SKPKC Fransiskan Papua Launching Buku “Terpasung di Rumah Sendiri”

0
539
Frits Ramandey, Helmi, dan Pater Sandro Rangga, OFM, saat berbicara dalam diskusi buku karya Sekretariat Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua berjudul “Terpasung di Rumah Sendiri”, Kamis (27/4/2023) di Rumah Studi Duta Damai St. Nicholaus, Perumnas IV, Padang Bulan, kota Jayapura, Papua. (Supplied for SP)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sekretariat Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua kembali hadirkan buku terbaru berjudul “Terpasung di Rumah Sendiri”.

Launching dan diskusi buku seri Memoria Passionis nomor 41 itu diadakan di Rumah Studi Duta Damai St. Nicholaus, Perumnas IV, Padang Bulan, kota Jayapura, Papua, Kamis (27/4/2023).

Buku Memoria Passionis ditulis berdasarkan kronik. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kronik artinya catatan peristiwa menurut urutan waktu kejadiannya; susunan waktu; yang berhubungan dengan waktu.

Dalam siaran pers ke suarapapua.com, Yuliana Langowuyo, direktur SKPKC Fransiskan Papua, menjelaskan, alasan buku seri Memoria Passionis nomor 41 diberi judul “Terpasung di Rumah Sendiri” karena sepanjang tahun 2022, banyak suara kritis akan kebenaran dan keadilan tidak didengar para pengambil kebijakan atau negara.

Baca Juga:  PAHAM Papua: Proses Hukum 13 Tersangka Penyiksaan Wajib Dilaksanakan di Jayapura

“Banyak orang ditahan, ditangkap karena menyuarakan kebenaran dan keadilan. Ruang gerak untuk menyampaikan pendapat dan berekspresi selalu mendapat tekanan ketika suara itu adalah mengkritisi apa yang sedang terjadi di Tanah Papua,” kata Yuliana.

ads

Di edisi kali ini, pihaknya melibatkan beberapa penulis dari luar SKPKC Fransiskan Papua untuk membantu dalam analisis demi menyempurnakan isi buku setebal 413 halaman itu.

“Kami berterima kasih kepada para penulis analisis yang berkontribusi dalam edisi kali ini, yakni Frits Ramandey, Paskalis Kossay, Petrus Pit Supardi, Helmi, Hipolitus Wangge, dan tim SKPKC Fransiskan Papua,” ucapnya.

Pater Alexandro Rangga, OFM mewakili pimpinan SKPKC Fransiskan Papua menyerahkan buku terbarunya ke salah satu peserta launching dan diskusi buku. (Dok. SKPKC Fransiskan Papua)

Pater Alexandro Rangga, OFM, penulis dan staf SKPKC Fransiskan Papua, mengatakan, isi buku Memoria Passionis ini terbagi 4 bab. Masing-masing bab terdiri dari analisa dan kronik yang terjadi di Tanah Papua.

Baca Juga:  Masyarakat Nduga Tertekan Konflik Berkepanjangan, Begini Saran Anggota DPRP

Pro kontra terhadap keberlanjutan otonomi khusus (Otsus) jilid II, pemekaran daerah otonom baru (DOB), Ekosob, hingga pelanggaran HAM, mendapat porsi cukup di buku ini.

“Masing-masing bab terdiri dari analisis dan kronik,” kata Sandro.

Bab pertama misalnya, fokus dengan highlight tahun 2022 yang sempat menyita perhatian banyak pihak sepanjang tahun yakni Otsus jilid II, DOB, dan gagasan dialog Jakarta-Papua oleh Komnas HAM RI.

Mencuat kembalinya gagasan dialog, juga analisis bidang pertahanan dan keamanan serta konfik bersenjata di Papua diulas dalam bab kedua.

“Sedangkan di bab ketiga membahas bidang sipil dan politik secara khusus penyelesaian kasus-kasus HAM Papua, kebebasan berekspresi maupun korupsi. Dan di bab keempat menyentil kembali persoalan hak-hak dasar dalam bidang pendidikan dan kesehatan yang tidak kunjung membaik,” paparnya.

Baca Juga:  ULMWP Menyatakan Bersolidaritas dengan FLNKS dalam Perjuangan Penentuan Nasib Sendiri
Suasana launching dan diskusi buku berjudul “Terpasung di Rumah Sendiri”. (Dok. SKPKC Fransiskan Papua)

Alasan di setiap bab terdiri dari analisis dan kronik, menurut Langowuyo, kronik menjadi catatan sejarah, dan analisis menjadi pemicu sikap kritis untuk membaca kronik Papua secara lebih komprehensif dan reflektif.

“Komprehensif karena informasi tentang Papua seringkali tidak utuh dan stigmatik. Reflektif karena dibutuhkan ruang untuk merenung sebelum menetapkan suatu kebijakan baru non afirmatif di Tanah Papua,” jelasnya.

Sementara itu, Frits Ramandey memuji konsistensi SKPKC Fransiskan Papua menerbitkan buku seri Memoria Passionis Papua.

“SKPKC Keuskupan Jayapura sangat konsisten menerbitkan buku Memoria Passionis Papua untuk menyumbang pemahaman dan pengetahuan generasi Papua kelak,” kata mantan jurnalis yang kini eksis sebagai pekerja HAM.

Pewarta: Reiner Brabar
Editor: Markus You

Artikel sebelumnyaJumat Ditetapkan Sebagai Hari Intan Jaya Sehat dan Bersih
Artikel berikutnyaApkam di Intan Jaya Siaga Antisipasi Isu Penyerangan Sugapa