Nasional & DuniaMekanik China yang Pimpin Revolusi West Papua Tutup Usia

Mekanik China yang Pimpin Revolusi West Papua Tutup Usia

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Tan Sen Thay, Menteri Keuangan West Papua Pemerintahan Seth Jafeth Rumkorem (Proklamator Republik West Papua 1 Juli 1971) meninggal dunia di Den Haag (The Hague) Belanda di usia ke 92 tahun pada, Senin (9/8/2021) waktu setempat.

Khabar duka itu diterima suarapapua.com melalui pesan elektronik dari Belanda, Selasa (10/8/2021).

Oridek Ap, diplomat ULMWP urusan Eropa mengaku merasa kehilangan atas kepergian seorang senior dan orang tua, Tan Sen  Thay. Ap menganggap, Tan bukan hanya sekedar mekanik Cina, tetapi lebih dari itu. Dia adalah pejuang dan menteri keuangan pemerintahan West Papua pertama.

Bahkan katanya, setelah reorganisasi pergerakan pada 1985, ia masih aktif terlibat dalam perjuangan. “Saya pertama kali bertemu dengannya pada tahun 1994. Tidak tahu tentang masa lalunya, tetapi dia sangat bersemangat untuk membebaskan Papua Barat dari penjajahan Indonesia, sayangnya terkadang orang-orang kita salah memahami niatnya. Dia membimbing saya untuk sementara waktu. Kami memiliki perbedaan pendapat tentang bagaimana membebaskan Papua Barat. Saya yakin dia punya niat terbaik,” tukas Oridek.

Jeffrey Bomanak, dari OPM menyampaikan bahwa atas nama rakyat bangsa Papua pihaknya berterima kasih kepada Tan Sen Thay atas perjuangan dan kontribusinya dalam mendorong pembebasan bangsa Papua dari Indonesia.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada rakyat dan pemerintah China yang telah mempersembahkan putra terbaiknya dalam perjuangan bangsa Papua Barat. Beliau adalah sosok pemimpin revolusi yang konsisten, tangguh dalam prinsip patriotisme sejati.

“Semua nasihat dan pesan-pesanmu waktu kita bersama akan menjadi bekal dan dasar kami generasi baru untuk mewujudkan cita-cita bangsa Papua untuk merdeka secara ekonomi, politik, sosial dan budaya.”

Latar belakang Tan Sen dan perjuangannya

Sebagaimana dilansir dari Radio New Zealand, Tan Sen Thay lahir di Surabaya, Indonesia dari orang tua China tulen yang kaya. Tumbuh sebagai orang Indonesia Tionghoa selama pembersihan komunis pada 1965 oleh Soeharto. Keluarganya melarikan diri ke Papua Barat, karena takut akan penganiayaan. Orang tuanya adalah transmigran Hokkien China yang bermigrasi ke Indonesia dari China untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Baca Juga:  Kondisi Kamtibmas di Papua Barat Daya Sedang Tidak Baik-baik Saja

Setelah hidup baik dengan masyarakat Papua di Abepura, keluarganya segera mulai membangun reputasi yang disegani di sekitar lingkungan Abepura, Jayapura. Saat itu  Tan Sen masih muda dan melihat sendiri banyak pelanggaran HAM berat yang dilakukan aparat Indonesia terhadap orang Papua Barat. Hal itu memicu kemarahan Tan Sen.

Ia lalu memutuskan dengan tegas. Keesokan harinya langsung menuju hutan untuk bergabung dengan gerakan Papua merdeka yang dipimpin oleh mantan sersan Indonesia, Seth Jafeth Rumkorem.

Rumkorem adalah seorang perwira muda Papua yang cukup karismatik yang dilatih di akademi militer Indonesia di Bandung. Ayahnya Lukas Rumkorem yang telah bergabung dengan milisi nasional Indonesia bernama Barisan Merah Putih. Awalnya, bapaknya dan anaknya (Seth Yafeth) secara terbuka menerima orang Indonesia setelah Belanda keluar dari tanah Papua.

Namun, setelah melihat kekejaman aparat Indonesia terhadap rakyat Papua, Seth Rumkorem segera membelot dan melanjutkan untuk mengatur pemberontakan-pemberontak selama beberapa tahun dari hutan Papua. Pemberontakan terhadap tentara Indonesia.

Akhirnya, pada 1 Juli 1971, Seth Jafeth Rumkorem dan para pengikutnya berkumpul di daerah perbatasan PNG. Tujuannya untuk memboikot Pemilu Papua-Indonesia. Namun setelah konsultasi dengan Tan Sen Thay dan sejumlah orang Papua terkemuka lainnya, Rumkorem memutuskan konstitusi West Papua, parlemen, militer, bendera nasional, dan lagu kebangsaan.

Suaka ke Belanda dan perjuangannya

Tan Sen ketika bertemu dengan Kaisiepo di Belanda dalam proses persatuan. (Dok. Bomenak)

Pada tahun 1975,Tan Sen Thay melarikan diri ke Belanda hanya dengan dua Guldens (mata uang) dan sebuah tas noken tradisional Papua Barat yang dirajutnya.

Ia waktu itu mengklaim diri kepada otoritas imigrasi Belanda bahwa ia adalah salah satu orang Wakil Senior Pemerintahan Papua Barat. Pemerintah Belanda menyadari bahwa dengan mendeportasi Tan Sen, ia akan pasti dianiaya, sehingga diberikan suaka politik di Belanda.

Tan Sen bersikeras bahwa Belanda memiliki kewajiban moral untuk membantu Papua Barat. Setelah insiden Trikora yang terkenal antara Belanda dan Indonesia pada 1961, Belanda dipaksa untuk melepaskan Papua di bawah tekanan internasional.

Saat Pepera, Tan Sen dan rekan-rekannya bersumpah bahwa mereka tidak akan menerima hasil referendum, tetapi akan terus berjuang melawan Indonesia untuk kemerdekaan Papua Barat.

Baca Juga:  Tolak Yonif 762, Warga Tambrauw Palang Pos Satgas 623 di Fef

Setelah pertama kali menginjakkan kaki di Belanda, Tan Sen mulai bekerja di sebuah garasi tua di Den Haag, hanya beberapa mil jauhnya dari Kantor Parlemen Belanda.

“Saya kemudian memilih Den Haag, dekat parlemen Belanda karena pemerintah Belanda memiliki kewajiban moral untuk membebaskan negara saya,” ungkapnya.

Bengkelnya adalah hotspot terkenal untuk memproduksi mobil golf yang terkenal secara nasional pada masa itu.

Sebagai seorang mekanik, Tan Sen mendapat upah minimum 1000 gulden per bulan (sekitar US $ 500 saat itu) untuk bekerja 80 jam seminggu. Selanjutnya dia mengirim sebagian besar pendapatannya kepada rekan-rekannya di Papua Barat yang melakukan sejumlah serangan sporadis terhadap tentara Indonesia dari hutan-hutan terjal di Papua Barat.

Sisa uangnya dibungkus dengan cawat dan disembunyikan di bawah bantalnya, sedangkan ia hanya bertahan hidup dengan mie instan sederhana.

“Satu sen yang disimpan adalah satu sen yang didapat, itu moto saya,” kata Tan Sen. Akhirnya, setelah bekerja keras selama 12 tahun, Tan Sen memutuskan untuk membuka toko suvenirnya sendiri. Ia menamainya Holandia, ibu kota Papua Barat (sekarang Jayapura).

Toko suvenir antiknya menjual segalanya, mulai dari patung porselen impor dan batu permata astrologi langka hingga lukisan seni Konfusianisme dan perhiasan Cina murah.

Uang mulai mengalir dan kerja keras Tan Sen mulai membuahkan hasil. Dia meningkatkan kontribusinya kepada Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Tan waktu itu mengaku memiliki sejumlah dokumen perjuangan Papua, baik waktu di hutan maupun dalam kota. Foto hitam-putih yang tua dari masa gerilyawan Papua Barat pada 1970-an, data transaksi dari profil level tinggi simpatisan Papua Barat di seluruh dunia dan testimoni dari rekruitmen yang baru bergabung dari seluruh dunia.

Ia berjanji bahwa data-data itu akan dikirimkan ke Universitas Leiden jika ia mati. Data-data itu seharga satu juta euro dan keuntungannya akan diberikan kepada istrinya yang orang Papua Barat.

Ia juga merancang dan menenun seragam buatan tangannya, lalu mengirimkannya ke OPM melalui perbatasan PNG. Selain itu, ia banyak mengatur suaka bagi para pengungsi Papua Barat dan membiayai perjalanan mereka ke luar negeri untuk membantu mereka bermukim di negara-negara seperti Swedia dan Yunani.

Baca Juga:  KWI dan PMKRI Tolak Tawaran Presiden Jokowi Kelola Tambang

Banyak orang Papua Barat yang kemudian mengambil suaka di seluruh penjuru Eropa telah mengetahuinya. Mereka memanggil dia dengan Meneer Tan (tuan Tan) atas apa yang ia lakukan untuk Papua Barat.

Pendiriannya sebagai pejuang

Tan Sen ketika bertemu dengan pemerintah Vanuatu. (Dok. Bomenak)

Tan Sen mengklaim bahwa atase militer konsulat Indonesia di Den Haag baru-baru ini mengunjunginya. “Dia meminta daftar pejuang kemerdekaan Papua Barat yang tinggal di pengasingan di Belanda,” ungkap Tan.

Tan Sen tidak mempercayai internet dan tidak memiliki smartphone. Dia hanya menggunakan telepon rumah. Dia tidak berbicara bahasa Inggris tetapi fasih berbahasa Belanda. Dia membaca koran Belanda lengkap di pagi hari, membuat catatan, dan kemudian meletakkan koran itu di arsipnya.

Sebagian besar orang Papua Barat bahkan tidak tahu dia masih hidup hari ini. Bahkan cendekiawan Papua, aktivis, jurnalis internasional, dan generasi muda pejuang Papua yang saya temui selama perjalanan saya di Papua Barat tidak tahu siapa Tan Sen.

Ketika saya bertanya apakah dia tetap optimis untuk Kemerdekaan Papua Barat, Tan Sen mengatakan dia merasa kecewa dengan generasi baru pejuang kemerdekaan Papua yang tidak menganggapnya cocok untuk memimpin mereka lagi.

Mereka tidak akan mengunjunginya atau memasukkannya ke dalam pengambilan keputusan karena mereka merasa dia bukan orang asli Papua dan tidak memenuhi syarat.

“Bagaimana Anda mendefinisikan orang Papua hari ini?” Ada puluhan ribu orang Papua yang bertugas di angkatan bersenjata Indonesia hari ini. Mereka menganggap diri mereka orang Indonesia.”

“Mengapa saya tidak bisa menganggap diri saya orang Papua Melanesia? Jika ras akan menentukan identitas atau kebangsaan anda, tidak akan ada orang Afrika berkulit putih atau orang Eropa berkulit hitam hari ini. Apa yang akan terjadi pada jutaan transmigran Indonesia yang lahir di Papua setelah 1962 dan menganggap diri mereka orang Papua?”

“Saya masih optimis bahwa suatu saya dapat kembali ke Papua Barat yang sudah merdeka dan mandiri nanti,” katanya.

 

Pewarta: Elisa Sekenyap

Terkini

Populer Minggu Ini:

Puspom TNI Terkesan Tertutup Proses Hukum 13 Tersangka Penyiksaan Warga Sipil...

0
“Kasus 13 tersangka penganiaya warga sipil di Puncak ini seharusnya tidak mengulangi atau mendiamkan proses hukum seperti yang dilakukan terhadap tersangka pelaku pembunuhan almarhum Theis Hiyo Eluay dan Aristoteles Masoka.”

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.