Mispo Gwijangge Korban Polisi Salah Tangkap

0
2250

Oleh: Paskalis Kossay)*

Mispo Gwijangge adalah anak muda usia 14 tahun yang dituduh sebagai pelaku pembunuhan pekerja jalan PT Istaka Karya pada 2 Desember 2018 lalu di Kabupaten Nduga. Mispo anak kampung yang  tidak fasih berbahasa Indonesia. Ia tinggal di kampung membantu orang tuanya bekerja di kebun.

Seluruh dunia heboh dengan peristiwa pembantaian 17 orang karyawan PT Istaka Karya yang dilakukan TPNPB OPM pimpinan Egianus Kogeya. Karena itu pemerintah Indonesia beraksi keras mengerahkan kekuatan militer untuk menumpas kelompok TPNPB OPM tersebut.

Dalam operasi pengejaran TPNPB OPM, pemerintah menetapkan status daerah operasi militer, sehingga mengerahkan kekuatan militer berlebihan. Akibat operasi militer ini membuat warga sipil memilih mengungsi besar-besaran tinggalkan kampung mereka karena takut ancaman salah tangkap atau salah sasaran. Mispo Gwijangge termasuk salah satu warga pengungsi yang takut salah sasaran tembak aparat keamanan TNI/POLRI.

Baca Juga:  Vox Populi Vox Dei

Akhirnya ternyata Mispo Gwijangge kena salah tangkap oleh polisi.  Mispo dituduh pelaku pembunuhan 17 warga sipil karyawan PT Istaka Karya bersama kelompok Egianus Kogeya. Dalam logika normal, bagaimana mungkin seorang anak usia 14 tahun ini terlibat dalam peristiwa pembunuhan keji itu. Anak dibawah umur secara psikologi pasti grogi, mental jatuh menghadapi sebuah peristiwa sadis.

ads

Apakah polisi yang menangkap dan menyidik Mispo Gwijangge ini termasuk polisi tidak waras? Sudah jelas anak dibawah kok masih harus dituduh pelaku pembunuhan sadis. Mungkin polisi yang menangkap dan menyidik Mispo Gwijangge ini harus diperiksa. Jangan sampai polisi tersebut dalam kondisi sakit jiwa.

Tetapi secara umum dari peristiwa penangkapan anak dibawah umur ini kita bisa menilai rupanya aparat keamanan TNI/POLRI sudah stres. Berada pada tingkat kejenuhan yang sangat tinggi. Dipaksa harus tumpas keberadaan kelompok TPNPB OPM, tidak mudah seperti yang dibayangkan . Harus dihadapi tantangan berat terutama tantangan kondisi alam yang bergunung curam dan terjal serta kedinginan suhu dibawah min derajat.

Baca Juga:  Indonesia Berpotensi Kehilangan Kedaulatan Negara Atas Papua

Kondisi tantangan alam ini membuat pasukan yang bertugas di medan operasi menjadi stres, akhirnya sering melakukan tindakan operasi salah target termasuk salah tangkap terhadap Mispo Gwijangge anak dibawah umur ini.

Demikian pula banyak terjadi salah tembak terhadap warga sipil selama ini termasuk Hendrik Lokbere sopir pribadi wakil bupati merupakan bagian dari perilaku anggota TNI/POLRI yang sudah stres dengan tantangan kondisi di medan konflik di sana.

Tantangan alam tersebut membuat aparat TNI/POLRI mengalami kesulitan berhadapan langsung dengan kelompok TPNPB OPM. Terpaksa rakyat sipil yang menjadi sasaran. Karena itu wajar, rakyat sipil menjadi ketakutan lalu memilih untuk mengungsi hanya karena kekuatan salah sasaran tindakan militer.

Baca Juga:  Freeport dan Kejahatan Ekosida di Wilayah Suku Amungme dan Suku Mimikawee (Bagian 4)

Maka semua pihak bersuara mendesak Presidenn Jokowi supaya segera ditarik pasukan militer dari daerah konflik. Desakan  untuk penarikan pasukan ini berulang kali disuarakan. Tetapi Presiden Jokowi tetap saja diam tidak mau direspon dengan cepat.

Hampir tidak bisa dipahami apa pertimbangan Presiden memaksakan pasukan tetap bertahan didaerah konflik . Padahal rakyatnya didaerah sudah mengeluh dengan kondisi yang dihadapi adanya operasi militer yang salah sasaran itu.

Jika Presiden tetap diam, pasukan di lapangan banyak yang stres , akan banyak muncul salah sasaran, entah salah tangkap atau salah tembak. Rakyat sipil akan terus menjadi korban . Siapa lagi korban seperti Mispo Gwijangge berikutnya. Kita tunggu episode berikut.

)* Penulis adalah Politisi Papua

Artikel sebelumnyaKampung Sima di Nabire Rawan Banjir
Artikel berikutnyaKPU Kabupaten Yahukimo Membuka Pendaftaran Calon Anggota PPD