ArtikelCatatan Aktivis PapuaPapua Sedang Diproses Jadi Hamba-Nya Untuk Siapkan Jalan Tuhan

Papua Sedang Diproses Jadi Hamba-Nya Untuk Siapkan Jalan Tuhan

Oleh: Selpius Bobii*
*) Koordinator Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua (JDRP2)

Amsal 14:34 “Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa”.

Kata “hamba” dalam bahasa Yunani adalah “doulos” artinya “budak”, yang artinya hamba yang terikat. Menjadi hamba Tuhan merupakan panggilan khusus dari Bapa Yahwe. Hamba Tuhan memiliki kesalehan dalam imannya dan hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus. Tugas hamba Tuhan memiliki peran penting dalam pertumbuhan iman dan persekutuan jemaat umat.

Sebagaimana bangsa Israel ditempa duka dan kecemasan di Padang Gurun, demikian pula bangsa Papua sedang diproses Tuhan dalam duka dan kecemasan. Sebagaimana bangsa Israel bersungut-sungut di Padang Gurun, demikian pula bangsa Papua juga bersungut-sungut kepada Tuhan dalam perjalanan perjuangan ini.

Sebagaimana orang Israel yang tidak taat pada perintah Tuhan mati dibunuh karena berbagai sebab, demikian pula orang Papua yang tidak bertobat yang mengeraskan hati, sedang dimusnahkan karena berbagai sebab. Pada akhirnya, sesuai petunjuk Tuhan: “hanya sedikit orang pilihan yang akan masuk menikmati air susu dan madu di Tanah Suci Papua”. Sedikit orang yang adalah pilihan Tuhan itu akan dipakai Tuhan pada satu jam terakhir menjadi saksi bagi dunia.

Mereka yang memasuki Tanah Kanaan adalah mereka yang diproses oleh Tuhan melalui berbagai ujian di Padang Gurun untuk menjadi hamba-Nya. Ada tertulis dalam kitab Imamat 25:55 (TB) “Karena pada-Kulah orang Israel menjadi hamba; mereka itu adalah hamba-hamba-Ku yang Kubawa keluar dari tanah Mesir; Akulah Tuhan, Allahmu.” Demikian pula bangsa Papua akan menjadi hamba-Nya menjelang akhir zaman bergandeng bersama bangsa Israel hamba-Nya untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

Bangsa Papua akan diberikan waktu satu jam terakhir untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Bangsa Papua akan menjadi saksi untuk memberkati bangsa-bangsa di dunia. Tentang hal ini sudah menjadi rahasia umum. Banyak pihak, baik pada masa lalu, juga pada kini Tuhan sudah singkapkan rahasia tentang masa depan bangsa Papua.

Baca Juga:  Indonesia Berpotensi Kehilangan Kedaulatan Negara Atas Papua

Pada masa lalu mata dunia tertuju ke Papua karena sumber daya alam yang melimpah dan keindahan pesona alam yang elok rupawan. Kini mata dunia sedang tertuju kepada Papua karena Papua itu menyimpan beragam misteri. Tuhan sudah mulai menyingkapkan rahasia itu satu persatu kepada berbagai pihak, baik kepada orang Papua maupun orang lain yang Tuhan kehendaki misteri itu dibuka.

Bangsa yang ditimpa duka dan kecemasan itu akan segera dipulihkan Tuhan. Bangsa yang selama ini merasa dirinya yatim piatu bagai anak ayam kehilangan induknya, akan segera ditolong oleh Tuhan. Bangsa yang merana seorang diri di ufuk Timur yang selama ini dirundung duka nestapa, akan segera dihibur oleh Tuhan. Air mata duka Papua akan berubah menjadi air mata suka cita. Jiwa yang letih lesu dan berbeban berat, akan segera dilimpahi suka cita dan kebebasan total lahir maupun batin.

Sebelum semuanya itu terjadi, ada persoalan mendasar yang harus kita bereskan yaitu “kita masing-masing harus bertobat lahir baru di dalam Tuhan”. Selagi masih ada waktu, mari kita memulihkan diri masing-masing agar pada waktu-Nya kita juga diizinkan Tuhan memasuki Tanah Suci Papua.

Ketika berita tentang pertobatan masuk di dalam telinga kita, janganlah kita menunda waktu untuk bertobat lahir baru di dalam Tuhan, sambil menjaga kekudusan diri di dalam kebenaran firman Tuhan. Janganlah kita mengeraskan hati; juga janganlah kita menutup pintu hati. Marilah kita memohon Tuhan untuk bersihkan noda dosa di dalam relung hati kita, dan mengundang Tuhan bertahta di dalam hatinya.

Tuhan butuh hamba yang setia dan mengabdi kepada Tuhan dalam keadaan apapun. Seorang hamba adalah budak yang terikat kepada tuannya. Ingatlah bahwa kita sudah dibayar lunas oleh darah-Nya yang tertumpah di atas bukit Kalvari satu kali untuk selamanya, maka kita menjadi milik Kristus, menjadi hamba Kristus Tuhan.

Baca Juga:  Hilirisasi Industri di Indonesia: Untung atau Buntung bagi Papua?

Menjadi hamba Kristus berarti hamba yang taat pada perintah Tuhan dan menjauhi larangan-Nya. Menjadi hamba Kristus adalah hamba yang senantiasa melaksanakan kehendak Tuhan. Bangsa Papua sedang diproses Tuhan untuk menjadi hamba-Nya pada menjelang akhir zaman. Maka itu, marilah kita berbondong-bondong datang bersujud pada kerahiman Tuhan, agar dosa kita diampuni dan kita pun turut serta memasuki Eden Papua untuk siapkan jalan bagi Tuhan.

Tuhan Yesus telah memberikan teladan yang luar biasa kepada kita pengikut-Nya bagaimana menjadi pelayan yang sejati. Pertama-tama, Tuhan Yesus yang adalah “Firman Kebenaran” itu mengambil rupa menjadi seorang hamba (inkarnasi). Tuhan Yesus (Yushua Hamashiach) melaksanakan tugas yang diembankan Bapa Yahwe kepada-Nya. Inti pewartaan Tuhan Yesus adalah “bertobat sebab Kerajaan Allah sudah dekat”. Sebagai bukti kesetiaan kepada Bapa Yahwe, Tuhan Yesus taat sampai mati di Kayu Salib.

Penderitaan yang sedang dialami oleh bangsa Papua adalah bagian dari ziarah memikul Salib Kristus. Bangsa Papua memikul Salib untuk memulihkan kembali kemerdekaan kedaulatan 1 Desember 196, agar rencana Tuhan terwujud di atas tanah air Papua dan dunia. Karena kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa. Bangsa Papua sedang berdarah-darah untuk menegakkan kebenaran dan keadilan.

Tuhan Yesus ditolak oleh imam-imam kepala karena mewartakan Kkebenaran firman Tuhan. Ia pun dimusuhi oleh imam-imam kepala dan bersekongkol dengan kaum Romawi, sehingga dijatuhi hukuman gantung di Kalvari. Bangsa Papua pun dimusuhi oleh negara Indonesia dan para sekutunya karena berjuang untuk memulihkan kembali kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua 1 Desember 1961.

Ada tertulis dalam kitab Galatia 4:16 “Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu?”. Bangsa Papua dijadikan sebagai musuh oleh Negara Indonesia dan para sekutunya karena bangsa Papua mengatakan kebenaran kepada dunia dan berjuang untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian.

Baca Juga:  Mengungkap January Agreement 1974 Antara PT FI dan Suku Amungme (Bagian I)

“Kebenaran selalu disalahkan, tetapi tidak terkalahkan”. Tuhan Yesus disalahkan dengan berbagai dalih, sehingga dijatuhi hukuman gantung di kayu salib, tetapi pada akhirnya Tuhan Yesus mengalahkan maut dan dibangkitkan dengan jaya pada hari ketiga. Jadi Yesus yang adalah Sang Logos – Sang Firman Kebenaran disalahkan dan ditolak oleh dunia, namun Tuhan Yesus mengalahkan maut dan keluar sebagai Pemenang Sejati.

Demikian pula bangsa Papua yang berdarah-darah dalam perjuangan ini, akan keluar sebagai pemenang akhir, karena Tuhan Yesus yang adalah Sang Firman Kebenaran itu senantiasa bersama dengan bangsa Papua memikul Salib menuju puncak kemenangan iman untuk wujudkan rencana Tuhan indah pada waktu-Nya.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi kebenaran, keadilan, demokrasi, dan Hak Asasi Manusia. Bangsa Papua sedang diproses oleh Tuhan menjadi hamba-Nya untuk dipakai menjadi saksi-Nya menjelang akhir zaman. Maka itu, marilah kita siap sedia merendahkan diri untuk diproses oleh Tuhan melalui jalan “kesadaran, pertobatan (Lahir baru di dalam Tuhan), perdamaian dan persatuan di dalam rencana kehendak Tuhan menuju Tanah Suci Papua”.

Pengorbanan Tuhan Yesus di atas Kayu Salib di Golgota adalah untuk menebus dosa umat manusia. Sementara pengorbanan bangsa Papua dalam perjuangan ini adalah untuk menebus dan memulihkan kembali kemerdekaan bangsa Papua 1 Desember 1961. Kita lakukan apa yang kita bisa lakukan, selebihnya Tuhan akan sempurnakan.

Lukas 17:10 “Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

Atas pertolongan Tuhan, Papua pasti bisa.

Akhirnya, “Satu rakyat satu jiwa siapkan jalan Tuhan”. (*)

Jayapura, Selasa, 6 Februari 2024

Terkini

Populer Minggu Ini:

Dua Hari GCC, PM Rabuka: Jadilah Pemimpin Adat Bagi Semua Warga...

0
“Hari ini kita mengingat kembali fondasi yang menjadi dasar kita membangun GCC. Kita mengingat para pemimpin kita yang dengan gagah berani berjuang untuk menjaga posisinya,” kata Sitiveni Rabuka, dilansir fijitimes.com.fj.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.