Tanah PapuaDomberaiDusun Sagu Maari Milik Marga Klagaf Terancam Hilang

Dusun Sagu Maari Milik Marga Klagaf Terancam Hilang

SORONG, SUARAPAPUA.com — Dusun Sagu Jilan atau Maari adalah dusun sagu tersisa dari marga Klagaf sub suku Moi Sigin yang terancam hilang akibat perluasan kebun sawit di distrik Moisegen, kabupaten Sorong, Papua Barat Daya.

Mesak Klawen, tetua adat yang saban hari habiskan waktunya di dusun Sagu Maari, mengaku sagu merupakan sumber kehidupan masyarakat sekaligus pendapatan ekonomi yang masih dipertahankan hingga kini.

Saat dijumpai suarapapua.com, Senin (7/1/2024), Mesak akui dusun Sagu Maari merupakan pusat kehidupan bagi komunitas marga Klagaf, Klawen, dan lainnya yang mendiami kampung Ninjimur, distrik Moisegen, kabupaten Sorong.

Selain bahan makanan pokok, kata Mesak, tepung sagu sebagai sumber pendapatan ekonomi. Setiap tumang sagu menghasilkan rupiah untuk menanggung kebutuhan anak sekolah dan lainnya. Selain pendapatan bagi masyarakat adat Moi secara umum dan Moi Sigin khususnya, sagu dijadikan salah satu pangan pokok dari zaman dahulu sebelum mengenal beras. Para leluhur ke mana-mana akan membawa sagu sebagai makanan pokok mereka.

Baca Juga:  Dewan Adat Segun: Tanah Jangan Dijadikan Lahan Bisnis!

“Kami orang Moi hidup dari sagu. Dari dulu, kitong ke mana-mana bawa sagu, bukan keladi atau petatas. Benar, kitong hanya makan sagu. Beda dengan anak perempuan, kamu di Tambrauw bisa makan petatas, singkong, dan keladi. Kami hanya sagu saja. Sagu ini sudah kitong punya hidup,” cerita Mesak Klawen sambil memperlihatkan sagu kering yang oleh masyarakat setempat sebut Sagu Pipa.

Ia mengisahkan hal pilu lain ketika dusun sagu tersebut mulai dikepung perusahaan sawit. Jarak antara dusun Sagu dan kebun sawit tidak sampai satu kilo meter. Saking luasnya dusun sagu tersebut, marga setempat suka tokok berpindah-pindah. Mereka setelah menebang sagu tua di satu titik hingga habis, kemudian berpindah ke area lainnya.

Meski kini setia menjaga dusun sagu tersebut, Mesak Klawen tak pastikan apakah anak dan cucunya akan melestarikan sagu di dusun Maari atau tidak.

Baca Juga:  Pengurus Baru LMA Malamoi Diminta Merangkul Semua Pihak

“Dusun sagu luas. Lebih dari satu hektar. Tebang di satu tempat sampe habis, lalu pindah ke tempat lain. Ditebang, ditokok dan hasilnya dijual. Itu kitong lakukan dari sejak tahun 1980-an. Dusun sagu ini kami jaga, tetapi tra tahu nanti anak dan cucu dong bisa jaga atau tidak? Di sini tua marga sudah serahkan ke perusahaan tambang. Kita mau tinggal di mana? Semua pasti pindah ke dusun sagu. Memang trada tambang, tapi di sebelahnya ada sawit. Jaraknya dekat saja, lihat itu ada kebun sawit,” jelasnya sambil menunjukan jarak antara kampung Ninjimur dan perkebunan kelapa sawit.

Tak jauh dari tempat tokok sagu, Selviana Klawen, seorang ibu muda sedang membakar api di pinggir pohon sagu. Salah satu putri Mesak Klawen itu sejak SD memang sudah mahir pangkur dan ramas sagu.

Baca Juga:  SMP PGRI Kota Sorong Selalu Tampung Anak-Anak Buangan dari Sekolah Lain

Selviana bercerita, dusun sagunya tak jauh dengan kebun kelapa sawit. Ia setiap minggu tokok sagu satu pohon. Dari satu pohon sagu menghasilkan 10-12 tumang. Satu tumang dijualnya Rp45.000 jika pembeli datang langsung ke dusun sagu.

“Jarak sawit ke kebun hanya 500 meter. Dusun sagu kami ini yang masih ada. Kalau sawit beroperasi ya kami tra ada dusun sagu lagi. Sagu ini sudah yang kami hidup setiap hari. Daripada kerja di sawit tunggu sebulan baru terima gaji. Itu juga kalo dibayar. Tidak ya tunggu sampe tiga atau enam bulan baru cair,” tuturnya.

Kata Selviana, mereka mempunyai salah satu pelanggan yang tiap minggu datang mengangkut tumang untuk dijual di Sorong.

“Hasil tokok sagu dalam bentuk sagu tumang biasanya dibeli orang. Kami pu langganan pak Haji. Setiap minggu dia biasa datang muat sagu tumang dan dibawa ke kota.” []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.