Resensi: OPM, Jurnalis Asing dan Perjuangan Papua

0
2238
Novel Papua karya Aprila Wayar, Sentuh Papua. (IST)

Oleh: Tete Mr.

Judul                 : Sentuh Papua
15000 miles, 153 hari, satu cinta
Penulis              : Aprila R. A. Wayar
Cetakan I          : Januari 2018
Tebal                : 374 halaman
ISBN                : 978-602-0947-72-3
Tahun terbit      : 2018
Penerbit            : BukuKatta Solo bekerja sama dengan APRO Publisher

Suatu ketika di tahun dua ribu sebelas, Rohan melintasi sebuah kawasan Beeklaan, Negeri Belanda, dalam perjalanan pulang ke rumah. Tanpa sengaja ia melihat sebuah gedung kecil di kawasan itu. Oh, itu adalah kantor Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan benderanya yang disebut Bintang Kejora. Tulisannya jelas terbaca pada papan yang berdiri tegak di depannya. Papoea Vereniging. Begitu tulisannya, ditambah alamat pos elektronik (e-mail), yang juga tertulis jelas.

Pikirannya pun dirasuk pertanyaan. Apakah OPM, dan dimanakah Papua itu? Pertanyaan panjang ini bergelantungan di kepalanya. Naluri jurnalistiknya menggelora, keingintahuan dan rasa skeptis. Ia pun mencari cara untuk menemui pimpinan OPM, yang kemudian diketahui bernama Zion, dan menggali banyak informasi soal OPM dan Papua tadi. Pertemuan dengan Zion dan pencarian di internet akhirnya menambah pengetahuannya hingga akhirnya memutuskan untuk ke Papua.

Pulau Guinea bagian barat dan bekas jajahan Belanda (dan Indonesia hingga kini [?]) ini rupanya senasib dengan negeri leluhurnya, Suriname, Amerika Selatan, yang juga bekas koloni Belanda.

Sebagai jurnalis yang berpengalaman meliput wilayah konflik di benua Asia, seperti, Burmies Karen, Rohingya, pengungsi Korea Utara, Falun Gong Cina, Tibet, India dan Nepal, Rohan adalah pribadi tangguh dan tahan banting.

Tahun dua ribu lima belas masehi akhirnya tiba. Jurnalis berdarah India-Suriname ini pun memutuskan untuk mengunjungi Indonesia, khususnya sebuah provinsi otonomi di ujung timur, Papua.

Ia pernah ke Jakarta dan beberapa daerah di Indonesia, tetapi belum pernah ke Tanah Papua. Oleh karena itu, ke Papua baginya ibarat sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.

Ia berharap, karya jurnalistiknya ihwal Papua, seperti sebelumnya saat meliput di Asia, bisa dimuat di Al Jazeera, The Diplomat, Washington Post, AP, Zona Press dan New York Times agar diketahui dunia.

Melalui proses rumit di kantor imigrasi, diinterogasi di tiap bandara di Indonesia lumrah bagi anak tunggal ini. Apalagi ia merupakan orang asing yang memegang visa jurnalis. Tidak mudah.

Waktu terus berjalan, siang segera berganti malam dan pagi, Tanah Papua baginya bukan lagi negeri mimpi, bukan lagi hanya ‘senandung di atas awan’, atau daerah yang tertutup di kancah perpolitikan internasional. Lebih dari itu, Papua baginya menawarkan banyak fakta menarik.

Tanahnya ia sentuh, angin segar dihirupnya, airnya diminum. Potret Papua dari ruang jendela pesawat Lion Air merupakan lanskap yang langka baginya. Tiada duanya di dunia, terutama hamparan hutannya, lekukan sungainya. ‘Surga kecil yang jatuh ke bumi’.

Di Timika ia menyaksikan perusahaan raksasa milik Amerika yang berdiri angkuh. Namanya PT Freeport Indonesia. Keberadaan perusahaan ini ditentang pemilik ulayat sejak puluhan tahun lamanya.

Menentang korporasi raksasa dunia ini tak henti-hentinya dilancarkan pemilik ulayat dan Mama Yosepha Alomang –perempuan suku Amungme kelahiran tahun 1940-an, yang perjuangannya kemudian mendapat penghargaan Yap Thiam Hien tahun 1999 dan Anugerah Lingkungan Goldman.

Kisah tentang Papua tak berhenti di situ. Perjalanan jurnalistik si Rohan terus dilanjutkan ke Jayapura, sebuah pusat pemerintahan dan politik yang semasa pemerintahan Belanda dinamai Holandia.

Di Jayapura, Rohan menginap di penginapan milik gereja di kawasan Padang Bulan, Distrik Heram –sekitar lima ratus meter dari kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Abepura.

Ia melapor ke Kepolisian Sektor Abepura dan Kota Jayapura, tempat mana ia menyaksikan kebobrokan, kecongkakan, dan sejumlah tahanan di ruang sel tengik dan sempit. Selain polisi, petugas imigrasi, ia menemui eks tahanan politik, korban pelanggaran Hak Asasi Manusia, aktivis, jurnalis lokal, hingga cinta yang mengantarnya ke bahtera rumah tangga.

Pengalaman demi pengalaman dialaminya, fakta demi fakta didapatnya, cinta membuat jurnalis asing ini semakin bersemangat dan betah. Ya, cinta. Cinta pada Amelia, perempuan Melanesia Papua yang juga sebagai jurnalis dan novelis, serta cintanya pada kaum tertindas di Tanah Papua.

Setelah beberapa hari di Jayapura, Rohan bertolak ke Vanimo, sebuah kota kecil di Provinsi Sandaun, Papua Nugini atau PNG. Di sana ia menemui Richard Yoweni, yang dihormati sebagai Bapak Bangsa Papua dan pimpinan OPM di hutan rimba perbatasan RI-PNG.

Menemui Bapak Yoweni tak berjalan mulus. Ia kerap diinterogasi, disangsikan keberadaannya, dicurigai, bahkan ditipu intrik Zion yang bermukim di Belanda.

Namun, Rohan akhirnya bisa menemui dan mewawancarai Richard Yoweni setelah melalui proses yang alot, rumit, dan pengamanan militer OPM berlapis-lapis (hlm. 85-131).

Setelah itu, ia tersenyum lebar dan memelukku semua anak buahnya tidak ada yang bersuara karena tegang melihatku memeluk Yoweni tetapi tidak kuindahkan. Yoweni bukan milik mereka sendiri, tetapi milik semua orang Papua dan mereka yang bersimpati pada perjuangan Papua (hlm. 121).

Ada-ada saja romantisme dan kisi-kisi cerita yang tergambar usai mewawancarai Richard Yoweni. Bayangan sosok Amelia, si perempuan mungil berkaki kecil membuat darah cinta dan perjuangan Rohan mengalir kencang.

Sosok sederhana, cerdas, komunikatif dan aktivis fasih berbahasa Inggris ini beruntung ia dapatkan. Dari Belanda, ribuan mil selama ratusan hari, cinta itu ada dan menyata kini dan di sini: Papua.

Rohan kembali ke Jayapura. Lalu ke Tanah Merah bersama Amelia. Dua sejoli ini selalu bersama di tiap sesi liputan, terutama karena konteks liputan berbahaya dan menyangkut perjuangan untuk sebuah negara yang berdaulat: West Papua. Rohan beruntung mendapatkan cinta Amelia. Begitu pun Amelia.

Mereka menjalankan kisah cinta dalam kesederhanaan, makan seadanya, penginapan murah meriah, dan dana seadanya dari hasil penjualan karya jurnalistik Rohan. Ya, Amelia adalah alasan Rohan untuk menetap lebih lama dari perkiraan sebelumnya di Papua.

Daya pikat perempuan Melanesia ini punya kesamaan dengannya, tidak hanya pada pekerjaan, tetapi juga dalam banyak hal, seperti masa lalu yang kelam, hidup di daerah eks koloni Belanda, mandiri dan sederhana dalam banyak hal.

Cinta yang kokoh itu seiya-sekata dan bersama dalam perjalanan selanjutnya untuk menemui Big Fish atau tokoh penting Papua lainnya. Hingga menyeberang ke Tanah Merah, sebuah kawasan pesisir Jayapura, tempat mana markas OPM ada.

Novel Sentuh Papua merupakan novel ketiga karya Aprilla R.A. Wayar. Penulisan novel ini selesai setelah bergulat melawan penyakit jantung (cardiomyopathy) yang menggerogotinya sejak tahun 2015.

Dalam dua novel sebelumnya, Mawar Hitam Tanpa Akar (2009), dan Dua Perempuan (2013), penulis menitikberatkan pada kisah tokoh utama perempuan. Kali ini beda meski sama-sama bercerita tentang Papua. Pria (jurnalis asing) dengan sentuhan cinta dan keterlibatan tokoh perempuan.

Sentuh Papua dibagi dalam tiga bagian, yaitu: perjuangan OPM dan faksinya, jurnalis asing (Rohan dan cintanya), serta perjuangan bangsa Papua dengan lika-likunya.

Alur cerita dalam novel ini pun maju, dan sedikit mundur, terutama mengenang kisah-kisah kelam para tokoh di dalamnya. Tokoh-tokoh dalam novel ini –entah secara kebetulan atau tidak– adalah tokoh riil.

Pembaca juga digiring untuk kembali pada pengalaman tragis, kolonialisme, sadisme, rasisme dan kebejatan militer Indonesia (hlm. 130). Penulis menggambarkan setting dan karakter yang nyata, dialog yang sederhana, fakta empiris-historis, dan mimpi Papua yang lebih baik. Tak luput juga digambarkan kisah-kisah kelam para tokoh, terlepas dari kekeliruan teknis dalam penulisan, istilah, kata, dan hal-hal lainnya.

Meski terlalu dini untuk disebut memoar, novel Sentuh Papua, adalah petualangan panjang jurnalis asing, cinta yang sederhana dan unik, serta ingatan penderitaan.

Siapapun yang tertarik tentang Papua dan kompleksitas persoalannya, akan sangat dianjurkan untuk membaca novel ini terlepas dari kekeliruan teknis dan hal-hal lainnya. Bahwa peduli pada orang Papua dan segala macam persoalannya, tak cukup hanya beretorika di awang-awang, datang sebentar lalu menghilang, tetapi datang, lihat, saksikan, lalu berbuat (aksi) –berkarya sesuai talentanya– untuk menjadikan Papua lebih baik, bebas, dan hidup tanpa dibayangi rasa takut dan trauma.

Penulis mengutip dialog dan refleksi tokoh Rohan: “Aku sadar, apa yang Aku lakukan tidak akan mengubah banyak hal, tetapi satu yang pasti, Aku akan membantu semampuku. Masyarakat internasional hari ini menghadapi banyak persoalan yang lebih kompleks dari apa yang dialami Papua saat ini. Negara-negara konflik lain seperti Syria, Iran, Irak, Somalia, Yaman, negara-negara Timur Tengah lainnya menarik perhatian mereka dan mereka tidak tahu apa-apa tentang Papua, ditambah lagi larangan masuknya jurnalis asing ke Papua membuat penderitaan rakyat Papua menjadi lengkap. Mereka mungkin juga tidak tahu kalau Papua itu ada. Ini akan menjadi pekerjaan berat bagiku, kataku dalam hati. Apa yang dilakukan oleh aparat Indonesia dari cerita Soni sudah berada di luar batas kemanusiaan dan logika.” (hlm. 130).

Revolusi memang belum selesai, demikian kata Richard Yoweni kepada Rohan, belum pernah menjawab sesuatu yang konkret (hlm. 106). ***

print