Kami Minoritas, Tetapi Kami Tidak Akan Kalah!

0
448
Aksi mahasiswa Papua di Jakarta. (Ist)
adv
loading...
Oleh: Markus Haluk*

*) Sekretaris Eksekutif ULMWP

Semua orang Papua yang saya kenal menginginkan kemerdekaan dari Indonesia yang telah menjajah tanah mereka selama enam dekade.

Meski ratusan ribu warga Papua telah dibunuh oleh aparat keamanan Indonesia sejak tahun 1963, namun perlawanan masyarakat Papua tidak pernah berhenti. Bagi sebagian besar masyarakat Papua, tahun 2024 adalah tahun yang menentukan perjuangan mereka.

Mimpi yang melampaui segala ketakutan

Di satu sisi, lebih dari sebelumnya, mereka memiliki tekad dan gerakan mereka semakin terorganisir. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya tentara Indonesia yang tewas di wilayah konflik dan meningkatnya perlawanan sipil di banyak kota di Tanah Papua.

ads

Namun di sisi lain, masyarakat asli Papua semakin terpinggirkan. Mereka hanya mewakili sekitar 40% penduduk Papua yang diduduki Indonesia atau kurang dari 1% total penduduk Indonesia.

Dalam kondisi inferioritas jumlah, banyak yang bertanya bagaimana masyarakat Papua bisa lepas dari cengkeraman Indonesia? Memang benar, perjuangan ini penuh dengan resiko, namun mimpi akan perubahan melebihi ketakutan apa pun.

Baca Juga:  Saatnya OAP Keluar Dari Perbudakan Dosa dan Tirani Penjajahan Menuju Tanah Suci Papua

Semangat menentukan kemenangan

“Kami memang minoritas dalam hal jumlah, tapi itu tidak berarti kami akan kalah,” kata Chris Dogopia, ketua komite aksi pusat United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), yang berbasis di Jayapura.

Bagi Chris, Papua ibarat api di dalam sekam, hanya membutuhkan sedikit gesekan untuk bisa meledak. Situasi ketidakpuasan yang meluas, pelanggaran hak asasi manusia yang merajalela, dan kemerosotan ekonomi saat ini menunjukkan bahwa gerakan kerakyatan yang kuat akan segera terjadi.

Rezim Jakarta tahu bahwa keberadaannya terancam di Papua: 47.000 tentara dikerahkan ke sana, lebih banyak dibandingkan di tempat lain. Ada kemungkinan bahwa pemberontakan Papua yang akan datang, yang lebih besar dari yang terjadi pada tahun 2019, juga akan mempertemukan masyarakat migran Indonesia, terutama mereka yang lahir atau sudah lama tinggal di Papua.

Baca Juga:  Papua Sedang Diproses Jadi Hamba-Nya Untuk Siapkan Jalan Tuhan

Aktivisme sebagian masyarakat Indonesia dalam solidaritas terhadap masyarakat Papua semakin terlihat, terutama di media sosial. Seperti kasus Muhammad Iqbal, yang ditangkap pekan lalu oleh kepolisian Indonesia karena mengunggah video yang memprotes perilaku sewenang-wenang rekan senegaranya terhadap penduduk asli Papua menyusul kerusuhan di Jayapura pada 28 Desember.

Tindakan represif Polri seperti ini bisa dimaknai sebagai pengakuan atas ketidakmampuan, ketidakberdayaan mereka.

Bersatu untuk pembebasan Papua

Sebagaimana banyak jalan menuju Roma, banyak juga cara untuk mencapai kemerdekaan Papua. Pertanyaannya sekarang adalah cara mana yang terbaik untuk diambil? Banyaknya revolusi sepanjang sejarah telah menunjukkan bahwa rakyat biasa mampu menggulingkan tirani. Namun jika hanya yang berhasil saja yang diketahui, banyak pula yang tidak disebutkan yang gagal.

Menanggapi hal ini, seorang aktivis Papua yang tidak disebutkan namanya berkomentar:

“Sejak berdirinya ULMWP pada tahun 2014, berbagai upaya telah dilakukan untuk mengkonsolidasikan seluruh faksi dan kekuatan untuk memaksimalkan efektivitas perjuangan Papua. Kita telah belajar banyak dari berbagai gerakan rakyat di seluruh dunia. Banyak yang gagal karena terlalu mengandalkan satu gerakan. pemimpin, dan gerakan-gerakan tersebut secara otomatis runtuh ketika pemimpin tersebut disingkirkan. Itu sebabnya dalam ULMWP, tidak ada pemujaan terhadap pemimpin. Kami ingin menciptakan masyarakat yang damai. Oleh karena itu, kami menolak untuk terkurung pada ideologi yang kaku. Perjuangan kami bersifat inklusif dan terbuka. Bagi kami, menjadi “satu bangsa satu jiwa” adalah yang paling penting.

Baca Juga:  Mengungkap January Agreement 1974 Antara PT FI dan Suku Amungme (Bagian II)

Sebuah kepastian

Jikapun Indonesia mempraktekkan penjajahan dan penindasan kejam di Tanah Papua, tidak sedikit aktivis hak asasi manusia dunia meyakini masyarakat asli Papua akan menggapai kemerdekaan yang didambakan selama ini. Seperti diaminkan Peter Gary Tatchell, militan hak asasi manusia.

Maka, ada baiknya pahami pernyataan Peter Gary Tatchell: “Papua merdeka adalah suatu kepastian karena tidak ada tirani yang bertahan selamanya!”. (*)

Jayapura, 5 Januari 2024

Artikel sebelumnyaCegah Krisis SDM Papua, Kuayo: Selamatkan Anak Dari Pengaruh Negatif!
Artikel berikutnyaDusun Sagu Maari Milik Marga Klagaf Terancam Hilang