Pastor Aloysius Dabi: Imam Ketujuh dari Lembah Balim

0
1447

WAMENA, SUARAPAPUA.com— Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM tahbiskan salah satu putra asli Lembah Balim, Aloysius Alue Dabi, Pr sebagai imam. Peristiwa bersejarah bagi masyarakat Jayawijaya ini dilangsungkan di Paroki Kristus Terang Jiwika, Kurulu, Jayawijaya, pada Minggu (23/9/2018) lalu. 

Aloysius merupakan putra asli Lembah Balim ketujuh yang ditahbiskan jadi imam. Dia mengikuti jejak para pastor asli lembah sebelumnya yang lebih dulu menjadi imam.

Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM mengatakan, Aloysius terpilih menjadi murid Krsitus untuk menyalurkan kasih Allah kepada umatnya. Peristiwa pentahbisan seorang imam ini disebut sebagai karya Tuhan Allah bagi orang pilihan dan anugerah Tuhan untuk umat beriman.

“Imamat adalah anugrah, bukan prestasi manusia. Anugerah itu diberikan secara cuma-cuma, tidak diberikan sebagai imbalan atas jasa baik seseorang. Juga bukan karena mahar atau upeti yang kita kasih kepada Tuhan agar dia memberi kita jabatan, tapi Tuhan memberi dengan cuma-Cuma,” kata Leo dalam homilinya pada Pentahbisan Imam Aloysius Alue Dabi, Pr di Paroki Kristus terang Yiwika, Kurlu, kemarin.

Menurutnya, Tuhan sendiri yang memanggil, dan memilih orang yang berkenan kepadanya. Dia sendiri yang bersabdah bahwa bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Aku yang memilih kamu.

“Tuhan memanggil dan memilih saudara Aloysius Dabi karena Tuhan mengasihi dia. Dia mau memberikan martabat imamat padanya agar dia menjadi penyalur kasih Tuhan kepada orang-orang lain, lebih-lebih kepada umat yang akan dipercayakan padanya,” katanya.

Menjadi imam, kata Uskup Leo harus menjadi pembangun jembatan, yaitu membangun jembatan agar orang-orang atau manusia dibawa kepada Allah dan agar Allah diantar kepada manusia.

“Dia (imam) menjadi sarana komunikasi yang mendekatkan orang kepada Tuhan melalui segala bentuk pelayanan pastoral yang akan dilakukannya. Menyalurkan kasih Allah, mendekatkan orang kepada Tuhan,” katanya.

Namun, yang menjadi pertanyaan apakah seorang imam mampu memainkan peran tersebut? Yang mana mampu menerima kasih Allah sampai akhir, dan mampu menyalurkan kepada orang lain?

“Saudara Aloyisus menyatakan mampu. Ya harus mampu, tetapi ego seseorang sering kali terlalu kuat, kecenderungan untuk mencari kepentingan sendiri tak akan lenyap dari kehidupan seorang imam,” tuturnya.

Menurutnya, iri hati merupakan penyakit besar yang membuat komunikasi rusak. Iri hati itu berarti tidak rela melihat Allah memberikan hal-hal yang baik kepada orang lain. Itu seperti yang dikatakan Rasul Yakobus.

“Sehingga Rasul Paulus memberi pesan agar bersikap sebaliknya, lembut hati dan penuh pengertian pada orang lain. Pasti ada kesulitan tapi Tuhan sendiri menjanjikan satu hal. Bahwa ia akan menyertaimu, Tuhan sendiri yang akan membentuk dirimu,” pungkasnya.

Sementara itu, Pater Aloysius Alue Dabi, Pr kepada wartawan mengaku, jalan menjadi imam ini merupakan panggilan hati. Bukan karena pilihan orang tua atau pihak lain, tetapi berawal dari perjumpaan dirinya dengan para imam pastor.

“Ketika saya melihat figur para pastor ini saya terpanggil. Saya SMP, SMA, saya berjumpa dengan para pastor sehingga saya memilih jalan ini,” ujarnya.

Ia melihat, jalan yang ia lalui ini merupakan jalan pilihan Allah, dimana ia serahkan penuh kehidupannya untuk melayani sesama demi kemuliaan nama Tuhan.

“Saya merasa bahagia, merasa gembira untuk menjalani panggilan ini, demi melayani umat Allah, dan orang kecil. Dengan menerima Tahbisan ini untuk mewartakan injil kebenaran kepada orang lain, dan saya menjadi jembatan perantara antara manusia kepada Allah,” katanya.

Dia juga berharap kepada generasi muda saat ini agar dapat mengikuti jejak untuk menjalani panggilan Allah. Menjadi imam untuk melayani sesama umat manusia.

“Sekarang saya yang ketujuh imam Balim. Dengan peristiwa ini menjadi motivasi atau promosi panggilan bagi adik-adik generasi Balim yang berikut. Dengan peristiwa ini mereka juga terpanggil,” harapnya.

Peristiwa iman untuk memilih menjadi imam terjadi dimana saja. Seperti pentahbisan imam, dan perjumpaan dengan pastor, dan peristiwa lainnya. Ini cara Tuhan menggerakan hati memanggil orang.

“Jadi pesan saya untuk adik-adik generasi penerus ini, dengan peristiwa ini mereka juga tergerak untuk memilih jalan panggilan ini,” ujarnya.

Ia menambahkan, setelah pentahbisan itu nantinya Pater Aloysius Alue Dabi, Pr akan ditugaskan di Dekenat Pegunungan Tengah. Dimana pelayanan akan dilakukan di Welesi.

 

REDAKSI  

print