Di Mata Uskup Merauke, Wartawan Lebih Suka “Laku” dari pada Kebenaran

0
1498

Oleh: Made Supriatma)*
)* Penulis adalah peneliti Independen

Uskup Katolik dari Merauke ini mengkritik wartawan. Itu dia sampaikan saat berkhotbah. Saya kira ada seorang Walikota, entah dari mana, juga hadir mendengarkan homili Uskup ini. Nada khotbahnya seperti “appeasing the mayor”. Artinya, ngalem-alemi sang Walikota.

Uskup ini bilang, banyak wartawan tidak memberitakan kebenaran. “Apa yang pemimpin tidak bilang, mereka bilang, supaya koran laku. Mereka lebih suka laku daripada kebenaran. Itu nasehat untuk wartawan. Banyak wartawan ada di surga, tetapi lebih banyak yang ada di neraka.”

Profesi wartawan di mata Uskup Merauke ini sangatlah rendah. Mereka mengarang berita agar koran laku. Saya kira, ini dibentuk oleh pengalaman dia berinteraksi dengan wartawan. Tentu, yang dia ajak bergaul, saat dia masih di Ambon maupun sekarang di Merauke, adalah “wartawan” yang bisa dia suruh menulis “kebenaran”. Mungkin juga dia “menghadiahi” wartawan itu dengan amplop gemuk.

Tentu, seperti Pilatus saat mengadili Yesus, kita juga bisa bertanya, “Quid est veritas?”. Apakah kebenaran itu?. Saya kira, dalam kepala Uskup ini kebenaran adalah miliknya — dan konco-konconya yang berkuasa. Dia ingin kebenaran versinya-lah yang ditulis. Orang seperti ini tidak akan pernah menganggap pertanyaan-pertanyaan kritis terhadap dirinya itu adalah kebenaran.

ads
Baca Juga:  Politik Praktis dan Potensi Fragmentasi Relasi Sosial di Paniai

Itulah sebabnya, dalam isi otak Uskup ini, banyak wartawan masuk neraka. Saya tidak tahu dari mana pikiran keblinger melebihi Tuhan ini datang. Saya menduga dari pikiran bahwa dia adalah kebenaran yang absolut.

Saya ingat, Uskup Katolik ini, ketika dipindahkan ke Merauke, yang pertama yang dia cari adalah Korindo. Ini adalah perusahaan kayu dan sawit yang banyak dikritik oleh para aktivis lingkungan. Banyak laporan jurnalistik (ditulis oleh wartawan, for God sake!) dan penelitian ilmiah yang mendokumentasikan perusakan lingkungan dan pelanggaran HAM yang dilakukan perusahaan ini.

Sang Uskup dengan senang hati menerima miliaran dari Korindo. Dia berkilah, uang itu dia perlukan untuk membangun seminari — pendidikan calon Pastor.

Kalau Anda pernah ke Merauke, Anda akan lihat Gereja Katedralnya yang megah dan mewah. Anda akan lihat istana keuskupannya yang lumayan mewah.

Baca Juga:  Musnahnya Pemilik Negeri Dari Kedatangan Bangsa Asing

Dan lihatlah umatnya yang sebagian besar orang asli Papua, yang hidup bergelimang kemiskinan. Umat miskin ini tidak ada dalam pikirannya yang penuh kebenaran itu.

Melihat reputasinya seperti itu, dan melihat keadaan Gereja Katolik di seluruh dunia saat ini terutama dalam hal pemerkosaan terhadap anak-anak oleh para klerus, saya kira saya tidak perlu menyembunyikan kata-kata. Bahwa, semestinya lebih banyak Uskup yang berada di neraka ketimbang wartawan.

Kejahatan paling minimal yang mereka lakukan adalah dengan membiarkan anak-anak dimangsa oleh para imam, uskup, atau bahkan Kardinal. Kasus Kardinal Theodore McCarrick, mantan Uskup Agung Washington DC, yang paling berpengaruh di Amerika Serikat, adalah contoh nyata. McCarrick akhirnya dipecat dari jabatan kardinal dan imamatnya dibatalkan.

Ini penilaian obyektif saya sebagai manusia yang tidak punya klaim sebagai tangan Tuhan yang memonopoli kebenaran.

Dalam pengalaman saya mengamati politik, saya tahu persis bahwa fondasi demokrasi dan kebebasan itu runtuh jika kredibilitas pers dan kebebasan informasi itu diruntuhkan. Ketika ketidakpercayaan disemaikan.

Baca Juga:  Adakah Ruang Ekonomi Rakyat Dalam Keputusan Politik?

Apa yang dilakukan oleh Uskup Merauke ini tidak jauh berbeda dengan kelakuan para Uskup yang melindungi para Klerus yang memperkosa anak-anak yang seharusnya mereka lindungi. Mereka adalah para ‘enablers’ yakni orang-orang yang melindungi kejahatan itu terjadi.

Yang menyedihkan untuk saya adalah betapa banyak pemuka agama, khususnya di lingkungan Katolik, yang menderita sakit seperti ini. Mereka sakit leher akibat mereka terlalu sering mendongak dan menjilat ke atas sembari menginjak ke bawah. Dan, bagi mereka, itu adalah kebenaran?.

Video TikTok ini diberi tanda “like” oleh 13 ribu lebih orang. Jadi, bisa dibayangkan kekuatan podium si Uskup ini.

Quid est veritas, Monsignor?. (*)

Kutipan pernyataan dari Uskup dapat Anda tonton di sini:

Catatan: Artikel ini diterbitkan ulang setelah mendapat izin dari penulis.

Artikel sebelumnyaKasus Paniai Berdarah, Rakyat Tolak Tim Investigasi Buatan Negara
Artikel berikutnyaMasyarakat Pegunungan Arfak Tunggu Jokowi Kabulkan Janji Tahun 2019