Pastor dan Pendeta Diminta Bicara Soal Kemanusiaan di Papua

587

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Theo Hesegem, Ketua Jaringan Advokasi HAM Pegunungan Tengah Papua menyesalkan sikap gereja yang selalu menghindar dari kasus yang ditimpa umatnya, terutama kasus penembakan di Wamena.

Ia mengatakan, ketika kasus penembakan terjadi, para pendeta dan pastor yang selalu bicara kebenaran di atas mimbar menghilang entah kemana, walaupun yang ditembak maupun disiksa adalah umatnya.

“Kalau di Wamena ada penembakan semua bubar. Pendeta, pastor selalu kotbah terus, tetapi kepada siapa mereka akan kotbah, sebab umatnya ditembak mati? Jadi, mari kita harus lihat kasus-kasus ini secara bersama,” kata Theo Hesegem saat bedah buku “Papua di Ambang Kehancuran” di Wamena, Sabtu (13/5/2017).

Dominikus Sorabut, Sekretaris Dewan Adat Papua (DAP) Wilayah Laapago tegas mengatakan, gereja harus bicara kemanusiaan, jangan gereja sembunyi dibawah ketiak pemerintah. Gereja harus bertindak seperti Yesus, karena gereja ada karena pengorbanan Yesus.

“Gereja harus bicara, jangan sembunyi dibawah ketiak pemerintah. Gereja harus bertindak seperti Yesus, seperti pagar hidup keadilan,” kata Dominikus.

Pater Frans Lieshout mengatakan, dirinya prihatin dengan kondisi Papua saat ini yang semakin hari semakin tidak jelas.

Ia lalu mengakui, sejauh ini hanya ada suara orang Papua yang terus menerus bicara, sedangkan dimana suara orang non-Papua.

“Kalau ada demo hampir semua orang Papua yang berteriak, tetapi suaranya tidak didengar, dimana suara orang pendatang, dimana suara pastor dan pendeta?” kata pater Frans.

Pater Frans mengatakan, jika bicara soal keadilan harus dibicarakan oleh semua orang, baik orang Papua, non-Papua maupun siapa saja yang ada di tanah ini, termasuk para pastor dan pendeta.

 

Pewarta: Elisa Sekenyap