Asa dari Kampung Nafri Lahirkan Pemain Bertalenta

0
366

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Seperti di daerah lain, menjadi pesepakbola handal adalah impian yang sedang diidamkan ratusan anak di Kampung Nafri. Mereka secara terjadual ikut latihan bermain bola sambil dibina mental generasi muda, dengan harapan agar kelak impiannya bisa terwujud.

Tidak sekadar bisa menendang bola di lapangan hijau. Memiliki motivasi dan semangat yang tinggi merupakan syarat mutlak bagi seorang pemain handal. Selain, tentunya latihan serius dan sejumlah syarat penting lainnya agar kelak ikut jejak kakak-kakak mereka, Yohanis Tjoe, Yustinus Pae, Victor Pae maupun mantan pemain Persipura era 80-an, Herson Awi, yang adalah putra asli Nafri.

Anak-anak Nafri menyadari akan hal ini, sehingga tiap sore datang ke lapangan dengan motivasi agar nanti pada saatnya bisa bermain bersama tim besar seperti Persipura Jayapura.

Di Kampung Nafri yang terletak di ujung timur Distrik Abepura, Kota Jayapura, Papua, anak-anak mengikuti latihan bersama para pelatih. Sebut saja, Chris Leo Yarangga. Mantan pemain Persipura di era 80 hingga 90-an ini mengawali langkahnya selepas “gantung sepatu” dengan membuka sekolah sepakbola (SSB).

Wadah bagi anak-anak digembleng itu ia beri nama SSB Nafri.

Lukas Tjoe, tokoh adat Nafri yang juga pecinta sepakbola, menjelaskan, Chris Leo Yarangga adalah sosok utama lahirnya SSB tersebut.

Kata Lukas, Chris sebagai warga Nafri, apalagi istrinya orang Nafri, dengan cerdas melihat apa yang harus dia buat demi anak-anak Nafri.

“Ipar Chris Leo Yarangga mau supaya anak-anak di sini bisa dilatih dan harapannya bahwa kami punya anak-anak ini nantinya bisa bermain di Persipura,” tutur Lukas.

Lukas Tjoe adalah ketua badan pengurus harian SSB Nafri. Juga manager SSB Nafri.

Chris tidak sendirian. Ia kemudian melatih para bocah asal Nafri bersama beberapa mantan pemain Persipura. Antara lain, Ardiles Rumbiak, Ridwan Bauw, dan Abdul Manap.

SSB Nafri dibentuk oleh Chris Leo Yarangga pada tanggal 12 Mei 2012. Sejak pembentukannya, sudah cukup banyak anak Nafri digembleng para pelatih.

Tidak hanya dari Nafri, kata Lukas, anak-anak dari Abepura, Koya bahkan Holtekamp dan Arso, datang bergabung dengan SSB ini.

“Kami berterimakasih karena sejak SSB ini dilahirkan, sudah banyak anak ikut berlatih. Sekarang sudah enam tahun berjalan,” ucapnya.

Selain marga asli dari Nafri, di kampung ini terdapat anak-anak asal luar Jayapura, bahkan Papua, yang memang sudah menetap di sana. Mereka berasal dari Wamena, Biak, Serui, Jawa, dan Buton.

Lapangan Milik Masyarakat Adat Nafri

Anak-anak tersebut biasa menjalani latihan di tanah lapang yang boleh dikatakan cukup untuk ukuran sekolah sepakbola.

Lapangan tersebut, menurut dia, dihibahkan oleh masyarakat adat setempat mengingat pentingnya tempat latihan bagi generasi masa depan Papua. Meski awalnya memang kurang terawat, tetapi kini sudah layak dan memenuhi standar sebagai lapangan sepakbola.

“Waktu itu masyarakat Nafri hibahkan ke pemerintah desa untuk selanjutnya dijadikan sebagai tempat latihan bagi anak-anak kami.”

Lukas berharap, dengan latihan rutin tersebut pada akhirnya dapat melahirkan bibit-bibit muda potensial. “Kami semua di Kampung Nafri menginginkan perubahan di bidang pembinaan sepakbola. Tentunya dengan hadirnya SSB Nafri,” tuturnya.

Bukan tanpa bukti. Ia mencacat beberapa anak Nafri sudah bersinar di lapangan hijau. Sebut saja yang terakhir adalah Israel Wamiauw. Pemain Persipura saat ini. Ia anak asli Nafri.

“Beberapa anak dari Nafri bermain di tim liga dua dan tiga,” imbuh Tjoe, sembari menyebut prospek di masa depan akan lahir banyak pemain handal dari kampung Nafri.

Kantongi Badan Hukum

Lantaran adanya potensi yang besar, apalagi ditunjang tekad dari para pelatih, pihaknya telah “memagari” SSB ini dengan badan hukum tetap. “Kami sudah urus badan hukum, dan secara resmi sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia,” ucap Tjoe.

Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia Nomor AHU-0001698.AH.01.07. Tahun 2018 tentang Pengesahan Pendirian Badan Hukum Perkumpulan Sekolah Sepak Bola Nafri. Ini setelah sebelumnya sudah kantongi Akta Pendirian nomor 19 tanggal 7 Februari 2018. Akta tersebut dibuat di hadapan Notaris Syahrul Kahir, SH, M.KN.

“SSB Nafri sudah miliki dasar hukum. Ini sangat baik. Jajaran manajemen sudah berpikir jauh ke depan untuk membuat SSB yang baik dan benar,” kata Yarangga.

Dengan adanya dasar hukum ini, Chris optimis, kedepan manajemen bisa mendapatkan dukungan dan bantuan dari pemerintah daerah melalui dinas-dinas terkait.

“Ya, kita bisa bekerja sama dengan pemerintah daerah bahkan dinas-dinas terkait. Kalau ada bantuan, tentu semua itu bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Manajemen selanjutnya melaporkan status SSB Nafri ke PSSI maupun Kementerian Pemuda dan Olahraga. “Supaya keberadaannya resmi. Dan juga supaya bisa mendapat bantuan dari kedua institusi itu.”

Lanjut Chris, dengan badan hukum tersebut, SSB rintisannya resmi seperti yang ada di daerah lain. Hal ini seturut arah industri sepakbola di masa kini yang kemudian diharapkan dapat menghasilkan bibit muda potensial.

“Nantinya pemain muda yang sudah jadi, kita tinggal atur soal nilai kontrak dengan klub yang mau pakai tenaga adik-adik ini,” imbuh mantan striker Persipura dan Timnas Indonesia.

Hanya dengan cara itu, ia yakin SSB bisa bertahan dan tetap semangat demi memproduksi pemain-pemain berbakat yang siap direkrut oleh tim Liga 1, 2, 3 dan lainnya.

Ubah Citra Negatif

Lukas akui, Nafri di mata publik kerap dicap “daerah merah”. Kehadiran SSB yang dipelopori Chris Leo Yarangga, kata dia, hendak mengubah pandangan miring tersebut.

“Kita mau rubah pandangan buruk dari orang bahwa Nafri biasa terjadi banyak persoalan sosial, seperti pemalangan, keributan akibat menenggak minuman keras, dan lainnya. Itu yang kita fokuskan, supaya bina anak-anak lebih baik dan bersyukur kalo suatu waktu berhasil menjadi pemain terkenal,” ungkap Lukas.

Keberadaan sekolah sepakbola ini hingga kini meski secara swadaya, Tjoe berharap tidak mematahkan semangat untuk terus eksis demi program pembinaan pemain usia dini.

Ia pun tak lupa ucapkan terima kasih ke Pemkot Jayapura yang menaruh perhatian dengan membuat pagar di lapangan, tempat anak-anak biasa latihan pada sore hari.

“Berharap juga ada perhatian dalam bentuk lain di waktu mendatang,” ucapnya sembari mengakui bahwa hingga kini memang pihaknya selalu terkendala dengan faktor pendanaan.

Hingga sejauh ini diakuinya belum ada sponsor bagi SSB Nafri. Awalnya memang mau supaya layak sebagai sekolah sepakbola di daerah lain yang sudah profesional dengan ketersediaan dana pembinaan.

Sumbangan dari anak-anak, menurut dia, tidak cukup buat kelola sekolah sepakbola tersebut. Tidak hanya uang transportasi bagi para pelatih, dana untuk hal lain pun biasa kesulitan didapat. Misalnya ketika ada turnamen kelompok umur, biaya transportasi, makan dan minum, bahkan biaya lainnya.

“Kami tidak bisa paksanakan anak-anak untuk sumbang karena kondisi kami di kampung,” tandasnya.

Artho Awinero, warga Nafri, akui kehadiran SSB ini cukup menarik anak-anak ikut latihan selepas jam sekolah.

Sebagai pria asli Nafri, ia mengaku bangga pada pendiri, manajemen dan pelatih yang setia mendampingi para bocah berlatih.

“Apalagi boleh dikatakan gratis anak-anak ikut latihan, tidak ada pungutan satu sen pun. Jadi, memang ipar Chris kerja karena sangat cinta dengan generasi Nafri dan sekitarnya,” kata Awinero.

Bola, kuns dan beberapa sarana latihan, disediakan Chris. Bahkan bekas dari tim sepakbola PON Papua karena tidak dipakai lagi, Chris bawa ke Nafri.

Menariknya, Chris dan Abdul Manap yang juga pelatih SSB Nafri, pernah secara bersama-sama tangani tim sepakbola Papua di PON XIX Jawa Barat. Hampir tiga bulan lamanya, mereka dua tak bisa temani anak-anak SSB. Karena harus melatih tim PON Papua.

Meski begitu, latihan tetap digelar dibawah kendali asisten pelatih dan kakak-kakak senior. “Waktu itu anak-anak tetap datang dan latihan seperti biasa,” katanya.

Terus Memberi Motivasi

Lukas Tjoe bersama warganya berharap suatu kelak Nafri menjadi lumbung pemain handal. Sepakbola sebagai satu cabang olahraga yang paling menarik dan diminati, tentu saja ia ikut berbangga bila anak-anak Nafri tampil di lapangan hijau membela klub sepakbola di tanah air.

Ia pun selalu memberi motivasi kepada peserta SSB Nafri agar tidak mudah terjerumus dengan hal-hal negatif karena hanya akan membenamkan talenta bermain sepakbola.

Dengan bakat dan kemampuan menguasai teknik dasar permainan sepak bola, Lukas juga sarankan kepada anak-anak untuk menjaga fisik tetap prima. Fisik yang proporsional, kata dia, satu faktor penting turut menunjang performa seorang pemain. Apalagi pada tahap pembentukan di usia dini.

Selain tentunya latihan yang benar dan itu dilakukan secara rutin dan serius. Latihan juga mesti secara cerdas dengan tetap mengikuti komando dari coach. Baik saat bermain individu maupun tim, mesti seimbang.

Faktor penting berikutnya, kepercayaan diri yang besar. Ada kalanya pelatih marah karena dianggap salah saat latihan atau bermain. Bahkan ditegur keras. Atau diteriaki pemain lain dan oleh penonton. Itu bisa saja pengaruhi mental. Sebenarnya ini hal lumrah. Makanya, dari awal perlu punya mental dan kepercayaan diri yang tinggi dan kuat.

Pendapat para pakar, sebagaimana dikutip dari olahragapedia.com edisi 21 November 2017, sukses akan dapat diraih dengan kombinasi tiga faktor yakni kepercayaan diri, kerja keras/cerdas, dan ketekunan demi menjadi pemain sepak bola paling baik.

Aspek ketujuh adalah taktik yang bagus. Cara bermain yang baik jelas akan lebih cerah masa depannya dalam karier di dunia sepak bola. Taktik merupakan salah satu acuan dari pelatih ketika adakan seleksi atau pemilihan pemain.

Chris bilang, faktor disiplin juga satu syarat penting jika seseorang ingin mewujudkan impian menjadi pesepabola yang baik, handal dan profesional.

“Harus disiplin. Soal rajin dan tekun berlatih, bekerja keras, memiliki taktik yang baik, serta mempunyai fisik dan mental yang bagus tanpa kedisiplinan itu akan merugikan diri sendiri sekaligus tim,” bebernya.

Menjadi pesepakbola handal dan profesional, ia tegaskan, jangan karena motivasi uang dan popularitas. Sebab, bisa pupus kariernya. “Pemain perlu memiliki gairah dan dorongan yang besar untuk bermain secara profesional. Bukan termotivasi akan materi, uang maupun ketenaran,” ujarnya.

Kepada anak didiknya Chris terus menerus beri motivasi. Selain bermain sepakbola, anak-anak juga dibina mental dan spiritualnya. Sebab, akhir-akhir ini di Tanah Papua sudah sulit bendung hal-hal negatif. Apalagi di lingkaran anak muda, banyak pengaruh buruk. Seperti kenakalan remaja, minuman keras, aibon, seks bebas, dan banyak aktivitas negatif yang membahayakan nyawa dan masa depan mereka.

“Kami latih dan bina mental. Itu fokus dari SSB Nafri,” ucapnya seraya berterimakasih kepada masyarakat khususnya semua keluarga yang turut mendukung kegiatan yang dijalankan selama ini.

Dukungan tersebut diharapkan terus berlangsung demi mewujudkan impian bersama, mencetak generasi handal di lapangan hijau, tetapi juga di tengah keluarga dan masyarakat umumnya.

Asa menggapai impian mencetak pesepakbola profesional terus dilanjutkan. Berbekal kemampuan dasar yang dimiliki para bocah secara alamiah dan digembleng melalui penerapan teori dan praktik, Chris dan teman-temannya berharap, kelak mereka akan bersinar bersama tim sepakbola besar. Meski diakuinya sangat minim dana, sarana dan prasarana.

Alam Papua diyakini sebagai faktor besar yang membentuk speed dan power, yang tumbuh melalui kebiasaan hidup sehari-hari secara turun-temurun, merupakan modal utama dengan tentu saja dipoles dalam program latihan sepakbola modern. Bukan tak mungkin, entah cepat atau lambat, misi awal pembentukan SSB Nafri bakal terwujud.

Pewarta: CR-4/SP

Editor: Arnold Belau