Bagaimana Sikap Kita pada Corona?

0
2614

Oleh: Yan Ukago)*

Kita tidak pernah takut pada Corona. Itu hanya sebuah virus yang sama seperti virus lainnya. Orang yang sehat adanya akan pulih kembali dengan antibodinya sendiri yang Tuhan taruh dlm tubuhnya sejak lahir. Atau sembuh maksimal setelah berobat ke rumah sakit. Yang kita takutkan adalah rumah sakitnya yang tidak mampu menampung membludaknya pasien Corona. Akhirnya yang masih baik juga tidak tertolong dan pergi dari dunia ini.

Corona mungkin akan mengepung semua negara, tapi negara yang IPMnya tinggi, rakyatnya sehat, kesadaran tinggi dan medisnya siap akan mampu lawan dengan segala cara. Negara-negara itu jumlah kasusnya memang tinggi tapi mampu atasi. Yang jadi ukuran bukan masuk tidaknya corona tapi berapa yang meninggal. Singapura kasusnya tinggi tapi belum ada yang meninggal. Indonesia angka sama tapi sudah meninggal banyak.

Baca Juga:  Kura-Kura Digital

Tugas pemerintah bukan berdebat di TV soal teori corona tapi beri penjelasan yang real pada rakyat, bahwa Corona itu bisa diatasi dan gimana kiat-kiat hadapi corona bukan dalam bahasa kedokteran tapi dalam bahasa indonesia yang real untuk akar rumput. Bahasa dan iklan yang mudah dimengerti orang awan. Jokowi tegas perintahkan semua TV agar tidak tayangkan corona yang masih perdebatan para ahli. Rakyat jangan dudul 24 jam depan TV, otak nanti full dengan corona yang tidak benar. Alihkan pandangan ke dunia luar halaman rumah yang masih indah. Pemerintah pjnua tugas bukan bicara-bicara tapi siapkan tenda-tenda darurat utk rumah sakit sementara dengan kontrak medis dan peralatan dr negara lain.

Baca Juga:  Indonesia Berpotensi Kehilangan Kedaulatan Negara Atas Papua

Pemerintah tidak perlu himbau tetang iman dan keyakinan. Itu bukan tugas Pemerintah. Itu urusan masing-masing pribadi orang utk mengatasi resah dan gelisah dalam hatinya. Ketika seseorang tiba-tiba diserang Panas badan tinggi dan demam menggigil, klau orang itu beriman ia akan menyakini itu malaria dan Tuhan akan mengubah corona jadi malaria. Itu soal pribadi tiap orang, bukan komsumsi umum. Iman itu milik seseorang, bukan milik bersama. Dengan iman sebesar biji sesawi saja, jangankan corona yang kecil itu, massa sebesar sebuah gunung saja bisa diperintah untuk pindah. Kita hanya perlu iman dan keyakinan yang total, bukan sebagian percaya Tuhan, sebagain takut corona. Hanya kita manusia ini sulit punya iman seperti itu.

ads
Baca Juga:  Politik Praktis dan Potensi Fragmentasi Relasi Sosial di Paniai

)* Penulis adalah intelektual Papua

Artikel sebelumnyaCatatan Kelam: Perempuan Amungme di Wilayah Freeport Hidup dalam Kekerasan (6)
Artikel berikutnyaPapuan People’s Assembly Members Blame Shooting Perpetrators in Intan Jaya