Mahasiswa Papua Dipaksa Pasang Lambang Negara di Asrama Papua Semarang

0
1373

SEMARANG, SUARAPAPUA.com — Mahasiswa Papua penghuni asrama Papua Semarang mengaku mereka diintimidasi, dan beberapa diantaranya dipaksa untuk memasang lambang negara RI, Garuda Pancasila, Kamis (17/8/2017) siang.

Hal ini ditegaskan juru bicara penghuni Asrama Papua Semarang, Adimus Daby kepada suarapapua.com, Sabtu (19/8/2017) siang pada sesi konferensi pers, saat gabungan polisi, tentara, intel, ormas, preman dan warga sekitar memenuhi halaman asrama karena mahasiswa Papua menurunkan lambang negara tersebut dari dinding depan asrama.

Daby menjelaskan kronologinya di hadapan semua penghuni asrama pada sesi jumpa pers sebagai berikut.

Pada Kamis (17/8/2017) pagi, pengurus RT RW setempat sempat datang mengunjungi asrama Papua di Semarang. Pengurus setempat hendak meninjau selokan depan asrama guna dibersihkan. Dari pihak pengurus RT RW setempat, mahasiswa Papua penghuni asrama mendapat informasi bahwa Walikota Semarang hendak mengunjungi asrama Papua.

Siangnya, warga sekitar bersama Karang Taruna dan beberapa orang lainnya datang lagi ke Asrama Papua. Kali ini, mereka langsung membuka pintu pagar asrama, memenuhi halaman, membersihkan Asrama Papua, mirip kerja bakti.

Anak-anak asrama yang kaget karena ribut-ribut di luar, segera keluar asrama, ke depan. “Penghuni asrama kaget karena warga sudah memenuhi halaman asrama. Mereka bersihkan depan asrama, cat pagar asrama,” jelas Daby.

Beberawa menit berselang, datanglah pasukan pengibar bendera dengan pakaian putih lengkap, mereka berjumlah 17 orang. Yang di depan membawa lambang negara RI, garuda Pancasila. Ke-16 lainnya berbaris dua-dua memanjang, masing-masing membawa bendera merah putih di tangan. Warga sekitar, kepolisian, pihak karang taruna, RT, RW, Kelurahan, serta pihak Walikota turut serta dalam rombongan.

Rombongan menuju Asrama Papua. Mereka sudah mengeluarkan ponsel dan merekam, mengambil foto, mendokumentasi prosesi yang bikin mahasiswa Papua penghuni Asrama Papua Semarang semakin kaget dan tidak mengerti.

Satu-satunya orang Papua dalam rombongan tersebut adalah Sam Wakum, seorang asli Papua yang berdomisili di Semarang. “Pak Wakum mengaku diri sebagai pembina asrama, semacam sesepuh bagi mahasiswa Papua di Semarang dan Jawa Tengah,” kata Daby.

Pak Wakum kemudian memaksa beberapa penghuni asrama yang kaget dan mempertanyakan apa tujuan dan kegiatan apa yang hendak dilaksanakan tersebut, untuk membantu pak Wakum memasang lambang negara Garuda Pancasila di dinding depan asrama.

Sebelum dipasang, Pak Camat Candisari, Abdul Harris, secara simbolik menyerahkan Garuda ke Pak Wakum, lalu sama-sama nyanyikan lagu kebangsaan RI, Indonesia Raya. Mahasiswa Papua penghuni asrama yang hadir diam saja tidak menyanyi.

“Semua tatapan mata ke saya. Semua kamera dan foto mengarah ke saya. Dong mau rekam saya pas saya menyanyi lagu itu, saya terintimidasi, saya gugup dan kaku terima semua itu tiba-tiba,” jelas Warpo, mahasiswa Papua yang dipaksa beberapa pemuda beserta Pak Wakum dan Camat Candisari untuk memasang Garuda.

Setelah prosesi pemasangan lambang garuda selesai dan bendera Merah Putih ditanam di halaman Asrama Papua, dan rombongan pengiring telah puas memotret mahasiswa Papua yang bingung dengan semua dan tak mampu bicara karena diintimidasi: dipaksa mengikuti prosesi dengan memperlihatkan senjata.

“Sekitar pukul 15.00 WIB, dorang pu kegiatan di depan asrama su selesai. Jadi, mereka pulang semua,” jelas Daby kepada suarapapua.com.

Sejak saat itu hingga sepanjang tanggal 18 Agustus, beberapa mahasiswa menemukan beberapa orang berpakaian preman yang nongkrong sambil sesekali lewat di depan asrama, mengecek apakah lambang negara yang terpasang beserta bendera masih ada atau tidak.

“Sementara itu, kami mulai kumpulkan anak-anak yang sudah ke asrama paguyuban masing-masing karena libur itu untuk bahas masalah ini. Terus terang kami tidak terima. Tidak ada surat pemberitahuan, kami ditipu dari awal, dan kami tidak ingin barang-barang itu ada di kami punya tempat,” tegas Daby.

Pada malam memasuki tanggal 19 Agustus, mahasiswa Papua mencapai kata sepakat untuk menurunkan Garuda Pancasila dan menurunkan Bendera Merah Putih dari depan asrama.

“Karena barang-barang itu, sudah ribuan nyawa keluarga kami di Papua mati tidak wajar, dan sampai saat ini tidak ada penanganan sama sekali. Kami tidak bangga dengan semua barang-barang itu. Kami sama-sama punya kesimpulan seperti ini jadi saya sampaikan, itu alasan kami,” ungkap Daby.

Siang hari (Sabtu, 19/8/2017), beberapa pengurus asrama pergi ke rumah RT RW setempat guna mengklarifikasi apa sebenarnya yang telah terjadi, sambil hendak menunjukan berita yang telah disiarkan Tribun Jateng.

Mahasiswa Papua merasa ditipu, dipaksa dan tertekan akibat intimidasi dan merasa marah lantaran membaca berita yang dimuat di koran Tribun Jateng dan Radar Semarang edisi 18 Agustus 2017 yang isinya menjelaskan bahwa Asrama Mahasiswa Papua Semarang jadi sarang OPM untuk wilayah Jawa Tengah serta pusat diskusi dan kegiatan-kegiatan lain yang berhubungan dengan Papua merdeka.

“Kami tidak terima karena Tribun Jateng, media nasional yang kredibel itu, menipu publik dengan bilang bahwa di asrama selama Juni-Juli tahun ini ada pengibaran bendera Bintang Kejora. Ini fitnah, tidak benar. Bikin semua yang baca memusuhi kami dengan stigma-stigma yang sudah ada selama ini,” jelas Daby lagi.

Ternyata, di rumah pengurus RT/RW setempat, sudah berkumpul disana anggota kepolisian, beberapa orang dari tentara, anggota karang taruna dan warga.

“Saat itu mereka sedang bicarakan soal lambang garuda dan bendera yang kami semua kasih turun,” kata Daby, yang saat itu, bersama temannya, memutuskan untuk balik saja ke asrama lantaran situasi di situ sudah panas.

Tidak lama setelah tiba di asrama, rombongan polisi, tentara, pihak TR RW, preman, karang taruna dan intel bersama warga sekitar datang berbondong-bondong memenuhi asrama.

“Mereka tadi bilang kita pasang kembali Garuda Pancasila dan Merah Putih. Kami tolak. Dorang kembali pasang dengan sepihak di depan halaman asrama,” jelas Daby.

“Terus terang, kami tidak ingin barang-barang itu ada. Kami jadi korban paksaan, intimidasi, dan kami sudah kasih turun, tapi dorang datang paksa kami lagi untuk pasang. Kami jumlah sedikit. Massa di luar sudah siap serbu kami,” kata Daby.

Pantauan suarapapua.com, dua jendela samping asrama dirusak oleh rombongan yang datang menuntut mahasiswa Papua memasang lagi lambang negara di depan asrama. Anggota kepolisian, pantau media ini, turun dengan senjata lengkap. Asrama seperti terkepung karena semua jalan-jalan masuk sudah penuh, ditutupi massa.

“Pihak Tribun Jateng harus datang ke Asrama Papua, Pak Polisi tolong fasilitasi, datang jelaskan ke kami disini. Kami korban stigma dan sekarang kami sudah difitnah melalui pemberitaan bohong. Konflik horizontal bisa saja terjadi karena hal-hal seperti ini,” tegas Daby.

Sebelumnya, Kamis (17/8/2017) dilansir Tribun Jateng, ketua Karang Taruna Kota Semarang, I Gede Ananta Wijaya ‎mengatakan, kegiatan tersebut merupakan Aksi ‘Garuda Pancasila Akulah Pendukungmu’, yang dilakukan sebagai bentuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Karena sudah sesuai komitmen kami sebagai karang taruna untuk menjaga NKRI khususnya di Kota Semarang,” kata Wijaya.

Ketua Panitia Bulan Kemerdekaan RW IV Kelurahan Candi, Teguh Irawan menjelaskan, ‎pada kegiatan tersebut dilaksanakan kirab merah putih yang diikuti 70 orang pembawa bendera.
“Jumlah peserta itu, mengikuti ‎angka yang tertera pada hari kemerdekaan yakni 17+8+45 yang totalnya 70,” ucapnya.

Peserta kirab itu terdiri dari 20 warga Kelurahan Candi, dan didukung 50‎ orang anggota Karang Taruna Kota Semarang. Peserta kirab membawa bendera dan lambang negara dari balai RW ke asrama tersebut.

Seorang warga Papua, Sam Wakum, yang mengaku sebagai pengasuh Asrama Papua Semarang pada media yang sama menjelaskan, bangunan asrama itu memiliki nilai historis yang tinggi karena bertepatan dengan pembebasan Irian Barat pada tahun 1963.

“Ya memang sudah lama tidak ada (lambang negara). Dari dulu memang tidak dipasang. Tapi kan dalam hati kami mengakui NKRI,” kata Wakum, di sela-sela menerima Lambang Garuda Pancasila, Kamis lalu.

Pewarta: Bastian Tebai