BeritaEkonomiTingkatkan Pendapatan Masyarakat Melalui Budi Daya Rumput Laut di Kampung Arareni

Tingkatkan Pendapatan Masyarakat Melalui Budi Daya Rumput Laut di Kampung Arareni

SENTANI, SUARAPAPUA.com — Para petani budi daya rumput laut di kampung Arareni, distrik Teluk Ampimoi, kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, berkesempatan mendapat sejumlah materi penting dari tim dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura.

Efray Wanimbo, ketua tim dosen FMIPA Uncen, menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan program pengabdian kepada masyarakat (PKM) yang tidak lain adalah salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang harus dilaksanakan kepada masyarakat guna memberikan dampak positif bagi kelompok organisasi serta individu di suatu tempat tertentu.

Kali ini, kata Wanimbo, yang menjadi target pengabdian masyarakat adalah di kampung Arareni, distrik Teluk Ampimoi, kabupaten Kepulauan Yapen.

“Tujuan dari kegiatan ini yakni dalam rangka meningkatkan pengetahuan petani rumput laut skala kecil mengenai praktik pra-panen budi daya rumput laut dan menerapkan pengetahuan mengenai praktik pra-panen budi daya rumput laut di lahan tanam masing-masing,” jelasnya.

Kegiatan PKM berbasis kemitraan ini dilakukan tim dosen FMIPA Uncen setelah berhasil memenangkan hibah pengabdian melalui Direktorat Riset, Teknologi dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM) tahun 2023 dengan judul “Upaya Peningkatan Pendapatan Masyarakat Lokal Melalui Budi Daya Rumput Laut di Kampung Arareni Kabupaten Kepulauan Yapen”.

“Kegiatan ini sangat bermanfaat dalam membekali para petani pembudidaya agar dapat mandiri dalam melakukan budi daya rumput laut sesuai dengan standar SNI. 7673.2:2011. Diharapkan dapat membekali petani rumput laut di kampung Arareni mampu membuat suatu perubahan serta memberikan kontribusi pada pengembangan budi daya rumput laut di sektor, produksi, dan produk olahannya,” jelas Efray Wanimbo, dosen Program Studi Ilmu Kelautan FMIPA Uncen, dalam rilisnya.

Baca Juga:  Pemprov Papua Tengah Siap Gelar Multi Event Cabor U-12 dan U-16 di Nabire

Selain itu, lanjut Efray, perlu sampai pada sektor wisata dengan penerapan community based tourism (CBT) yang berdampak terhadap pilar berkelanjutan yang menghasilkan perluasan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan.

“Dalam kegiatan pengabdian ini dilakukan oleh lima orang yang terdiri dari saya sebagai ketua tim, anggota tim Kalvin Paiki (dosen program studi ilmu Perikanan) dan anggota tim Lodwyk Nomensen Krimadi (dosen program studi Kimia), serta dua orang mahasiswa Gabriela Olivia Karisoh dan Sem Tabuni, mahasiswa program studi ilmu Perikanan,” urainya.

Kata Wanimbo, kegiatan dilakukan selama tiga hari, Jumat-Minggu (15-17/9/2023), diikuti oleh 45 orang yang terdiri dari laki-laki 34 orang (76%) dan perempuan 11 orang (24%). Mereka terdiri dari usia kerja muda produktif (15-34 tahun) 12 orang (26,67%), usia kerja dewasa produktif (35-64 tahun) 32 orang (71,11%), dan usia kerja tidak produktif (>64 tahun) 1 orang (2,22%).

Dari jumlah peserta yang hadir, mereka sebelumnya petani budi daya rumput laut dan ada pula yang baru bergabung untuk mendapat pembekalan pengetahuan terkait budi daya rumput laut.

“Adapun peserta yang baru bergabung sebelumnya memiliki niat untuk melakukan budi daya, namun dengan keterbatasan finansial, sehingga belum sempat terlibat melakukan budi daya rumput laut seperti peserta lainnya.”

Dalam pelaksanaan kegiatan dilakukan beberapa tahapan, seperti tahap persiapan, tahapan pelaksanaan program, dan pembimbingan.

“Saat pemberian materi, tim pelaksana menekankan bahwa kegiatan budi daya rumput laut harus sesuai dengan prosedur budi daya rumput laut yang benar, kuat bebas,” kata Wanimbo.

Baca Juga:  Tamatkan 25 Siswa SSB, Kogoya: Kami Selenggarakan Tiga Program

Diuraikan, semua mekanisme produksi budi daya rumput laut harus sesuai dengan SNI. 7673.2:2011. Standar tersebut telah berhasil digunakan untuk kegiatan budi daya rumput laut di Indonesia, khususnya yang menggunakan metode budi daya long line.

Hal lain yang menjadi faktor penting dalam budi daya rumput laut, yakni petani harus lebih tekun. Kata Kalvin Paiki, dalam kegiatan budi daya rumput laut membutuhkan ketekunan, sehingga para petani dapat mengetahui dengan baik pokok permasalahan yang menjadi hambatan dalam pertumbuhan yang berlangsung di lokasi budi daya tersebut, dalam hal ini seperti adanya kasus penyakit ice-ice yang sering menjadi faktor penghambat pertumbuhan rumput laut yang dihadapi masyarakat.

“Tim PKM menganjurkan bahwa lokasi budi daya harus terindung dari ombak, kecepatan arus 20-40 centimeter per detik dan kedalaman perairan minimal dua meter (pada saat surut terendah). Lokasi harus relatif jauh dari muara sungai, perairan tidak tercemar, tidak ada alur transportasi, lokasi secara alami merupakan habitat rumput laut,” bebernya.

Selain itu, kata Paiki, dalam proses produksi seperti pengikatan bibit harus menggunakan jarak tanam 25-30 cm dengan berat 50-100 gram di setiap titik tali pada bibit diikat dengan simpulan longgar.

“Bibit diikat pada tali ris dengan rentang waktu empat jam jarak tanam 100-200 centimeter bibit yang ditanam berada 20-50 centimeter dibawah permukaan perairan. Untuk tahapan pemeliharaan yakni produksi bibit membutuhkan waktu 25-30 hari dengan selama masa pemeliharaan dapat melakukan pemotongan tiga seminggu, sedangkan untuk pemanenan hasil yaitu membutuhkan waktu pemeliharaan 30-45 hari,” urai Paiki.

Baca Juga:  Literasi di Papua Sangat Rendah, 30 Persen Anak Belum Bisa Membaca

Dalam tahapan pemberian materi yang hendak dilakukan para petani juga secara langsung praktek lapangan terkait dengan teknik produksi rumput laut sesuai dengan standar SNI. 7673.2:2011.

“Dari kegiatan tim PKM telah melakukan uji keberhasilan program tersebut dengan melihat tingkat pemahaman masyarakat melalu pre-test dan post-test. Dari hasil yang diperoleh diketahui bahwa pada materi pelatihan yaitu penentuan kesesuaian lokasi budidaya rumput laut bahwa tingkat pemahaman peserta sebelum pelatihan yaitu sebesar 53 persen dan sesudah pelatihan meningkat menjadi 56 persen,” kata ketua tim.

Pelatihan hari kedua, Sabtu (16/9/2023), dengan materi pelatihan yaitu budi daya rumput laut. Berdasarkan hasil pelatihan yang diperoleh diketahui bahwa tingkat pemahaman peserta, sebelum pelatihan yaitu 47% dan sesudah pelatihan meningkat menjadi 61%.

Dalam pelatihan ketiga, Minggu (17/9/2023) dengan materi pelatihan yaitu manajemen kelompok. Berdasarkan hasil pelatihan diketahui tingkat pemahaman masyarakat sebelumnya 74% dan sesudah pelatihan meningkat menjadi 75%.

“Dalam pelaksanaan kegiatan, masyarakat dengan antusias menerima semua saran, masukan oleh tim PKM. Harapan masyarakat adalah kegiatan serupa perlu dilakukan berupa pendampingan hingga tahap pelatihan pengeringan rumput laut dan pengolahan hasil budi daya rumput laut menjadi beranekaragam produk seperti praktek pembuatan mie dan stik seperti yang sudah dilakukan oleh daerah lain,” tuturnya.

Tim PKM berharap, pelatihan tersebut akan menolong masyarakat guna meningkatkan ekonomi masyarakat kampung Arareni.

Selain kampung Arareni, di distrik Teluk Ampimoi terdapat 10 kampung lainnya yakni Tarei, Ampimoi, Randawaya, Waita, Ayari, Bareraif, Warironi, Wabuayar, Koroapi, dan Siromi. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Mendukung Kemampuan Menulis Anggota, RPM SIMAPITOWA Gelar Workshop Jurnalistik

0
“Kegiatan ini luar biasa. Sebelumnya tidak pernah melakukan kegiatan seperti ini, kecuali saat seminar dan penerimaan siswa dan mahasiswa baru. Jadi dengan dilakukannya kegiatan ini berharap agar adik-adik yang telah mengikuti kegiatan ini bisa terapkan apa yang telah diterimnya,” ujarnya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.