Dani Maxey Bicara Cinta Budaya untuk Kalangan Muda Papua (Bagian II)

0
7758

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com—  Beberapa waktu lalu Suara Papua janjian dengan Dani untuk bertemu di sebuah Café yang dikelola anak Papua di Waena. Pada kesempatan tersebut Suara Papua sempat berbincang-bincang dengan Dani.

Selain bercerita tentang masa kecil dan masa sekolahnya di Papua, ia juga bicara soal keprihatinannya terhadap budaya Papua.

Bentuk keprihatinannya pada budaya Papua itu, salah satunya ia mulai dengan membuat gerakan cinta budaya. Gerakan ini dimaksudkan untuk kampanye cinta budaya kepada kalangan muda Papua saat ini.

Gerakan yang dimaksud Dani adalah gerakan yang ia lakukan dengan upaya-upaya kecil dengan tema budaya Papua. Dengan maksud agar anak-anak muda Papua tidak rasa minder dengan budayanya tetapi mulai sadar untuk merawat budaya yang sudah ada turun-temurun.

Sebelum lanjutkan membaca artikel ini, Suara Papua rekomendasikan untuk baca naskah wawancara dengan Dani bagian pertama yang sudah terbit dua hari lalu.

Baca: Mengenal Dani Maxey Lebih Dekat (Bagian I)

Berikut ini adalah petikan wawancara antara Suara Papua dan Dani.

Suara Papua: Dani juga bikin kampanye cinta budaya. Apa yang menjadi dasar dan mengapa Anda merasa penting untuk bikin gerakan cinta budaya Papua? 

Dani: Sa mulai bikin akun instagram itu saat saya kuliah. Sebelum itu sa tidak tahu pegang HP apalagi instagram, lebih tidak tahu lagi!

Untuk gerakan cinta budaya (Papua) ini sa mulai dari dulu. Sa rasa itu anak Papua harus sadar dan bangga bahwa mereka punya budaya yang sangat indah sekali. Budaya itu Tuhan sudah berikan langsung ke kita. Tuhan tidak sembarang! Waktu Tuhan ciptakan manusia, Tuhan sudah budaya yang unik untuk setiap manusia ciptaan-Nya. Dia kasih orang ini de pu budaya sendiri, orang ini de pu budaya seperti ini, orang ini dong akan pake bulu burung seperti ini, orang ini dong akan mewarnai tubuh mereka dengan warna yang seperti ini. Termasuk Tuhan berikan untuk orang di tanah Papua ini.

Itu semua menurut sa diberikan oleh Tuhan. Saya lihat beberapa hal penting dalam budaya mulai terkikis dan mulai hilang. Budaya itu sesuatu yang Tuhan sudah berikan dengan maksud sangat baik tapi kita lupakan saja. Jadi menurut saya melestarikan budaya, terutama di Papua ini sangat penting untuk anak-anak muda Papua.

Hal seperti makan pinang dan logat atau dialek Papua itu hal-hal kecil. Hal-hal yang besar itu seperti bahasa tradisional. Itu sa rasa sekali di hati bahwa kitong harus pegang, tarian-tarian daerah kitong harus lestarikan, lagu-lagu tradisional kita harus lestarikan, ilmu seperti cara berburu, cara bakar batu, cara memiliah batu dan bahan untuk memasak, cara bikin rumah adat dan lain-lain itu sa rasa sangat penting untuk kita anak-anak muda Papua lestarikan dan jaga.

Sa mulai dengan hal kecil saja untuk bikin kampanye gerakan cintan budaya Papua. Contoh, sa pake instagram pasang foto atau video bertema budaya Papua dengan konsep yang agak lucu-lucu. Dari awal sa sudah piker untuk sa tidak mau cari nama atau cari keuntungan tapi sa hanya ingin bikin anak-anak Papua bangga saja dengan dong (mereka) punya gaya bicara, dong pu kebiasaan makan pinang, gaya cerita dan pake noken. Sa ingin mulai dengan hal-hal kecil ini dulu. Kalo untuk bahasa daerah dan lagu tradisional itu besar jadi sa akan mulai belakangan. Itu yang sa mulai pelan-pelan lakukan.

Dari situ sa mulai tes-tes di instagram dan rupanya dapat sambutan positif. Lumayan banyak orang dong su ikuti, dong su tau dan merasa itu bagus sekali. Tapi sa tidak mau apa yang sa bikin itu orang bilang sa keren atau bagus, tetapi yang sa mau dari apa yang saya lakukan itu anak-anak muda Papua dong sadar bahwa dong punya budaya ini sesuatu yang indah sekali. Dan anak-anak muda Papua ini harus pegang budaya mereka.

Sa punya doa itu supaya anana Papua yang diaspora yang dapat beasiswa untuk kuliah atau sekolahdi luar negeri dong lihat sa pu video trus (lalu) dong mulai pikir, ini bule saja bangga dengan budaya kita orang Papua.

Dani Maxey saat berada di kampung Elegebaga. (Dok Dani)

Jadi anak-anak Papua harus mulai sadar untuk lestarikan budayanya masing-masing. Tapi apa yang sa buat itu dong setuju atau tidak, akan ada dampak atau tidak sa tidak tahu. Paling tidak sa bikin begitu dengan maksud untuk anak-anak Papua harus sadar bahwa budaya itu sangat penting. Sa akan lanjutkan saja karena budaya itu Tuhan yang berikan.

Suara Papua: Soal bahasa daerah. Anak-anak Papua, terutama yang lahir dan besar di kota banyak yang tidak tahu bahasa daerah mereka. Bagaimana menurut Anda melihat fenomena ini?

Dani: Sa pu pesan itu anak-anak Papua tidak boleh lupa bahasa daerah. Bahasa itu Tuhan yang berikan. Anak-anak muda Papua harus dong bangga sekali dengan dong pu bahasa daerah dan dong pu gaya bicara karena itu unik dan luar biasa. Tuhan kasih yang sangat luar biasa.

Sa pernah ketemu dengan anak Wamean yang su lama di luar Wamena lalu datang ke wamena lagi dan lupa gaya bicara mereka. Kadang-kadang sa tes dengan, ‘yage wene deka?’ begitu. Tapi dong jawab itu, ah… wene tidak ada bro. Dong jawab begitu saja. Sa rasa sedih buat mereka dan sa tahu mereka juga rasa sedih karena tidak bisa bicara pake bahasa daerah mereka. Di saat tu mereka mulai sadar bahwa kalau tidak tahu bahasa daerah,  ada sesuatu yang hilang. Karena bahasa daerah itu bagian dari diri kita ini. Kalau bahasa itu hilang, sebagian kebanggaan dan harga diri kita akan hilang.

Jadi sa pu pesan untuk anak-anak muda Papua yang ada di kota-kota atau ada di kampung, jangan coba-coba lupa atau jangan dengan sengaja lupa bahasa sendiri. Karena bahasa daerah itu Tuhan yang berikan. Ketika kam (kamu) lupa bahasa daerah, kam akan sedih dan kam akan menyesal sekali. Bahasa daerah harus tetap ingat dan pegang. Misalanya selalu bicara dengan orang tua pake bahasa daerah, selalu gunakan Bahasa daerah saat bicara dengan kakak-kakak yang bisa bahasa daerah. Itu salah satu cara untuk melestarikan bahasa daerah agar tetap terlestarikan.

Suara Papua: Ada fenomena di kalangan anak-anak muda Papua, maupun orang non Papua yang gunakan busana adat Papua lalu foto. Ada yang dengan maksud untuk akting, ada juga yang dengan maksud untuk pajang di sosial media. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?

Dani: Saya ikuti dan lihat fenomena ini di sosial media. Ini sesuatu yang bikin saya frustasi sekali.

Ada satu hal di dalam antropologi namanya apropriasi budaya, dalam bahasa inggris cultural appropriation. Menurut saya, kita semua pernah melakukan apropriasi budaya dalam skala kecil. Misalnya sa pake noken atau sa orang bule sa pake logat Papua dan ato ada yang pake logat papua untuk main pake di film. Atau kakak sebagai orang Intan Jaya pake gelang orang Biak, itu bisa saja dianggap sebagai apropriasi budaya.

Apropriasi budaya Papua yang bikin sa frustasi sekali dan paling ganas kalau sa lihat orang yang tidak berhak dan tidak layak untuk pakai benda-benda itu tapi dipaksakan untuk pake. Apalagi orang yang tidak peduli sama sekali Papua, orang Papua, pendidikan, kesehatan, baru dong datang lalu pake noken, koteka dan cenderawasih.

Saya tidak bicara soal foto, tetapi saya fokus pada soal sosial. Misalnya keadaan dan kehdiupan sosial orang Papua sekarang, pendidikan dan kesehatan. Atau kalau ko tidak peduli dengan tanah Papua keadaan orang Papua lebih baik ko harus piker lagi untuk injak tanah ini (Papua). Koteka, noken, cenderawasih, bulu-bulu burung dari Papua, itu benda sakral yang orang Papua punya. Jangan orang yang tidak ada kaitan sama sekali dengan tanah ini (Papua) yang pake.

Untuk saya, saya tidak pernah foto pake koteka, pake cenderawasih dan benda-benda sakral lainnya. Karena bagi sa itu apropriasi budaya yang paling hancur punya! Sa juga tidak pernah pasang-pasang penampilan seperti orang gunung. Karena sa sadar sa bukan orang gunung, sa bukan orang Papua, sa tidak ada darah Papua sama sekali jadi sa tidak berhak sama sekali gunakan benda-benda sakral itu.

Tetapi sa pu hati untuk Papua. Jadi sa rasa berhak sedikit untuk pake logat Papua, pake noken, pake gelang Papua dan kalung. Karena sa pake benda-benda itu dengan pengertian bahwa ini benda skaral. Sa pake supaya setiap hari sa bangun, sa lihat benda ini dan sa ingat sa pu tanah Papua jadi sa wajib doakan tanah Papua.

Sa mau supaya anak-anak muda Papua ini harus mulai sadar bahwa apropriasi budaya itu hal yang sangat jelek. Kita harus mulai sadar bahwa ketika orang luar yang tidak peduli dengan tanah Papua, kita harus berikan pemahaman atau semacam teguran supaya kalau tidak peduli dengan tanah ini lebih baik tidak usa pake saja. Yang sa lakukan ini sa hanya kasi dorongan saja ke sa pu sodara-sodara anak-anak muda Papua ini supaya dong sadar.

Kalo sa, sa tidak bisa bikin apa-apa lihat fenomena itu karena sa bukan orang Papua dan sa tidak berhak untuk bicara keras.

Untuk sa, secara kecil sa pernah lakukan apropriasi budaya seperti pake noken, pake gelang, pake kalung dan makan pinang, tapi untuk apropriasi budaya yang besar ini kita harus mulai bicara supaya orang luar hargai benda-benda sakral orang Papua.

Untuk fenomena ini menurut saya tidak ada garis yang jelas mana yang apropriasi budaya dan mana yang tidak. Maka sa bilang apropriasi budaya yang besar kita harus bicara supaya hentikan. Tetapi untuk apropriasi budaya kecil untuk sekarang masih aman.

Jadi sa rasa untuk orang yang tidak punya hati untuk tanah Papua baru hanya pake benda-benda budaya Papua saja, sa rasa mereka harus berfikir lebih dulu maknanya sebelum pake misalnya pakaian adat atau lainnya.

Suara Papua: Anda bisa bakar batu atau barapen?

Dani: Sa bisa barapen sendiri.

View this post on Instagram

Bakar batu bikin abu naik

A post shared by Dani (Ap Kepu meke) (@suku_dani) on

Suara Papua: Beberapa kali Anda unggah video-video lucu dalam dialek Papua. Lewat video-video itu Anda mau sampaikan apa?

Dani: Waktu sa SMP sa tonton film Melodi Kota Rusa, sering dengar mob-mob dari alm. Mr. Ciko dari teman pu HP dan Epen Cupen. Terus waktu sa pu masa-masa kecil, sa hidup dan besar dalam lingkungan orang Papua. Jadi sa rasa gaya anak-anak Papua bercerita itu sesuatu yang luar biasa. Sa bikin video-video lucu itu karena terinspirasi dari itu. Semua ide-ide dalam video-video yang pernah sa unggah itu idenya dari Papua.

Waktu kecil dulu, kalau kita ke hutan untuk berburu dan kalo tiba-tiba hujan, kita cari tempat aman baru pasang api lalu sambil tunggu hujan berhenti kitong biasa cerita-cerita.

Di kampung kan tidak ada TV, tidak ada HP jadi kitong bercerita dengan berimajinasi. Sehingga apa yang kitong cerita itu benar-benar sesuatu yang keluar begitu saja tapi itu jadi lelucon yang bisa bikin kitong tertawa karena kitong pu cerita ini sangat berwarna. Disitu gaya berfikir kita bagus, gaya imajinasi kita juga bagus, tetapi sa rasa dengan adanya HP ini bikin kita pu imajinasi dan gaya berfikir ini turun dan dibatasi.

Itu sebabnya sa bersyukur sekali karena sa dibesarkan di pedalaman yang jauh dari teknologi. Sa pu orang tua sampe sekarang tidak punya TV. Sa waktu SMA pake HP remot TV. Setelah selesai SMA baru sa pake HP yang canggih.

Jadi sa pu ide-ide kreatif itu semua berasal dari pengalaman masa kecil sa di pedalaman. Cerita-cerita itu tidak hanya dari sa saja, itu ada yang dari sa pu teman-teman, dari sa pu masa kecil yang benar-benar nyata.

Bersambung…

print