Delapan Warga Denmark Lakukan Ekspedisi Plastik di Jayapura

0
71

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Sebanyak delapan orang anggota sukarelawan dari Denmark melakukan ekpedisi plastik di Papua, Papua Barat dan Cebu Pilipina.

Selain ekpedisi yang berlangsung dari tanggal 27 Oktober hingga Desember 2019, pihaknya juga akan melakukan penelitian dan pendokumentasian dampak dari polusi plastik di laut, termasuk mengunjungi warga lokal, organisasi yang bekerja dengan polusi dari plastik dan pemerintah lokal yang menanggani bank sampah.

Ekspedisi plastik adalah sebuah LSM independen nonprofit yang bekerja bersama sukarelawan untuk mendokumentasikan dan melawan polusi dari plastik.

Baca juga: YSHUA Dipercaya Pemprov Papua Berantas Keaksaraan Dasar di Puncak Jaya

- Iklan -

Lisbeth Engbo, Kepala Komunikasi ekpedisi plastik ketika ditemui suarapapua.com pekan lalu di pelabuhan Dok.9 Jayapura menjelaskan, aktivitas yang dilakukan pihaknya selama ekpedisi ini berlangsung adalah mengambil sampel air laut untuk mempelajari kandungan konten mikroplastik, mendokumentasikan polusi plastik di laut, sungai dan pantai untuk menyampaikan kepada pembuat keputusan, perusahaan dan mitra untuk memperhatikan polusi plastik ini.

Lisbeth Engbo dan Maria Fich Dueholm di pelabuhan Dok.9 Jayapura. (Elisa Sekenyap-SP)

Melakukan pembersihan pantai dan kegiatan penjangkauan lainnya dengan organisasi lokal dan menghadiri pendidikan anak-anak sekolah.

“Secara umum apa yang kami lakukan untuk mendokumentasikan polusi dari plastik di negara Asia untuk berkomunikasikan kepada orang-orang Eropa tentang aktivitas warga lokal dan apa yang mereka pikir tentang polusi plastik ini,” kata Engbo.

Engbo menjelaskan, ketika pertama kali ekspedisi ini dilakukan pada tahun 2014, pihaknya menggunakan kapal berlayar dari Mediterania, Atlantik, Pasifik hingga berlayar ke Papua dan Papua Barat serta berakhir di Pilipina.

Baca juga: Gereja GIDI dan Baptis Diterima Keanggotaannya di Konferensi Gereja Pasifik

Dalam perjalanan itu katanya, melalui alat spesifik pihaknya mengabil banyak sampel air laut pada material di Pasifik, tetapi hanya dua diantaranya yang tidak mengandung kandungan plastik.

Yang menyedihkan kata Engbo, ada salah satu pulau di Pasifik yang secara natural dilindungi dan jauh dari pemukiman,  tetapi pihaknya masih menemukan kandungan plastik di sana.

Sementara, dalam perjalanan ke Sorong Papua Barat hingga Pilipina katanya, pihaknya akan tetap mengambil sampel air laut apakah mengandung plastik atau tidak, sebab secara kasat mata bisa dilihat, tetapi plastik yang telah terbawa arus hingga gelombak air laut sangat kecil kemungkinan untuk bisa dilihat secara kasat mata, tetapi hanya bisa dilihat dengan alat.

“Yang menjadi masalah adalah ikan yang kami makan telah mengandung micro plastik yang kecil, sehingga secara otomatis plastik yang kecil itu ada dalam tubuh kita. Kami masih belum tahu apakah itu berbahaya atau tidak karena masih dalam tahap penelitian,” kata Engbo.

Hal yang sama katanya, seperti ikan atau binatang laut yang mana ketika mengonsumsi plastik, akan seolah-olah kenyang dan tidak bisa mengonsumsi makanan lagi.

Baca juga: Pelayaran Dagang Suku Byak

Serupa disampaikan Maria Fich Dueholm, sukarelawan dalam ekspedisi ini katanya, selama di Jayapura dan Papua Barat pihaknya menginginkan agar bekerjasama dengan lembaga-lembaga lokal, pemerintah maupun warga lokal tentang pentingnya untuk tidak membuang sampah plastik sembarangan.

Tetapi juga adanya rekomendasi yang diberikan kepada lembaga dan pemerintah atau pabrik yang memproduksi plastik tentang buruknya dampak plastik itu.

Kapal yang digunakan tim ekspedisi plastik dalam melakukan perjalanan ini. (Elisa Sekenyap – SP)

Selain itu katanya, ekpedisi ini dilakukan tidak seolah-olah menyerupai pandangan di luar sana yang men judge, tetapi bagaimana berkomunikasi dengan warga tentang apa yang selama ini mereka buat dan tentu warga punya inisiatif untuk melakukanya.

“Ya bagian ini juga akan memberikan informasi di Denmark tentang apa yang terjadi di sini, tetapi juga kepada perusahaan besar di sana yang tetap memproduksi plastik-plastik yang berdampak luas, agar ada kesadaran untuk tidak memproduksi plastik dan mencari cara lain.

Saya juga seorang guru, jadi apa yang dilakukan oleh warga di sini akan saya sampaikan, bahwa soal yang sama dihadapi semua orang di dunia. Dan ini penting untuk memberikan kesadaran bagi anak-anak,” kata Maria.

Baca juga: Masyarakat Minta Pemkab Tambrauw Bangun Pustu di Kampung Baun

Selain itu katanya, pihaknya ingin berbicara dengan pemerintah tentang ide apa yang mesti dilakukan ataupun yang telah dilakukan di Papua.

“Kami harap agar warga tidak membuang sampah sembarangan, tetapi kami liat ada beberapa inisiatif yang bagus. Dimana warga menggunakan botol minuman plastik untuk membuat bunga, tetapi juga ada sejumlah warga di sekitar sini yang secara inisiatif mengumpulkan sampah,” tukasnya.

 

Pewarta : Elisa Sekenyap

Print Friendly, PDF & Email