Penikaman Dua Warga di Paniai, DAP: Tarik Pasukan Tak Jelas!

0
1055

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Dewan Adat Papua (DAP) menyatakan tidak menerima tindakan dua oknum militer di Paniai, tepatnya Kampung Uwibutu, menikam dua warga sipil, Yus Degei (32) dan Piet Degei (27), Senin (1/5/2017) lalu.

“Saya minta tarik pasukan yang tidak punya tupoksi jelas dari Paniai. Seperti pos Timsus 753/AVT, Kopassus,” tegas John NR. Gobai, sekretaris DAP yang juga ketua Dewan Adat Daerah Paniyai, melalui siaran pers, Kamis (4/5/2017) sore.

Dari laporan kronologi kejadian yang diterima John, tak ada alasan kuat bagi oknum tentara tersebut melakukan tindakan penikaman terhadap Yus Degei dan Piet Degei, yang hendak beli sabun rinso. (Baca juga: Hendak Beli Sabun di Kios, Anggota TNI Tikam Dua Warga Sipil di Paniai)

“Pemilik kios menuduh kedua korban curi rinso, hingga pemilik kios panggil tentara di Pos Timsus 753 dan begitu tiba langsung tikam kedua korban tanpa tanya. Ini tidak boleh terjadi. Pemilik kios dan oknum aparat harus buktikan apakah benar ditemukan barang bukti berupa sebungkus rinso itu? Kalau tidak bisa buktikan, maka pelaku harus diproses,” tuturnya.

John juga menyesalkan kejadian itu karena tuduhan tanpa bukti hingga terjadi penikaman. (Baca juga: Ini Kata Korban yang Ditikam TNI di Paniai)

“Kalau mau dagang, ya dagang saja. Jangan seperti itu, tuduh sembarang. Tuduh curi rinso kecil hingga tikam orang. Ini aneh. Semua yang datang ke Papua harus pahami budaya dan style orang Papua. Karena kalau tidak, akan selalu ada kekerasan demi kekerasan,” tandasnya.

Para pedagang di Paniai diminta untuk berdagang dengan cara yang benar, bukan lantas mencari musuh dengan menjadi informan, memata-matai warga. “Pedagang juga jangan pelihara aparat dengan jatah preman demi bisnismu,” tegas John.

Untuk itu, ia minta Kapolres Paniai dan Pabung Kodim Paniai di Enarotali harus segera menjelaskan kasus ini dan memproses anggota yang terlibat dalam penikaman dua warga sipil.

“Pangdam dan Kapolda Papua segera usut kasus ini. Kami tidak mau ada kasus kekerasan, jangan tambah korban di Paniai,” ujarnya.

Senada diungkapkan Hanok Herison Pigai, direktur Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema) Paniai.

“Kami berharap Danyon 753/AVT Nabire segera bertindak tegas, memecat dan menghukum kedua prajurit yang melakukan kekerasan itu,” tegas Pigai.

Menurut dia, efek jera kepada siapa saja yang melakukan tindak kekerasan di Tanah Papua harus diberikan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas perbuatannya. (Baca juga: Aparat Cenderung Memihak Warga Pendatang)

“Tunjukkan kewibawaan negara di atas tanah ini. Kami sedang berduka dengan pembunuhan 4 orang muda yang tertembak dan ratusan lainnya mengalami luka-luka dalam peristiwa Paniai Berdarah 8 Desember 2014, yang hingga kini pelakunya belum diadili,” tandasnya.

Diberitakan media ini sebelumnya, penikaman tersebut terjadi di depan kios yang terletak bersebelahan dengan Gereja Kingmi Papua Jemaat Nafiri Uwibutu. Korban saat itu hendak membeli sabun rinso di kios yang ada di pertigaan jalan raya Paniai-Nabire, tetapi karena pemilik kios tak ada, Yus keluar. Saat keluar, pemilik kios muncul dari belakang. Si pemilik kios menduga pemuda tadi mencuri barang.

Sontak saja terjadi adu mulut karena korban mengaku tidak curi barang. Si pemilik tetap menuduh mereka mencuri sabun rinso. Tak lama kemudian pemilik kios memanggil aparat yang ada dekat dengan TKP yaitu pos Timsus 753/AVT. Karena masih ribut datang orang yang diduga anggota tentara, lalu terjadi adu jotos hingga menikam kedua pemuda.

 

REDAKSI