Mengenal Suku Ngalum Ok di Pegunungan Bintang

Arti Nama, Asal-usul Manusia & Bahasa Dari Suku Ngalum Ok Pegunungan Bintang Papua

0
2438

Oleh: Imanuel H. Mimin)*

Artikel ini membahas secara singkat tentang keberadaan suku yang telah sekian lama mendiami wilayah sentral dataran tinggi pulau Papua. Tepatnya di kabupaten Pegunungan Bintang, provinsi Papua. Letak geografisnya persis di pertengahan perbatasan negara Indonesia dan negara tetangga, Papua New Guinea. Pembahasan dalam artikel ini tidak lain mengenai arti nama, asal-usul manusia dan bahasa suku secara singkat. Dari salah satu suku, yaitu suku Ngalum Ok. Penyebutannya Ok bacanya (ok) bukan (oke).

Arti dari Nama Suku Ngalum Ok

Dari sekian banyak suku bangsa dan bahasa di seluruh Tanah Papua, kabupaten Pegunungan Bintang sendiri memiliki tujuh suku yakni suku Ngalum, Ketengban, Murop, Lepki, Arintap, Kimki dan Yefta. Bahasanya juga berbeda-beda. Suku-suku tersebut sudah sekian lama telah mendiami wilayah sentral dataran tinggi pulau Papua.

Di sini penulis hanya akan menjelaskan mengenai satu suku saja, yaitu suku Ngalum Ok.

Menurut mitos penamaan suku Ngalum Ok mempunyai arti yang luas, namun terlepas dari kata Ok, arti dari kata Ngalum adalah penyebutan masyarakat setempat untuk menyebut sesama mereka yang tempat tinggalnya ke arah bagian timur melewati batas wilayah negara Indonesia sampai di telefomin Papua New Guinea. Contohnya: orang Oksob dan Oksibil menyebut orang Okbibab adalah orang Ngalum, orang Okbibab menyebut orang Kiwirok adalah orang Ngalum, dan seterusnya ke arah timur Pegunungan Bintang sampai pada telefomin dan juga sebaliknya.

Penyebutan ke bagian timur, jika dilihat dari peta Pegunungan Bintang atau peta pulau Papua secara keseluruhan, maka penyebutan suku Ngalum mulai dari bawah kaki gunung Aplim-Apom (Puncak Mandala) terus ke arah timur sampai pada telefomin Papua New Guinea. Itu semua disebut Ngalum atau suku Ngalum. “Daerah wilayah masyarakat adat suku Ngalum”. Sedangkan ke arah barat dari batas puncak gunung Aplim-Apom sudah masuk dalam wilayah suku Ketengban, ke arah selatan suku Murob, ke arah utara suku Kimki, suku Lepki, dan lain-lain.

Sedangkan pengertian untuk kata Ok mempunyai arti tersendiri. Bila diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, maka arti dari kata Ok adalah air.

Pada umumnya kehidupan masyarakat suku Ngalum bertempat tinggal di pinggiran-pinggiran sungai, kali, atau tempat yang ada mata airnya. Intinya, lokasi yang mereka tinggal dekat dengan air. Oleh karena itu, penamaan nama suku Ngalum ditambah dengan kata Ok yang berarti air. Jadi, suku Ngalum Ok bisa diartikan sebagai manusia air atau manusia yang hidupnya mencari air.

Kata (Ok) bukan sebatas kata saja, tetapi kata tersebut bermakna filosofis, teologis, ekologis dan ekonomis, (Sitokdana, 2016).

Dalam keseharian kehidupan manusia pada umumnya sudah pasti membutuhkan air. Sama halnya dengan masyarakat suku Ngalum, yang juga hidup membutuhkan air dalam kesehariannya.

Bagi masyarakat suku Ngalum, air adalah sumber kehidupan. Ok/Air mendatangkan dan menciptakan kehidupan yang hakiki, yakni: kesuburan hidup bagi manusia, tumbuhan, tanaman dan ternak serta menciptakan pembaharuan, kesejukan, perdamaian, keselamatan, kesucian, ketabahan, ketentraman, kedewasaan, dan nilai-nilai hidup lainnya, (Sitokdana, 2016).

Maka dari itu, orang-orang yang berasal dari suku Ngalum Ok mempunyai karakter dalam keseharian hidup seperti air. Yang dimaksudkan seperti air adalah karakter manusianya yang tidak suka mencari masalah, tidak suka membuat atau menimbulkan konflik dengan suku lain, tidak suka bermusuhan yang berkepanjangan dan lain sebagainya. Keinginan mereka ialah selalu hidup berdamai dengan orang lain di sekitar lingkungan yang mereka tinggal.

Asal-usul Manusia Suku Ngalum Ok

Sebelum mengenal Agama, masyarakat suku Ngalum sudah mempunyai ajaran dan kepercayaan yang dipercayai turun-temurun dalam adat-istiadat mereka.

Menurut mitos penciptaan yang dipercayai oleh suku Ngalum, bahwa manusia pertama mereka diciptakan oleh Atangki di puncak gunung Aplim-Apom yang sekarang disebut sebagai Puncak Mandala. Oleh karena itu, gunung Aplim-Apom adalah gunung yang sakral bagi masyarakat setempat (suku Ngalum). Bahkan kepercayaan terhadap adanya penciptaan manusia pertama di puncak gunung Aplim-Apom pun dipercayai juga oleh masyarkat suku yang lainnya di Pegunungan Bintang.

Nenek moyang mereka diciptakan oleh Atangki. Atangki adalah penyebutan dalam bahasa suku Ngalum untuk menyebut Sang Maha Pencipta. Yang sekarang kita kenal sebagai Allah.

Dengan demikian, kita bisa menarik kesimpulan bahwa masyarakat suku Ngalum bukanlah orang-orang yang berpindah-pindah tempat atau orang-orang yang datang dari tempat lain dan menetap di Pegunungan Bintang. Melainkan mereka adalah masyarakat asli (pribumi) negeri Aplim-Apom yang mempunyai tanah, hak ulayat dan sudah bersahabat dengan alam sekitar. Dan mempunyai budaya (adat-istiadat) sebagai identitas, ciri khas manusia Ngalum Ok.

Bahasa Suku Ngalum

Pengertian bahasa secara umum, bahasa adalah alat komunikasi yang berupa bunyi. Tanpa bahasa manusia sulit dalam melakukan komunikasi yang baik dengan sesama manusia lainnya. Seperti masyarakat di daerah lain yang mempunyai bahasa daerahnya masing-masing, sama halnya dengan suku Ngalum. Bahasa suku Ngalum biasanya disebut “Ngalum Weng” artinya yaitu “bahasa Ngalum” dalam bahasa Indonesia. Sama seperti penyebutan umum dalam bahasa Indonesia untuk menyebutkan nama bahasa daerah suku di seluruh Indonesia.

Dalam bahasa suku Ngalum ada tiga dialeg. Pada umumnya dialeg bahasa suku Ngalum terbagi menjadi tiga dialeg yakni dialeg Okbibab, dialeg Oksibil dan dialeg Kiwirok. Di dalam masing-masing wilayah seperti di Distrik Kiwirok masih ada sub-sub dialegnya lagi, namum dalam artikel ini hanya menjelaskan secara umum saja seperti di atas.

Dalam bahasa suku Ngalum yang membuat unik dan berbeda yaitu dalam cara  pengucapan (dialeg/aksen) yang berbeda-beda dari masing-masing tempat/daerah yang disebutkan di atas, tetapi maksud dan tujuannya tetap sama.

Dalam tabel di bawah ini kita lihat contoh penulisan dan pengucapan bahasa dalam tiga versi dengan dialeg/aksen yang berbeda.

Tabel, perbedaan penulisan dan pengucapan bahasa daerah. (Dok. Pri)

Dari tabel pada gambar di atas bisa dilihat, ada kata dalam pengucapan dan penulisan antara tiga wilayah/daerah tersebut, ada yang sama dan juga ada yang beda. Untuk dialeg Oksibil dan Okbibab pada umumnya hampir sama dialegnya hanya dialeg Kiwirok yang sedikit berbeda. Dialeg Oksibil dan Okbibab biasanya menggunakan huruf (S dan R), sedangkan untuk Kiwirok kebanyakan menggunakan huruf (H). Dalam dialeg Kiwirok, baik penulisan maupun pengucapan huruf (S dan R) jarang ditemukan.

Semoga tulisan pendek ini bermanfaat bagi para pembaca.

Sekian dan terima kasih. Yetelas (Yepmum, Teleb, Lapmum, Asbe, Yelako)

)* Penulis adalah mahasiswa Papua yang sedang mengenyam pendidikan di Jawa Tengah

Referensi:
Sitokdana, Melkior N.N. 2016. Menerima Misionaris, Menjemput Peradaban: Sejarah Nama Pegunungan Bintang, Papua dan Awal Mula Peradaban Orang Asli Pegunungan Bintang. Yogyakarta: Kanisius.