajar dan Mahasiswa Papua di Salatiga Sukses Hadirkan HIPMAPA

Pelajar dan Mahasiswa Papua di Salatiga Sukses Hadirkan HIPMAPA

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Anak-anak Papua yang tengah mengenyam pendidikan di kota Salatiga, Jawa Tengah, akhirnya telah memiliki satu organisasi kemahasiswaan baru dengan nama Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Papua (HIPMAPA).

Pembentukan HIPMAPA Salatiga dilakukan dalam musyawarah besar (Mubes) pertama yang dilaksanakan di Salatiga, Jumat, 9 Februari 2024.

“Mubes dilaksanakan setelah melalui satu proses yang panjang sejak tahun 2018,” kata Ikris W. Yamhin, ketua badan formatur pembentukan HIPMAPA Salatiga, Senin (19/2/2024).

Mubes berlangsung dua hari mulai 8 Februari 2024. Dibuka secara resmi oleh Melkior NN Sitokdana, S.Kom, M.Eng sebagai dewan pendiri dilanjutkan sidang tata tertib dipimpin presidium sidang sementara Agustinus Kakyarmabin, Hosmina Wanino dan Erson Kerebea sekaligus menetapkan presidium sidang tetap yakni Lusianus Uropmabin, Keremina Emina Kerebea dan Debi D Okowali untuk memimpin sidang Anggaran Dasar (AD) organisasi.

Jalannya sidang didampingi dewan pengarah Melkior NN Sitokdana, S.Kom, M.Eng dan dewan peninjau Ikris W. Yamhin, SM. Sidang berlangsung sejak Pukul 09.30 hingga berakhir Pukul 23.45 WIB.

Pengesahan tata tertib Mubes ke-1, Kamis (8/2/2024). (Supplied for Suara Papua)

Dalam Mubes tersebut sekaligus menetapkan secara aklamasi dan melantik presiden (Imanuel Tumtikan) dan wakil presiden (Felix C Ndiken) sebagai badan eksekutif oganisasi (BEOR) dan ketua dewan perwakilan wilayah adat yaitu badan legislatif organisasi (BLO) sesuai struktur organisasi yang telah dibahas dalam Mubes.

Dari tujuh wilayah adat di Tanah Papua, ketua-ketua perwakilan wilayah adat yang sudah diisi dalam struktur BLO yaitu perwakilan ketua wilayah adat Animha (Sonny Zezzar Waupon), perwakilan ketua wilayah adat Tabi (Debi D Okowali), perwakilan ketua wilayah adat Lapago (Jawa Luwiya), dan perwakilan ketua wilayah adat Meepago (Pianus Amisim). Selanjutnya tugas presiden dan wakil presiden untuk menyusun perangkat organisasi.

Baca Juga:  Vince Tebay, Perempuan Mee Pertama Raih Gelar Profesor

Kegiatan Mubes ke-1 sukses dengan antusiasme yang tinggi dari para pelajar dan mahasiswa Papua. Hadir dengan memberikan sejumlah gagasan, argumentasi, sanggahan, dan pandangan konstruktif demi eksisnya HIPMAPA.

“Tanggal 9 Februari 2024 menjadi hari bersejarah bagi pelajar dan mahasiswa Papua di Salatiga yang merindukan organisasi mahasiswa proaktif yang mampu menyesuaikan perkembangan arus globalisasi dan dapat membantu perkembangan generasi muda Papua melalui organisasi HIPMAPA,” jelasnya.

Pengesahan tata tertib Mubes ke-1, Kamis (8/2/2024). (Supplied for Suara Papua)

Selain itu, kata Ikris, organisasi nantinya merancang kegiatan-kegiatan yang positif dan setiap mahasiswa berfikir kritis dengan mengadakan seminar dan sejenisnya untuk mengangkat berbagai persoalan tentang Papua.

“Banyak kegiatan dapat dilakukan melalui organisasi ini yang tentunya untuk memperkuat kesadaran akan warisan budaya Papua. Kami harap, kedepan HIPMAPA akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pengembangan diri pelajar dan mahasiswa serta memperkuat hubungan yang harmonis dan kekeluargaan diantara anggota organisasi dengan masyarakat Salatiga,” tuturnya berharap.

Tertera dalam rumusan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi, HIPMAPA setelah resmi menjadi satu organisasi, dapat memfasilitasi interaksi sosial yang positif di lingkungan pendidikan, memperjuangkan kepentingan dan hak-hak pelajar dan mahasiswa Papua di Salatiga, memberdayakan anggota melalui berbagai program pengembangan diri, pelatihan keterampilan, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kegiatan akademik, sosial, dan budaya yang memperkaya pengalaman belajar di kota Salatiga.

Baca Juga:  Generasi Penerus Masa Depan Papua Wajib Membekali Diri

Sebelumnya, di kota studi Salatiga sudah ada organisasi mahasiswa Papua yakni Himpunan Mahasiswa Pelajar Papua Barat (HIMPPAR). Namun sejak 2018, sebagian mahasiswa Papua melihat perkembangan organisasi ini tidak mampu dikendalikan. Juga tidak transparan dan sulit merangkul semua anak Papua di Salatiga.

Lantaran itu, mahasiswa Papua di Salatiga yang tergabung dalam tiga paguyaban: Ikatan Pelajar Mahasiswa Nduga (IPMNI), Ikatan Pelajar Mahasiswa Puncak (IPMAP) dan Ikatan Pelajar Mahasiswa Mimika (IPMAMI) melayangkan protes kepada pengurus HIMPPAR untuk mengadakan reformasi organisasi secara total.

Salah satu point tuntutannya saat itu adalah amandemen AD/ART menyesuaikan kondisi dan kebutuhan pelajar mahasiswa Papua. Tetapi tuntutan tersebut tidak pernah direspons pengurus HIMPPAR. Bahkan tuntutan tersebut dianggap bukan berasal dari anggota resmi HIMPPAR.

Pelajar dan mahasiswa Papua di kota Salatiga menghadiri Musyawarah Besar (Mubes) ke-1. (Supplied for Suara Papua)

Hingga tahun 2023 terus dibiarkan berlarut-larut, Komunitas Mahasiswa Pelajar Aplim Apom (KOMAPO) dan Ikatan Keluarga Besar Pelajar dan Mahasiswa Pegunungan Tolikara (IKB-PMT) beserta berbagai mahasiswa Papua lainnya bergabung menuntut reformasi organisasi HIMPPAR yang diawali dengan amandemen AD/ART, seperti perubahan mukadimah, dan perubahan nama organisasi dari Papua Barat menjadi Papua.

Juga sejumlah usulan. Antara lain, usul adanya pemisahan badan eksekutif organisasi dan badan legislatif organisasi perwakilan wilayah adat, usul adanya lagu mars, usul untuk mengatur pasal tentang logo beserta makna objek dan warna, usul untuk ada pembina dan penasehat, usul mekanisme pengakuan anggota organisasi, usul ketua organisasi bergilir berdasarkan wilayah adat, dan sebagainya.

Baca Juga:  Raih Gelar Doktor, Begini Pesan Aloysius Giyai Demi Pelayanan Kesehatan di Papua

Satu tuntutan lainnya, perlu adanya kepedulian organisasi untuk menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi oleh masyarakat Papua.

Pertemuan demi pertemuan dilakukan pengurus HIMPPAR dengan beberapa paguyuban yang menginginkan reformasi total organisasi, namun tiada itikad baik dari pengurus untuk melakukan transformasi organisasi menjadi lebih transparan, demokratis dan akuntabel tanpa intervensi dari siapapun.

Selanjutnya, sejumlah senior Papua di Salatiga yang dipimpin Melkior NN Sitokdana, Otis Tabuni, Ermenas Nirigi, Ikris W Yamhin, Pinus Nirigi, Binus Wakerkwa, Hani S Sawasemaria, Narik Yimin Tabuni, Yohanes Beanal, Imanuel H Mimin beserta sejumlah pelajar dan mahasiswa Papua mencapai lebih dari 500 orang mengambil inisiatif progresif.

Dengan gerak cepat membentuk panitia pelaksana yang diketuai Steven Wandikbo dan Samuel Beanal beserta panitia lainnya membentuk organisasi baru yakni HIPMAPA Salatiga.

Tanggal 27 November 2023, panitia membuka rapat melalui daring untuk menindaklanjuti rencana pembentukan organisasi dan membentuk sebuah tim atau badan formatur guna merumuskan AD dan ART organisasi. Pertemuan dihadiri perwakilan lima organisasi paguyuban mahasiswa Papua di Salatiga dan secara resmi mengangkat Ikris W Yamhin dan Pinus Nirigi, SP sebagai ketua dan sekretaris badan formatur.

Kerja-kerja badan formatur didukung penuh lima paguyuban dan para senior mahasiswa Papua di Salatiga. Hingga akhirnya sukseskan Mubes ke-1 dengan baik. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Ribuan Data Pencaker Diserahkan, Pemprov PBD Pastikan Kuota OAP 80 Persen

0
“Jadi tidak semua Gubernur bisa menjawab semua itu, karena punya otonomi masing-masing. Kabupaten/Kota punya otonomi begitu juga dengan provinsi juga punya otonomi. Saya hanya bertanggung jawab untuk formasi yang ada di provinsi. Maka ini yang harus dibicarakan supaya apa yang disampaikan ini bisa menjadi perhatian kita untuk kita tindaklanjuti. Dan pastinya dalam Rakor Forkopimda kemarin kita juga sudah bicarakan dan sepakat tentang isu penerimaan ASN ini,” ujarnya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.