Surat Terbuka Kepada Dinas Pendidikan Yahukimo dan Gubernur Papua

Tentang Pembangunan Pendidikan Suku Terasing Korowai Utara di Kampung Brukmahkot

0
2518

Yth: Bapak Naftali Elopere, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo, perkenankan saya langsung ke pokok permasalahan.

Pada berita media online Suara Papua edisi 23 Oktober 2018 berjudul “Kadis Pendidikan Yahukimo: Guru Harus Berperan Aktif”, Bapak menjelaskan rencana meningkatkan pembangunan pendidikan di Kabupaten Yahukimo dengan meningkatkan penguasaan guru akan Kurikulum 2013 dan menghentikan pembangunan gedung sekolah baru di tahun 2019 sebab banyak sekolah ditinggalkan oleh guru.

Perkenankan saya menanggapi kebijakan itu melalui surat terbuka ini. Sekaligus saya mengingatkan kembali janji Gubernur Papua Bapak Lukas Enembe ketika mengunjungi Danowage pada Oktober 2017 untuk membangun pendidikan dan kesehatan Suku Korowai.

Guru Tanpa Sekolah di Brukmahkot

Sahabat saya Imelda Hendrietha Kopeuw adalah guru yang setia mendidik anak-anak Suku Terasing Korowai Utara (ada yang menyebut Korowai Batu) di Brukmahkot, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo. Tidak pernah tinggalkan tempat tugas.

Guru Imelda meneruskan missi pembangunan pendidikan yang diawali oleh Bapak Penginjil Simson S. Awom dan relawan KOPKEDAT yang pada tahun 2016 lalu telah membangun Sekolah Darurat di Brukmahkot

Bangunan sekolah darurat itu sudah nyaris ambruk. Sudah sangat tidak layak dan tidak aman untuk mereka gunakan. Saat ini, aktivitas belajar guru Imelda dan 16 anak muridnya kadang dilangsungkan di ruang gereja, tetapi tidak bisa terus di sana sebab kegiatan itu “mengotori” dinding gereja akibat ditempeli berbagai alat peraga. Kadang pula dilakukan di ruang tamu penginapan Pustu Kampung Brukmahkot, namun tidak bisa terus di sana sebab ruang tamu itu begitu sempit, sehingga anak-anak berhimpitan.

Baik di ruang gereja ataupun di ruang tamu rumah guru, mereka tidak memiliki meja dan kursi sehingga mereka melakukan kegiatan belajar dengan cara berbaring dan berhimpitan di lantai.

Tahun depan, 2019, masalah yang mereka hadapi akan bertambah. Sebab tahun depan mereka akan memiliki 3 kelas tanpa gedung sekolah. Akan ada 1 kelas TK, dan 1 kelas Kelas I dan 1 kelas Kelas II. Semuanya tanpa gedung sekolah. Jadi, mereka akan belajar di mana?

Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo yang diberkati Tuhan, perkenankan saya meneruskan curhatan ini dan mohon kiranya Bapak sudi mendengarkan.

Sukacita guru Imelda dalam mendidik anak-anak Suku Terasing Korowai Utara memang sama sekali tidak ternoda tanpa gedung sekolah. Dia rutin menginformasikan kegiatan belajar mengajar melalui akun facebook Margi Regi Korowai yang diposting dari Danowage jika sebulan sekali dia ke Danowage.

Dia kisahkan bahwa dia memutuskan menjadi guru di kampung terpencil yang tidak terjangkau fasilitas telepon dan harus berjalan kaki berjam-jam dari kampung ke kampung untuk menjemput anak-anak untuk bersekolah karena tergugah oleh kesaksian pengabdian Bapak Pendeta Trevor Johnson dari gereja GIDI di Kampung Danowage, juga wilayah Suku Korowai Utara.

Pendeta Trevor sudah 12 tahun mengabdi dalam pembangunan peradaban Suku Korowai Utara dan saat ini sedang menjalani pengobatan di Penang Malaysia karena pembengkakan limpa yang dideritanya akibat 23 kali terserang malaria.

Semua informasi dari Guru Imelda itu telah membangun solidaritas berbagai pihak yang kemudian mendukung Guru Imelda dengan bantuan panel solar cell, buku, peralatan mandi, dan lain-lain. Tetapi masalah kebutuhan infrastruktur pendidikan belum terjawab.

Masyarakat adat Suku Terasing Korowai Utara sering meninggalkan kampung untuk cari makan di dusun serta tinggal tersebar dalam beberapa kampung berjauhan yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki berjam-jam. Karena itu, selain perlu gedung sekolah, anak-anak mereka membutuhkan asrama dan rumah guru minimal 3 rumah. Dana yang diperlukan untuk bangun semua fasilitas itu sangat besar, sebab ongkos angkut melalui udara dan atau sungai sangat mahal. Butuh dana milyaran rupiah.

Ekspos dari guru Imelda mendapat respon dari Pendeta Trevor dan beberapa relawan. Para relawan melakukan Aksi 1 Box 1 House untuk mengumpulkan dana untuk dukung pembangunan infrastruktur. Dan Pendeta Trevor sudah mengirimkan tukang untuk membuat gambar dan menghitung RAB semua bangunan pada Juli 2017. Pada awal Oktober 2018, Pendeta Trevor dalam kondisi sakit parah itu telah mengirimkan tukang ke Brukmahkot untuk menyiapkan kayu yang diperlukan agar pada awal tahun 2019 pembangunan infrastruktur sudah dapat dimulai dan pada tahun ajaran baru Juni 2019 infrastruktur sudah tersedia untuk menunjang aktivitas guru – murid di sana.

Apakah langkah dari Pendeta Trevor ini dilakukan karena sudah memiliki uang yang dibutuhkan untuk bangun sekolah, asrama dan rumah guru? Tidak. Belum ada. Beberapa kali dalam kondisi lemah, bahkan hingga tidak bisa berjalan karena sakit, dan terbangun dari tidur panjang selama 12 jam lebih karena pengaruh obat, Pendeta Trevor mengirim pesan kepada saya, “Apakah sudah ada dana untuk bangun sekolah di Brukmahkot?”

Dan ketika saya menjawab belum ada, beliau menjawab, “Doakan agar saya cepat sehat agar bisa kuat bekerja untuk mencari dana untuk bangun sekolah dan kesehatan Suku Korowai. Saya harus berobat 6-7 bulan ke depan, dan apabila saya tidak bisa kembali ke Korowai karena masalah kesehatan, berjanjilah pada saya untuk terus mencari bantuan untuk bangun sekolah bagi anak-anak Korowai!” (Mohon doakan kesembuhan Bapak Trevor).

Janji Gubernur Lukas Enembe

Bapak Kepala Dinas Pendidikan Yahukimo yang diberkati Tuhan, pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan sudah dijanjikan oleh Gubernur Papua Bapak Lukas Enembe pada Oktober 2017, ketika itu beliau sebagai Gubernur Papua pertama yang mengunjungi Korowai. Ketika itu beliau berjanji kepada Pendeta Trevor bahwa beliau akan bangun pendidikan dan kesehatan Suku Korowai bekerja sama dengan misionaris di sana.

Dan suatu malam pada Oktober 2017, Bapak Enembe menelepon saya dan bercerita tentang keterbatasan yang dia miliki. Pertama, menurut Bapak Enembe, dana Otsus telah dialokasikan 80% ke kabupaten dan karena itu seharusnya kabupaten yang melakukan pembangunan pendidikan dan kesehatan sesuai amanat UU Otsus. Masalah kedua, kunjungan beliau pada waktu itu dilakukan di penghujung tahun ketika APBD Provinsi dan Kabupaten sudah tidak bisa dirubah.

Bapak Enembe berjanji untuk mendorong kabupaten terkait untuk menganggarkan dukungan dana bagi pembangunan infrastruktur pendidikan dan kesehatan bagi Suku Korowai pada APBD tahun 2018. Beliau berjanji bahwa pada April 2018, amanat beliau akan diwujudkan.

Namun, sebagaimana kita maklumi, semester pertama tahun 2018 terjadi kesibukan politik di Provinsi Papua karena Pilkada termasuk pemilihan Gubernur Papua. Dan puji Tuhan karena Bapak Enembe terpilih kembali. Semoga beliau tidak lupa pada janjinya.

Perihal Pengabdian Guru

Bapak Kepala Dinas Pendidikan Yahukimo yang diberkati Tuhan, perkenankan saya merespon pula penilaian Bapak tentang kesetiaan guru dalam mengajar. Tanggapan ini saya letakkan pada konteks Guru Imelda dan pembangunan pendidikan di Brukmahkot.

Bapak benar. Penguasaan kurikulum merupakan hal wajib bagi guru profesional. Selain itu, wajib juga menguasai pedagogi (ilmu mendidik), menguasai psikologi anak, menguasai bidang studi tertentu yang hendak diajarkan dan juga memiliki jiwa pengabdian dalam menjalankan tugasnya. Dan masalah berat yang Bapak soroti adalah masalah pengabdian.

Jika kita pelajari sejarah pembangunan peradaban semua suku di Tanah Papua, kita akan temukan bahwa jiwa pengabdian para guru pionir dibangun karena panggilan iman agar kehidupan mereka menjadi saluran berkat Tuhan bagi sesama manusia. Para misionaris dalam sejarah gereja di Tanah Papua sejak Ottow dan Geisler menginjak Mansinam 5 Februari 1855, ketika Dominee I. S. Kijne membangun peradaban Papua pada 25 Oktober 1925 dan berbagai peran misionaris pionir lain di berbagai penjuru di tanah kita pada kurun waktu tahun 1950 – 1990 (baik misionaris asing, nasional maupun lokal) hingga Pendeta Trevor dan lain-lain di Korowai tahun 2018 menunjukkan satu pola yang sama bahwa pengabdian kepada sesama sebagai buah iman kepada Tuhan.

Sebelum menempati tempat tugas yang terisolir, mereka sudah dibekali pengetahuan tentang lingkungan ekologi dan sosial budaya di tempat tugas mereka dan sudah diuji sebelum mulai bertugas. Mereka menguasai ilmu sebagai guru maupun menguasai antropologi. Penguasaan kurikulum merupakan salah satu alat yang mereka miliki.

Jadi, bukan perihal pemahaman terhadap kurikulum semata-mata.

Bapak Pendeta Trevor telah melakukan pola serupa dalam proses menyiapkan guru untuk mengabdi di Kampung Brukmahkot yang terpencil dan terisolasi itu.

Dia memfasilitasi Guru Imelda untuk lebih dulu melakukan observasi pada Maret 2017. Hasil observasi sudah ditulis dan dilaporkan kepada Dinas Pendidikan Provinsi Papua dan Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo dengan judul “Laporan Observasi untuk Penerapan Kurikulum Kontekstual bagi Sekolah di Suku Terpencil Papua dari Kampung Brukmahkot, Distrik Seradala, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua” (Maret 2018). Sesudah melakukan observasi itu, Imelda melakukan napak tilas ke Wasior di mana Pendeta I. S. Kijne membangun Sekolah Peradaban Papua pada tahun 1925 untuk mendalami karya, jiwa pengabdian dan kurikulum kontekstual yang dilakukan Bapak I. S. Kijne sejak tahun 1925.

Sesudah melakukan semua persiapan itu, maka pada 10 Juli 2018, Guru Imelda ke Korowai dan pada 16 Juli 2018, kegiatan belajar mengajar mereka sudah dimulai. Guru dan murid tanpa gedung sekolah.

Imelda memilih untuk menjalani pengabdian sebagai guru di daerah terpencil itu dengan mengabaikan kesempatan untuk menjadi PNS di Sentani, di mana dia sudah menjadi guru selama 3 tahun. Bahkan dia memilih jadi guru di Brukmahkot dan mengabaikan kesempatan untuk menjadi guru di suatu sekolah yang dibiayai satu perusahaan multinasional yang menawarkan gaji belasan juta rupiah, fasilitas cuti tahunan, fasilitas rumah, dan lain-lain.

Dan memilih ke Brukmahkot untuk membangun pendidikan anak Korowai dengan visi membangun generasi emas Suku Korowai Utara yang sehat, tinggi ilmu, tinggi agama, tinggi pemahaman nilai adat, melalui pendidikan kontekstual berbasis asrama. Titik berat “pendidikan kontekstual” mengutamakan peningkatan kemampuan membaca, menulis, berhitung, menyanyi, ketrampilan hidup sehat, menguasai IPTEK, dan dengan menggunakan buku-buku yang berisi muatan lokal Papua.

Teladan dari Guru Imelda memotivasi beberapa anak muda sarjana pendidikan untuk masalah Guru TInggalkan Sekolahengikuti jejaknya. Di sisi lain, pengabdian Guru Imelda adalah jaminan untuk bangun sekolah, asrama dan rumah guru di Brukmahkot sebab dia siap di tempat untuk memanfaatkannya.

Masalah Guru Tinggalkan Sekolah

Issu lain yang Bapak angkat adalah guru meninggalkan sekolah tanpa mengajar. Isus ini terjadi di banyak tempat nyaris di seluruh Tanah Papua. Jadi, bukan hanya terjadi di Kabupaten Yahukimo. Bahkan di seluruh Indonesia. Menteri Keuangan RI pernah menyampaikan keluhan serupa dengan bahasa berbeda. Menurut Menkeu, banyak guru tetap (PNS) tidak setia mengajar; yang mengajar adalah guru honorer.

Dari berbagai diskusi, saya menyimpulkan bahwa tiga masalah yang sering membuat guru meninggalkan tempat tugas.

Pertama, mereka meninggalkan tugas untuk mengurus kebutuhan logistik yang sering tiba terlambat. Baik logistik untuk kesejahteraan guru dan keluarga seperti gaji, jatah beras, dan 9 bahan kebutuhan pokok lainnya. Maupun logistik yang dibutuhkan sekolah seperti buku, bahan ujian, alat tulis, dan lain-lain.

Kedua, guru meninggalkan tempat tugas untuk mengurus administrasi seperti kenaikan pangkat, kenaikan gaji, dan perihal administrasi sekolah lainnya.

Ketiga, guru meninggalkan tempat mengajar untuk mengikuti pendidikan dan latihan untuk meningkatkan kompetensi.

Bagi guru-guru di daerah terisolasi yang minim infrastruktur transportasi, diperlukan waktu lama dan biaya mahal untuk mengurus hal-hal itu. Karena itu, sekali mereka bisa meninggalkan tempat tugas, maka diperlukan waktu lama dan biaya mahal untuk kembali ke tempat tugas. Realita ini membuat guru yang sudah pergi jadi “malas” untuk kembali ke tempat tugas.

Ini hal yang manusiawi dan membutuhkan solusi. Perlu dibentuk instansi khusus yang diberi tugas untuk memudahkan urusan guru di daerah terpencil pada ketiga hal itu.

Catatan Penutup

Bapak Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Yahukimo yang Tuhan berkati, perkenankan saya mengakhiri surat terbuka ini dengan tiga catatan penutup.

Pertama, mohon kiranya pembangunan gedung sekolah, asrama dan rumah pegawai bagi anak-anak Korowai Utara (Korowai Batu) dapat dianggarkan dalam APBD Kabupaten Yahukimo Tahun Anggaran 2019. Program ini sekaligus untuk merealisasikan janji Gubernur Papua Bapak Lukas Enembe pada satu tahun lalu.

Kedua, untuk mengurangi tingginya kasus guru meninggalkan sekolah, maka alangkah baik jika dilakukan kajian yang objektif dan komprehensif. Solusinya antara lain bisa dengan membentuk instansi khusus untuk membantu guru memfasilitasi pemenuhan logistik, administrasi dan peningkatan kompetensi terutama di daerah terisolasi.

Ketiga, untuk meningkatkan pengabdian guru di wilayah terpencil, adalah bijak jika pemerintah bekerja sama dengan para misionaris sebagaimana pernah dijanjikan Gubernur Papua Bapak Lukas Enembe kepada Pendeta Trevor Johnson di Danowage pada Oktober 2017.

Demikian dan terima kasih. Tuhan memberkati bapak-bapak dalam tugas dan pelayanan agar menjadi berkat bagi sesama, khususnya bagi Suku Korowai Utara (Korowai Batu).

Manokwari, Minggu 28 Oktober 2018

Salam hormat,

Yosef Rumaseb

print