Bolos

0
7920

Oleh: Christofara Uaga)*

“Sudah jam 12.00. Dua jam lagi….,” gumam Celis gelisah sambil menatap jarum jam yang terus berputar. Rasanya seharian berada di ruangan ini, pikirnya sambil menoleh kiri dan kanan.

“Hufff…. Ayo mari kita jalan,” ujar Celis sambil menatap Tina yang duduk manis di sampingnya, kemudian Ina, Seilas dan Yosua ikut meninggalkan ruang kelas.

Tina, Ina, Seilas dan Yosua mendahului Celis di depan kelas. Celis mempercepat langkah mendekati Tina yang sedang melangkah di belakang Yosua dan Ina.

Langkah makin cepat melewati taman depan kelas. menoleh kiri dan kanan, tidak ada yang melihat. Semua teman dan guru masih di ruang kelas.

“Jalan cepat, jangan lihat ke belakang,” seru Celis, pria 155 meter, 45 kg, kecil ramping itu.

Tekanan suara gelisah masih menghantui walau aktivitas bolos itu idenya. Ia (Celis) dan Yosua sangat khawatir akan sesuatu, ketahuan guru piket, sambil mengikuti langkah rekan yang mendahuluinya.

Rasa gelisah membukit, lantas seragam Kamis. Seragam motif batik kotak-kotak,biru tua kombinasi merah hitam. Satu dua urat pada rajutan kain membujur dan bawahannya abu-abu, masih membalut tubuh.

Ia berlari bersama rekan-rekan menghindari jangkauan mata guru piket, pak Tomas. Teriknya sang surya, tanpa ampun terus membakar kulit. Rasa hosa mengiringi langkah cepat, kadang diselingi lari-lari.

Bola-bola keringat mulai bermunculan di tubuh. Di balik kain mulai terasa basah, panas melahirkan dahaga. Air liur yang bisa membantu membasahi kerongkongan yang kering.

Langkah terus memacu, ketiganya berada di balik gedung, 300 meter dari sekolah. Ketika menghampiri pos jaga malam di mata jalan depan sekolah.

Pikir mereka, sedikit langkah lagi keluar gerbang utama, menyeberang jalan. Benar-benar akan ada di luar lingkungan sekolah. Sekali begitu, ada yang tetap tidak tenang untuk bolos.

“We… kam….., klo kita ketahuan bagaimana?” tanya Yosua yang cerewet, tetapi nyali membolos kecil tersembunyi di balik tubuhnya kecil itu, sambil mendekati teman-temannya.

Silas pemilik nyali berani bolos, mulai duga anggota kelompok yang tidak iklas bolos. Emosinya tidak bisa terbendung, menahan kemarahan atas keresahan rekannya.

“Ko ini bikin virus saja,” tegasnya, mengerutkan dahi.

 “Ko baru bolos sekolah saja sudah takut sekali, kalo ko takut jang ikut saja to tinggal di kelas sana,” seru pria pemilik tubuh kecil, mungil itu.

Suara sopran halus, terputus-putus hosa karena baru berlari terdegar.

“Celis pokoknya kalo tong ketahuan ko tanggung jawab e…,” ujar si cantik, bertubuh ramping, putih langsat, hidung mancung, bibir seksi merah jambu dan berambut keriting halus itu.

“Itu benar,” ucap Yosua sambil mencari tempat di depan pos satpam sekolah.

Suara sopran lain terdengar datar, merangkul ketegangan siang itu, menyatukan perbedaan pandangan, antara bolos dan tanggungjawab.

“We… jang kam begitu, tong tanggung sama-sama ya… jang kam salahkan dia (Celis) terus,” ujar Ina, si hitam manis.

Wajah si hitam manis terlihat sedikit biji-biji kedewasaan, menghiasi muka oval, menggoda lawan yang menatap. Ia menyandarkan tubuhnya di tiang depan pos satpam, di samping satu-satunya kursi Celis duduki.

Rekannya, Celis, “Ah jang begitu… tong tanggung sama-sama ya,” ujar si kurus, pemilik wajah kotak, berjerawat, yang dikenal cerewet melebihi perempuan sekalipun itu.

“Ayo kita menyeberang,” ujar Celis sambil menatap Tina, kemudian melirik ke arah kiri dan kanan jalan mengantisipasi kendaraan dan guru yang keluar dari sekolah.

“We… kendaraan su trada, kam mari tong jalan sudah, jang kam lama-lama di situ, nan tong ketahuan lagi,” serius dia sambil meninggalkan pos jaga malam.

Celis lebih dulu berdiri sebentar di pinggir jalan, sejumlah kendaraan berlalu lalang. Ada sejumlah mikrolet lewat membawa penumpang.

Celis bergegas menyeberangi jalan raya. Yosua, Silas, Tina dan Ina mengikuti jejak Celis. Berempat sudah berada di seberang jalan.

Rasa lega menghampiri karena makin jauh, makin aman dari pantauan guru piket. Makin dekat yang hendak diraih, depan rumah sakit Dian Harapan.

“Hati-hati, pembina seminari lihat,” kata Celis.

“Adoo… ko stop sudah,” ujar Yosua.

“Kalo tra berani tra usah ikut sudah,” tegas Yosua.

Kewaspadaan membawa berlima melewati pantauan pembina Seminari. Tidak ada satu pembina pun yang tahu kalau ada dua seminaris lagi bolos.

“Kita sudah masuk area aman. Tidak ada lagi yang tahu,” gumam Ina sambil menatap rekan-rekannya.

“Hahahaee…. Kam semua lucu ya,” teriak Ina mengingat pelarian yang tidak bermanfaat tetapi menyenangkan itu.

“Itu lagi,” sambung Tina.

Lucu, pikir Ina, aktivitas bolos, yang sekedar memenuhi keinginan dan kepuasan sesaat. Rasa puas ada bersama lawan jenis. Omong kosong, baku tipu rame. Itu saja.

Tetapi, pikirnya, rasa puas, keinginan sesaat itu melahirkan gelar nakal, perasaan takut dan rasa bersalah, walau kebutuhan dari pelarian itu terpenuhi.

“Rugi tidak ikut belajar, tetapi kita kompak pergi, dua jam lebih ada bersama-sama di sana,” ungkap mereka kompak.

Ada di mana? Buat apa? Ikuti episode berikut….. (Bersambung)

)* Penulis adalah pemuda Papua. Tinggal di Wamena.