Peringati Hari HAM, 132 Aktivis Ditangkap

0
3436
Aktivis ketika gelar aksi hari HAM sedunia di Jayapura. (IST - SP)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Aksi damai memperingati HAM sedunia pada tanggal 10 Desember 2018  yang dimediasi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) di seluruh Tanah Papua diwarnai dengan penangkapan, pembubaran paksa, pembatasan dan pemukulan terhadap sejumlah massa aksi.

Aksi hari HAM sedunia yang dimediasi KNPB itu dilakukan dengan tema, Papua Zona Darurat HAM dan Demokrasi, Solusi Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri Bagi Rakyat Papua Melalui Referendum.

Ones Nesta Suhuniap, Juru Bicara KNPB  Pusat melalui releasenya ke redaksi suarapapua.com menjelaskan, ada sekitar 11 titik massa aksi yang diblokade dan ada yang dibubarkan paksa aparat kepolisian.

Pergerakan awal massa aksi kata Ones, dilakukan melalui titik di masing-masing daerah pada pukul 09.00 Wpb dan menuju titik kumpul massa seperti di Expo, Perumnas III, Kantor Pos Abe, gapura Uncen Atas, Gapura Uncen Bawah dan beberapa perguruan tinggi swasta lainnya.

“Kemudian massa aksi dari asrama Ninmin di jalan Biak dan Lingkaran Abepura ditahan aparat kepolisian, termasuk menyita sejumlah perangkat aksi dan HP. Massa di Kantor Pos Abe juga dibubarkan dan sejumlah perangkat aksi disita aparat, akhirnya massa kumpul kembali di depan Uncen bawah Abepura. Kemudian massa aksi di Expo Waena dipukul dan sejumlah perangkat aksi dan HP disita polisi,” jelasnya.

Sedangkan massa aksi dari Buper Waena dibubarkan paksa, semua perangkat aksi dirampas oleh aparat dan kordinator aksi sektor Wuka, Hosea Yeimo dan beberapa aktivis KNPB sektor dipukul.

Masa aksi di  Perumnas I, Perumnas II dihadang. Massa aksi dari Kamwolker, Asrama Uncen Unit satu hingga unit enam dan asrama Rusunawa dihadang ketika menuju perumnas III Waena.

Massa aksi dari Universitas Cenderawasih yang dikoordinir dari Fakulas FISIP dan Fakultas Hukum, Ekonomi, MIPA dan Teknik dihadang polisi di Gapura Uncen Atas Perumnas III Waena.

Dengan demikian, massa aksi dari Uncen Atas, Kamwolker dan asrama Uncen bergabung di putaran taksi Perumnas III dan bergerak menuju Abepura, namun tetap saja dihadang aparat di putaran Perumnas III Waena.

“Jadi semua titik massa dihadang dan dibatasi akhirnya masa aksi dari Perumnas III bertahan menduduki putaran taksi Perumnas III.  Massa aksi yang di Uncen Bawah bertahan di Uncen Bawah dan di Linggaran Abe bertahan di Abepura,” kata Nesta sapaan akrabnya.

Sementara katanya, massa aksi di Merpati, Asrama Liborang, USTJ, Uncen Bawah long march menuju Perumnas III, tetap juga dihadang di depan Hola plaza.

Massa aksi di Jayapura. (Istimewa – SP)

Sedangkan massa aksi di Lingkaran Abepura tidak lama lagi bergerak menuju Perumnas III, tetapi tetap saja dihadang di Hola Plaza. Di depan tokoh Hola Plaza, polisi memukul sejumlah aktivis dan massa aksi, lalu massa dihadang dalam toko hola plasa dan pintu masuk toko ditutup polisi.

Yanto Arwekion, Ketua I KNPB Wilayah Timika mengatakan, penangkapan aktivis KNPB dan rakyat Papua terjadi di Timika dan Merauke. Penangkapan di Merauke sebanyak 41 orang, diantaranya 2 orang anak kecil usianya satu tahun dan empat tahun, termasuk 39 orang dewasa. Penangkapan itu terjadi sekitar pukul 9.00 Wpb.

“Pada saat penangkapan ada aktivis KNPB wilayah Almasuh Merauke di pukul aparat kepolisian dan sejumlah barang seperti pamflet, megaphone dan spanduk serta atribut lainnya disita. Sedangkan di Timika, 90 orang ditangkap yang dibarengi dengan pemukulan. Penangkapan dilakukan sekitar pukul 08.00 di Timika  Indah,” jelasnya.

Soal penangkapan, hingga berita ini disiarkan, belum ada konfirmasi dari pihak kepolisian.

Adapun statemen KNPB yang dibacakan Agus Kossay, Ketua Umum KNPB Pusat, yaitu:

  1. Segera kembalikan hak politik bangsa Papua Barat.
  2. Segera tutup semua perusahaan asing yang ada di atas wilayah teritori Papua Barat.
  3. Segera menutup penjualan minuman keras yang merupakan bisnis militer Indonesia di West Papua yang terus memusnahkan orang asli Papua.
  4. KNPB serukan segera mobilisasi umum seluruh tanah air Papua Barat menuju mogok sipil demi agenda hak penentuan nasib sendiri melalui referendum.
  5. Segera tarik militer organik maupun non-organik dari wilayah teritori Papua Barat, Sorong sampai Merauke.

Pewarta: Ruland Kabak
Editor: Elisa Sekenyap