Proyek Saya: Monumen Kematian

0
400

Oleh: Johannes Supryono)*

Para pembaca, saya menyiapkan sebuah proyek sederhana tapi bermakna. Nama proyeknya “monumen kematian”. Seperti monumen atau prasasti pada umumnya, monumen ini hendak “mengabadikan” ingatan akan kematian-kematian yang tidak dikehendaki yang sudah terjadi di Papua. Saya juga pikir, monumen ini menjadi media merawat dan mewariskan ingatan sejarah kepada generasi yang lebih muda.

Kalau ada yang bertanya kepada  saya apa perlunya monumen ini, akan saya jelaskan demikian. Sebagian kematian di Papua tidak alamiah. Bukan mati karena umur lanjut. Ada yang mati karena dibunuh. Berapa jumlah persisnya saya tidak tahu dan belum mencari tahu. Sebagian kematian lain terjadi karena kelalaian manusia. Padahal, seandainya tidak begitu, kematian-kematian itu belum akan terjadi. Barangkali kata “kelalaian” kurang persis, lebih pas adalah “ketidakpedulian”. Lalu ada kematian yang terjadi karena sikap heroik atau kepahlawanan. Ini juga jumlahnya saya tidak tahu. Tidak ada dokumen yang mencatat kematian-kematian itu. Kalau ada yang mengingat, kelompok pengingatnya pun terbatas.

Melalui monumen ini, saya ingin menuliskan nama orang-orang yang sudah mati dan sekelumit kisah yang menyertai kematiannya. Kalau masih ada fotonya, wajib juga dipasang. Hasilnya, kita akan memiliki dokumentasi publik yang bisa diakses oleh siapapun. Pengetahuan tentang mereka akan menyebar. Tidak hanya saya, orang-orang lain juga bisa menambahkan daftar kematian yang belum dicatat. Kematian-kematian yang selama ini tersembunyi bisa diungkap ke publik. Berikutnya, kelompok pengingatnya akan menjadi lebih luas.

Saya kira kalau kelompok pengingatnya bisa lebih banyak, kematian-kematian itu akan dapat juga dimaknai oleh komunitas pengingatnya. Boleh jadi, seperti saya harapkan, monumen itu menjadi faktor transformatif  bagi orang Papua . Sebagai benda mati, monumen itu tidak bergerak. Tetapi, pesan-pesan yang disematkan padanya bisa memiliki daya ubah. Soal berubahnya bagaimana itu sangat bergantung pada komunitas pengingatnya.

Misalnya, nama 55 warga Yahukimo yang tewas karena busung lapar (2005); nama 156 warga Lembah Kamuu di Kabupaten Dogiyai yang mati karena wabah kolera (2008); 40 warga kampung Maya, Mapa, Sanepa, dan Bilai di Intan Jaya yang mati karena malaria tropika (2010); 61 warga Yahukimo yang mati karena wabah yang membuat mereka sakit perut (2013);  41 anak balita di Mbua, Kabupaten Nduga yang meninggal karena infeksi saluran pernapasan; dan 72 orang di Asmat meninggal di akhir 2017-awal 2018 karena campak dan gizi buruk, akan menggoreskan pesan penting betapa layanan kesehatan di Papua amat menentukan hidup mati kita. Dari kejadian-kejadian di atas ini ada 425 nama orang mati karena sakit.

Daya transformatif yang saya maksud dari monumen itu adalah agar kejadian-kejadian yang bisa diantisipasi tidak berulang. Bencana kemanusiaan yang sebagian dipengaruhi oleh perbuatan manusia tidak perlu terjadi. Monumen dimaksudkan agar jalan sejarah sebuah bangsa berbelok ke arah baru. Tidak sekadar suatu bentuk fisik, monumen menjadi sebuah tekad untuk menghentikan suatu arus sejarah dan memulai yang baru.

Kita sudah banyak mengerti bahwa bencana alam, yang sungguh-sungguh karena fenomena alam seperti gempa bumi dan Tsunami, banyak dipelajari dan diteliti upaya-upaya mitigasinya. Tujuannya, dampaknya tidak akan sangat mematikan.

Selain 425 nama itu, saya harus mulai mendaftar nama-nama pejuang kemanusiaan di Papua yang sudah berpulang. Saya akan menaruh nama Mgr. Herman Muninghoff antara lain. Robert Jitmau juga. Olga Hamadi, pengacara perempuan itu, sudah pasti. Oktovianus Pogau juga ada di situ. Ya, Arnold Ap. Juga George Adi Tjondro. Siapa lagi. Siapa lagi. Silakan Anda menambahkannya. Tentu masih banyak. Jangan lupa untuk menambahkan narasi tentang hidup dan matinya.

Korban pelanggaran HAM dalam tragedi Biak berdarah, Wasior berdarah, Nabire, peristiwa 14 Desember di Paniai, Timika, Wamena, dan tempat-tempat lain harus dituliskan. Yang meninggal sebagai pengungsi di PNG atau di tempat lain juga.

Apalagi yang masih harus direncanakan? Saya harus merancang ritual peringatan kematian itu. Gereja Katolik punya tradisi untuk mengenang dan mendoakan semua orang yang sudah meninggal pada 2 November. Dalam misa kudus, orang-orang yang masih hidup akan menyertakan nama-nama mereka dan foto-foto mereka yang sudah meninggal. Pada hari itu, orang-orang terkasih ini dikenang kembali dan didoakan. Saya berharap bahwa peringatan kematian orang Papua ini bisa menjadi upacara di seluruh Papua. Pada hari itu, orang-orang dari berbagai kelompok akan berkumpul dan melakukan upacara pengenangan serta barangkali juga pesan-pesan pokok untuk menghentikan kematian yang tidak seharusnya.

Saya mengusulkan peringatan kematian itu dirayakan setiap tanggal 5 Februari.  Pertama, untuk tidak menambah hari libur baru di Papua. Toh sudah banyak hari libur yang lain. Kedua, pada hari itu kita memperingati Injil masuk Papua. Supaya Injil, warta kebangkitan dan kegembiraan, langsung ‘nyambung’ dengan sejarah Papua, baik diupayakan pendekatan-pendekatan baru yang lebih kontekstual. Usul saya ini masih perlu dibahas. Setiap keberatan atau dukungan layak mendapat apresiasi yang setara. Pada hari itu, orang-orang akan membaca nama-nama orang yang ada di monumen itu. Pada kala tertentu mereka masih akan menambahkan nama-nama baru.

Saya tidak tahu kapan proyek monumen kematian ini bisa diwujudkan. Juga saya tidak tahu persis siapa yang akan melakukannya. Sebatas yang saya bisa adalah memberikan tawaran ini.

Di samping itu, saya tidak yakin pemerintah akan tergerak membangunnya. Maklum, kalau monumen ini sampai berdiri, setiap waktu orang akan diingatkan betapa pemerintah tidak becus memberikan layanan kesehatan yang berkualitas kepada rakyatnya. Nama anak-anak dari Nduga, Yahukimo, Asmat, Dogiyai, dan Intan Jaya itu dan foto-foto mereka yang menyandang sengsara (gizi buruk, campak, busung lapar,kolera) sehingga mati sebelum waktunya akan tampil menjadi gugatan yang terus menghantui pemerintah. Suara-suara korban ini akan terus menagih janji tentang Papua sehat; tentang layanan kesehatan yang berkualitas.

Barangkali lebih aman dan tidak merisaukan hati bagi pemerintah adalah membangun patung Yesus yang memberi berkat bagi Papua. Apalagi kalau patung itu bisa menjadi pelipur lara agar anak-anak dan orang-orang tua di pelosok bisa melupakan sakit dan beratnya kehidupan mereka.

)* Penulis adalah alumnus STF Driyakara, Program Magister Antropoligi Universitas Indonesia. Pendidik di Papua.

print