Asrama Katolik Tauboria; Kandang Domba Tak Bergembala

Warisan Misionaris Katolik Yang Telah Dirusak

0
2845

Oleh: Albert Yatipai)*

“Tauboria”, itulah sebutannya, diambil dari bahasa Suku Sentani, Papua, “rauboria” yang artinya: tempat persinggahan/peristirahatan”, dipadukan dengan nama salah satu bukit tempat Yesus berdoa (menurut Alkitab) yaitu bukit “Tabor”, sehingga biasa disebut Tauboria, nama Asrama Mahasiswa Katolik yang terletak di Padangbulan, Abepura, Jayapura.

Asrama Tauboria merupakan gedung tua yang menampung para generasi muda Papua dari berbagai daerah di pedalaman Papua dengan tujuan melanjutkan pendidikan tinggi di kota Jayapura.

Dari catatan yang ada, gedung tua itu didirikan oleh para misionaris berkebangsaan Jerman dan Belanda pada tahun 1975. Tanggal 3 April 2019, asrama ini genap berusia 43 tahun.

Dalam perjalanan dan perkembangannya, asrama Tauboria pernah ditutup oleh pihak Keuskupan Jayapura pada tahun 2007. Tetapi dibuka kembali atas nama alumni pada tahun 2009.

Sebelum lebih lanjut, perlu terlebih dahulu kita petakan dalam dua bagian: asrama Tauboria jilid I yaitu asrama Tauboria sejak diresmikan hingga ditutup oleh Keuskupan Jayapura (1976 – 2007), dan asrama Tauboria jilid II, yaitu asrama Tauboria sejak dibuka kembali atas nama alumni hingga saat ini (2009 – sekarang).

Asrama Tauboria Jilid I: Tempat Memanusiakan Manusia

Sejak berdirinya asrama Tauboria, proses pembinaan yang dilakukan oleh para pastor pembina (rektor) telah berjalan lancar dan baik sesuai dengan tujuan awal pendirian asrama Tauboria ini, yakni “memanusiakan manusia”.

Pada perkembangannya, anak muda sebagai kader gereja dan bangsa telah banyak menerima pembinaan, pembentukan karakter dan pola pikir yang sempurna dalam kehidupan sehari-hari di asrama Tauboria.

Para pastor yang diberi mandat sebagai pembina (rektor) asrama saat-saat itu dengan sungguh-sungguh telah memberikan perhatian penuh dengan semangat cinta yang tinggi, sehingga berhasil membentuk anak-anak muda yang berperilaku baik dan cerdas dalam emosional, spiritual serta intelektual. Memang pembinaannya sangat berpengaruh dan memberikan hasil dalam membantu proses pembangunan di Tanah Papua maupun di Indonesia pada umumnya.

Pengakuan ini pernah diungkapkan juga oleh salah satu alumni asrama Tauboria angkatan 1997, yang kini sedang bekerja sebagai ASN di salah satu kabupaten di Papua. Saat itu ia mengatakan bahwa semasa ia dan teman-temannya di asrama Tauboria, dalam proses pembinaan, Pastor Wolfgang van Bock, OFM (pembina asrama saat itu) sangat melarang mereka untuk bergabung dengan organisasi di kampus maupun luar kampus atau luar asrama. Penghuni asrama hanya diwajibkan untuk mengikuti pembinaan sehari-hari di asrama, sehingga sampai saat ini mereka dapat merasakan dan menikmati hasil pembinaan tersebut.

Selain itu, asrama Tauboria pernah dijadikan sebagai asrama percontohan dalam “hidup berpola asrama” di era 90-an oleh Drs. Jacobus Perviddya Solossa yang kala itu menjabat sebagai Gubernur Irian Jaya (nama provinsi Papua saat itu), sehingga beliau mengajak seluruh pengurus asrama-asrama saat itu untuk belajar dari kehidupan berasrama seperti yang diterapkan di asrama Tauboria.

Otsus Lahir, Asrama Tauboria Ditutup

Begitulah kenyataannya, sampai saat ini masih menjadi pertanyaan di beberapa kalangan baik penghuni Tauboria, alumni maupun umat Katolik di Tanah Papua: Mengapa asrama Tauboria ditutup? Apakah gereja tidak dapat bersaing di era Otonomi Khusus? Begitu singkat pertanyaannya.

“Sudah banyak asrama-asrama kabupaten yang dilengkapi dengan fasilitas dan beasiswa, sehingga minat anak muda untuk masuk asrama misi sangat minim,” demikianlah ucapan Uskup Keuskupan Jayapura, Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, saat memberikan penjelasan tentang alasan asrama Tauboria ditutup.

Gedung tua warisan misionaris ini ditutup pada tahun 2007 oleh pihak pengelola (Keuskupan Jayapura) dengan alasan yang tidak mendasar dan irasional sebagaimana telah dibeberkan diatas.

Pastor Wolfgang adalah pastor pembina (rektor) terakhir yang dihentikan tugasnya dan dipindahkan ke salah satu biara tua di Jawa Tengah. Ia masih di sana sampai saat ini. Ia sebagai manusia biasa pasti sangat merindukan tugas dan fungsinya sebagai pembina anak muda Papua di asrama Tauboria yang ditinggalkan.

Sejak Undang-undang Nomor 21 tahun 2001 resmi diberlakukan di provinsi Papua, pimpinan Keuskupan Jayapura dinilai seakan-akan tergeser dan menunjukan ketidakmampuan dalam persaingan dengan asrama-asrama milik kabupaten-kabupaten di kota Jayapura, sehingga dengan mudah dan tanpa pertimbangan matang telah mengambil keputusan yang bisa dibilang sepihak dan tidak rasional untuk menutup tempat pembentukan kader muda Papua.

Padahal ketika dilihat dari segi kualitas, asrama Tauboria sudah banyak melahirkan manusia-manusia yang hebat dan luar biasa berpengaruh serta memberikan kontribusi yang cukup banyak terhadap gereja dan bangsa ini, sehingga tidak mungkin dengan alasan persaingan yang irasional tersebut asrama Tauboria kemudian ditutup. Sebenarnya ada apa dibalik jubah dan salib?.

Asrama Tauboria Jilid II: Kembali Dibuka, Pembinaan Tidak Berjalan

Pada tahun 2009, asrama Tauboria kembali dibuka atas nama alumni Tauboria. Para alumni merasa keberadaan dan kelanjutan asrama Tauboria sangat penting untuk kepentingan gereja dan bangsa ke depan, sehingga mereka mendesak pihak Keuskupan Jayapura untuk membuka kembali asrama Tauboria. Permintaan tersebut direstui oleh Uskup Leo dan asrama pun kembali aktif dengan harapan pembinaan tetap dijalankan.

Sejauh ini (2009 – sekarang) dalam perkembangannya, dari asrama Tauboria telah berhasil mengorbitkan beberapa sarjana di bidangnya masing-masing, kurang lebih 16 orang baik yang kuliah di kampus negeri maupun swasta di kota Jayapura.

Walaupun demikian, sayangnya penghuni asrama saat ini tidak mendapatkan proses pembinaan yang dulu pernah berjalan, karena tiadanya seorang imam atau pastor seperti para pembina terdahulu.

Beberapa langkah telah ditempuh oleh para alumni beserta penghuni untuk mendapatkan seorang pembina (imam/pastor) guna menerima bimbingan dalam proses pengembangan diri maupun pembentukan karakter di kalangan anak muda masa kini. Tetapi semuanya terkesan sia-sia dan hanya menemukan jalan buntu, sehingga proses pembinaan sama sekali tidak berjalan di asrama Tauboria. Lantas, ini dosa siapa?.

Pembiaran Yang Disengaja

Sampai saat ini mahasiswa yang masih menetap di asrama Tauboria hidup dalam pembiaran sebagai anak tiri dalam keluarga Keuskupan Jayapura. Kehidupan di asrama Tauboria seperti pada umumnya mahasiswa yang hidup di kos-kosan, yang hidup apa adanya dan boleh berbuat apa saja serta mereka hanya tergantung pada orang tua mereka masing-masing tanpa donatur dan lain-lain.

Berdasarkan uraian diatas, dapat kita simpulkan bahwa proses pembiaran terhadap generasi muda Papua sedang terjadi hingga kini. Kehadiran Otsus di Tanah Papua menjadi senjata bagi para pemilik kepentingan di kalangan Gereja Katolik, sehingga Otsus dijadikan suatu pencitraan terhadap penutupan dan pembiaran terhadap keberlangsungan asrama Tauboria. Hal ini merupakan proses pembunuhan karakter yang sengaja diciptakan, sehingga membunuh pola pikir anak muda Papua di masa kini.

Ibarat “kandang domba yang tak bergembala”, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan keberadaan asrama Tauboria hari ini. Jika kita berpikir secara rasio, bangunan tua seperti asrama Tauboria sebagai warisan para misionaris yang harus dijaga dan dirawat, sehingga kita juga dapat menjamin perjalanan gereja di masa yang akan datang.

Logikanya ialah ketika kandang domba dibiarkan tanpa gembala, maka kasihan domba-dombanya mau dikemanakan? Berarti dombanya semua menjadi buas. Mungkin itu yang diinginkan oleh pengelola asrama Tauboria.

Ini dosa siapa? Dan, ada apa dibalik jubah?.

)* Penulis adalah Mantan Ketua Asrama Tauboria periode 2016-2017.