Peringatan Hari Pers Dunia Dibuka, Polisi Indonesia Tangkap dan Pukul Wartawan Jubi di Papua

0
389

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com—- Pada hari pembukaan peringatan hari pers dunia di Jakarta, Yance Wenda, wartawan Koran Jubi dan tabloidjubi.com ditangkap dan dipukul polisi Indonesia pada 1 Mei 2017 di Sentani, Papua.

Yance Wenda, wartawan Jubi saat dihubungi suarapapua.com membenarkan dan mengaku bahwa dirinya ditangkap, dipukul dan sempat ditahan selama empat jam di Polres Doyo, Sentani, Papua.

“Saya tidak ikut massa. Posisi saya jauh dengan massa. Tapi polisi tangkap saya. Setelah tangkap saya dipukul banyak kali. Di bagian muka dipukul dengan tangan juga,” ungkap Wenda saat dihubungi suarapapua.com dari Jayapura, Senin (1/5/2017).

Wenda mengatakan, ia ditangkap tanpa mendengar penjelasan dari dirinya. Dan saat ditangkap ia sudah menyampaikan bahwa dirinya adalah wartawan. Namun polisi tidak pedulikan dan tetap bawa ke Polres.

“Saya sedang duduk di dekat kios. Lalu satu polisi berseragam datang dan langsung tanya, kamu bagian dari massa. Saya sudah bilang saya wartawan. Tapi ada polisi satulagidatang, lalu mereka tarik saya, pukul saya dan dibawah ke Polres,” katanya.

Lanjut dia, “Saya dipukul di muka, dipukul di bagian belakang, di kaki dan lengan dengan rotan. Lalu tendang saya di muka. Aibatnya bibir saya pecah, luka dan berdarah. Setelah sampai di pos penjagaan Polres Doyo, saya sudah bilang bahwa saya wartawan. Polisi masih tidak percaya. Mereka tanya ID Card saya. Saya bilang ID Card tidak ada karena masih dibuat,” ungkapnya.

Kata Wenda, polisi memaksa dirnya untuk buka baju dan celana. Setelah itu polisi periksa seluruh isi tas miliknya.

“Saya disuruh buka baju dan celana. Mereka juga periksa saya punya isi tas. MEreka dapat surat tugas saya di tas. Lalusatu polisi berpakaian preman datang. Lalu lihat surat tugas saya lalu dia tegur polisi-polisi yang tahan saya itu. Saya sidtangkap jam 08.30 pagi baru dibebaskan jam 13.14 WP,” ungkapnya.

Dominggus Mampioper, Pemimpin Redaksi Jubi saat dikonfirmasi suarapapua.com membenarkan adanya intimidasi, pemukulan dan penangkapan terhadap wartawannya.

“Betul. Yance itu wartawan Jubi yang pos liputannya di Sentani. Saya sudah dengar bahwa dia ditangkap, ditahan dan diukul polisi di Sentani,” katanya.

Mampioper berharap agar polisi lebih jelih dan meminta supaya polisi lihat baik-baik. Menurutnya, polisi selalu samakan wartawan asli Papua dengan massa demo saat meliput demonstrasi.

“Saya minta polisi jangan selalu lihat dan samakan wartawan dengan massa aksi. Kasus-kasus begini selalu dialami wartawan asli Papua,” katanya.

Wartawan senior Papua, Victor Mambor, melalui akun media sosial faceebooknya mengatakan, dua hari menjelang #WPFD2017 tiga jurnalis diancam dibunuh. Pembukaan #WPFD2017, 1 Mei 2017 satu jurnalis ditangkap dan dipukul polisi saat liput aksi demonstrasi KNPB di Sentani. Ini terjadi di Papua.

“Kebebasan pers di setiap tempat di dunia harus diperlakukan sama. Itulah mengapa tanggal 3 Mei sebagai hari kebebasan pers dunia,” tulis Mambor.

Sementara itu, seperti dirilis Jubi, Kapolres Jayapura, AKBP. Gustav Urbinas yang dihubungi Jubi via telepon membenarkan Yance ikut diamankan. Namun ia menyebut, yang bersangkutan ketika itu diamankan lantaran datang bersama simpatisan massa lainnya yang ingin mengecek rekan-rekan mereka yang terlebih dahulu diamankan di Polres.

“Dia bergabung dengan mereka. Dia tidak menggunakan kartu pers. Setelah diamankan baru dipertanyakan. Setelah sampai di dalam baru dia mengaku wartawan. Kemudian dicek tidak ada id card. Yang ada hanya surat tugas yang discan,” kata AKBP Gustav Urbinas.

Menurutnya, setelah polisi mengetahui Yance adalah wartawan, ia dipulangkan. Kapolres Jayapura juga membantah jika yang bersangkutan mengalami tindak kekerasan dari anggota polisi.

“Tidak ada luka. Dia satu rombongan dengan mereka. Seandainya dia punya tanda pengenal wartawan, kan pasti polisi tahu. Dia tidak menggunakan apa-apa jadi. Dia membaur. Dia tidak menunjukkan indentitasnya sebagai wartawan,” katanya.

 

Pewarta: Arnold Belau