Rakyatku, Mari Kutuk!

11
92

Oleh: Victor F. Yeimo)*

Para oportunis, penikmat jabatan dan uang kolonial itu mulai muncul dengan “Otsus Plus” di saat rakyat Papua dirundung duka nestapa, diatas darah dan tulang belulang yang sedang berserakah di bawa penguasa kolonial.

Catat nama mereka baik-baik. Sampaikan kepada seluruh rakyat Papua, mereka adalah aktor utama yang akan memperpanjang penindasan bangsa Papua. Para pengemis ini sesungguhnya tidak lebih baik dari binatang, karena binatang pun tidak akan jatuh masuk ke lubang yang sama.

Sudah kita katakan bahwa kita tidak akan memberi ruang bagi mereka untuk memanfaatkan penderitaan rakyat Papua sebagai komoditas politik mereka dengan penguasa kolonial di Jakarta. Karena itu, mari rapatkan barisan tolak Otsus Plus bentukan para pengemis Jakarta.

Sampaikan kepada semua lapisan rakyat Papua agar mengawal aspirasi politik rakyat West Papua, yakni referendum sebagai solusi damai, demokratis dan final. Itu tugas Indonesia dan PBB untuk memenuhi hak penentuan nasib sendiri yang gagal dan cacat pada Pepera 1969. Bukan Otsus Plus dan segala paket kebijakan kolonial lainnya.

Kompromi damai antar dua entitas politik adalah rakyat West Papua melalui representasi politiknya dan penguasa Indonesia. Bukan lagi antar Provinsi dan Pusat yang sama-sama sebagai penguasa kolonial. Karena Pemerintah Provinsi, DPRP dan MRP bukanlah representasi politik perjuangan bangsa Papua.

Para oportunis Papua yang sedang perjuangkan Otsus Plus ini adalah penyambung nafas kolonialisme di Papua. Otsus gagal, dan mereka hendak perbaiki wajah kolonialisme dengan konsep Otsus Plus. Mereka hanyalah boneka Jakarta yang tidak akan pernah diberi wewenang leluasa diatas tanah Papua.

Penderitaan dibawah 19 tahun Otsus sudah menjadi pelajaran bahwa tidak ada masa depan bangsa Papua dalam NKRI. Jangan bawah diri anda bangsamu Papua ke dalam jurang penindasan lagi! Hentikan semua sandiwara diatas tangisan darah dari sisa-sisa anak negeri West Papua!

Kembalikan kepada rakyat West Papua untuk menentukan nasibnya sendiri.

Port Numbay, 5 Oktober 2019

)* Penulis adalah Juru Bicara Internasional KNPB Pusat