Direncanakan Tahun 2020, “Trada” Wujud Rumah Singgah di Kampung Syumbab 

0
687

TAMBRAUW, SUARAPAPUA.com — Steven Yesnath, Ketua Bamuskam kampung Syumbab distrik Tobouw mempertanyakan pembangunan rumah persinggahan masyarakat kampung Syumbab yang direncanakan untuk dibangun di Kali Cabang yang dananya telah dianggarkan pada 2020. 

Yesnath mengungkapkan  bahwa harapan masyarakat untuk mendapatkan rumah di tempat persinggah tidak terwujud.

“Sudah dua tahun kami tunggu pembangunan rumah singgah tersebut tapi semua sia-sia. Selama ini masyarakat distrik Tubouw lebih khususnya kampung Syumbab selalu menumpang di rumah singgah yang dibangun oleh kepala distrik Kwosefo,” katanya kepada suarapapua.com saat dijumpai di Kali Cabang, (7/10/2022) di Tambrauw, Papua Barat.

Baca Juga:  MRP Papua Tengah Berharap Adanya Penyelesaian Konflik Papua Secara Menyeluruh

Lanjut Yesnath, meski sempat drop material untuk bangun rumah singgah, sebagai material telah rusak dan lainya telah diperjual belikan lagi.

“Papan sekitar empat kubik,balok 10×10 dua kubik, balok 5×10  empat kubik rusak termakan rayap, seng dan paku sepertinya telah dijual. Anggaran yang dikeluarkan untuk membangun rumah tersebut sebesar Rp. 200.000.000,” bebernya.

ads

Selain rumah singgah Steven Yesnath mengatakan bahwa sebuah perahu fiber yang merupakan aset kampung Syumbab juga kita hanya dipergunakan secara pribadi.

“Kami punya 2 perahu fiber yang pertama hancur saat banjir, sementara perahu yang satunya dipergunakan secara pribadi. Untuk mencapai Kali Cabang masyarakat Syumbab harus menumpang di perahu-perahu dari distrik Kwosefo,” katanya.

Baca Juga:  Theys Adalah Pejuang, Pemindahan Makam Harus Mendapat Persetujuan Rakyat Papua

Yesnath menjelaskan tujuan membangun rumah persinggahan sebagai tempat beristirahat. Katanya, untuk  menuju kampung Syumbab harus melewati kondisi medan yang sedikit berat  karena harus melewati gunung maupun lereng yang agak terjal.

“Kampung Syumbab itu sangat jauh, dari distrik Kwor kami gunakan perahu selama kurang lebih 3-4 jam  sampai di Kali Cabang (tempat persinggahan) dan melanjutkan dengan berjalan kaki  sekitar 5 jam dengan melewati hutan,gunung bahkan tebing bahkan lereng gunung,” jelasnya.

Baca Juga:  Aksi Penghijauan di Grasberg Dalam Rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup 2024

Bram Yewen, pemuda distrik Kwosefo kepada suarapapua.com membenarkan hal itu, menurut Bram harusnya Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Tambrauw lebih sering kunjungi kampung-kampung yang selama ini terisolir untuk memastikan semua laporan pertanggung jawaban.

“DPMK harusnya datang dan kunjungi kampung-kampung yang sulit terjangkau agar dapat memastikan pembangunan sesuai kebutuhan masyarakat,” katanya.

Bram juga menyampaikan sangat kecewa setelah mendengar permasalah rumah singgah tersebut.

“Lapor harus ditinjau kembali. Itu uang rakyat jadi harusnya adanya pengawasan ekstra,” tungkasnya. 

Pewarta: Reiner Brabar
Editor: Arnold Belau

Artikel sebelumnyaSelama Tiga Tahun Tak Ada Pembangunan di Syumbab, Diduga Ada Laporan Fiktif 
Artikel berikutnyaEmpat Orang Terluka Akibat Dua Kelompok Warga Saling Serang dengan Panah di Kwamki Narama