Apa Kabarmu “Fajar Timur”?

0
1622

Oleh: Benny Mawel)*

Apa kabar sekolah Tinggi Filsafat Teologi “Fajar Timur”? Tentu sehat-sehat bukan. Saya tahu kini usiamu tidak mudah lagi. Usiamu sudah 50 tahun, bukan? Kalau tidak salah ingat.

Ia benar 50 tahun, kata siswamu. Ia sangat fasih mengisahkan sejarah kelahiranmu. Ia ingat dengan baik, “Fajar Timur” itu anak kandung konsili Vatikan II.

Konsili yang merubah wajah gereja. Gereja yang tertutup  menjadi gereja yang terbuka. “geraja adalah kita,” tegas siswamu mengungkapkan kosep gereja yang lahir dari konsili vatikan II.

Geraja yang “Kita” itu, yang awam maupun yang klerus atau kaum tertabis. Kita semua harus terlibat dalam urusan-urusan pastoral gereja tanpa ada pembedaan, kecuali kewenangan-kewenangan khusus iman tertabis.

Kewenangan khisus itu, misalnya, konsekrasi sakramen dan sejenisnya. Kalau memimpin ibadah, membawakan renungan di misa hari raya dan hari minggu itu bisa juga orang tidak tertabis.

“Gereja betul-betul membumi, dan hidup di antara kita, bukan dalam kelompok tertentu: klerus toh”.

Karena itu, para uskup Papua yang pernah terlibat dalam konsili vatikan II, terutama tiga uskup awal di Papua, Uskup Agung Merauke, Mgr Herman Tilemans, Uskup Jayapura Rudolf Stavherman dan Uskup Manokwari-Sorong Petrus van Diepen mengadakan konfresi pada 10 Oktober 1967.

Konfrensi itu melahirkan Akademi Teologi Katolik (ATK). Akademi untuk mendidik pewarta-pewarta Injil dari Papua, baik yang awam maupun tertabis. Harapanya menjadikan “gereja katolik di Papua “adalah kita”.

Hasil dari itu, mereka yang dulu, kita di Wamena bilang “Wenewolok” yang membuat gereja jadi hidup. Ada pastor atau tidak ada, ibadah pagi tetap jalan.

Kita kembai ke nama. Nama  ATK berubah menjadi Sekolah Tinggi Teologi Katolik pada 1973. Nama itu berubah lagi sekolah Tinggi Filsafat Teologi “Fajar Timur”. Nama Fajar Timut itu ide hasil sayembara siswamu yang cerdas kala itu, Agust Alue Alua pada 1984.

Ketika semua berbangga merayakan usiamu yang setengah abad ini, siswamu yang memberontak itu menyoal angka usiamu. Ia anggap usiamu perlu diperdebatkan, memang layak dewasa atau paksa dewasa.

“Apa ukuran kedewasaanmu? Apakah perayaanmu di usia emas ini suatu kegagalan atau kesuksesan?” tanya siswamu.

Soal-soal kritis siswamu itu membuat siswamu yang lain, yang katanya, baik, taat dan pengabdian kepada sistem korporasi penindasan manusia mengerumpi “dia emosional”.

Ketikan itu, “Saya juga emosional,” kataku. Saya mengerti mereka. Murid-muridmu telah menjadi bagian dari abdi korporasi perampasan harta karung milik umat di negeri ini. Eh tidak bermaksud kepada siapapun.

Siswamu yang kritis tidak peduli dengan komat kamit siswamu yang lain. Ia terus mempertanyakan semua yang kita banggakan dengan sabda Teologi, Antropologi dan Filsafatmu.

Apakah ada orang-orang yang bisa meneruskan sabda-sabdamu? Ah, rupanya tidak. Sangat tidak masuk akal, tidak ada pengajar kitab suci untuk sekolah Teologi.

“Mengapa?  Apakah tidak ada upaya mewartakan Injil di Papua dengan ciri khas Papua? Apakah hanya menjadikan orang Papua jadi objek pendirian sekolah ini?

Kalau begini, apakah sabda-sabdamu itu mengarah pada pelaksanaan dari motto hidupmu atau tidak? Mottomu “jadikanlah mereka  menjadi muridku”

Ia menjawab sendiri, sabdamu “Jadikanlah semua bangsa menjadi muridKu ( Kristus)” belum terlaksana.

Ia menasehati kepada siswamu yang mulai tidak produktif, mulai tumbuh umban kepala itu. Katanya, siswamu yang dulu rajin mendengar sabdamu menjadi apatis terhadap kekerasan atas nama pembangunan.

“Kita menjadi pelayan atau petugas. Kalau petugas, kita melaksanakan tugas-tugas saja. Tidak bisa melayani, tugas pimpin misa dan doa makan saja,” tegasnya.

“kalau tugas yang begitu, semua orang bisa. Kita tinggal baca-baca rumusan. Lalu kapan, kita akan beda dengan yang lain, menyuarahkan keadilan dan kebenaran bagi korban sistem pembangunan yang menjajah dan menindas?”

Atau, kita terus menikmati kenyamanan, tidak lebih dari tukang  misa dan tukang doa hari minggu toh. Atau kadang menjadi anak emas pengusaha  sehingga suara ketidakadilan terhadap umat diabaikan.

Apa lagi umat itu kaum minoritas dan tidak pernah terlibat dalam doa-doa lingkungan dan paroki.  “Mereka tidak pernah aktif, bagaimana kita mau tahu?” begitu kita berargumen.

Atau, karena itu memang benar-benar nyaman, kata siswamu yang melarikan diri  itu bersabda “pastor tidak terlibat dalam politik. Pastor itu netral ” yang sebenarnya menyetujui kekerasan,”mengingat kata Ignas Lebb dalam kisah “Binatanggisme”.

Orang-orang non tertabis, menjadi rohaniwan hanya bangun tidur dalam biara, memperkuat persaudaraan dan meditasi. “Persaudaraan menjadi satu bagian utama dari membiara”. Kalau ada yang bandel, yang lain cemburu atas nama aturan komunitas.

Orang-orang berkeluarga sibuk mengejar kepentingan keluarga. Bahkan mengabdi kepada materialisme dan hedonisme. Demi memenuhi mental itu, materi yang menjadi hak-hak pihak lain pun dirampas.

“Kita diajak dan diutus menjadikan semua orang menjadi murid Kristus. Ataukah menjadikan semua orang menjadi murid kita. Kalau jadikan murid kita, misi itu belum terlaksana,”kata siswamu yang kini sedang meneruskan pewartaan sabdamu.

Kata siswamu yang kritis itu, memang benar sabda belum membumi. Pikiran logis yang kamu ajarkan untuk menegakan kebenaran dan keadilan bagi yang menjadi korban belum terpenuhi.

Muridmu malah menjadi bagian dari pelaku-pelaku pembunuh kebenaran dan keadilan itu. “Kalau kita masuk dalam sistem ini susah,” kata siswamu untuk membenarkan kelupaannnya.

Sistem-sistem  yang terbangun membuat semua yang kau ajarkan menjadi sia-sia. Sistem membuat martabat manusia sederajat dengan anjing. Anjing yang hanya tahu menggonggong menjaga kepentingan tuan yang memberi dia makan dan minum.

Semua yang larut dalam sistem nampaknya tidak akan keluar lagi. Karena itu, kita harap kita yang belum masuk dapat menyadarkan mereka kembali ke jalan yang benar atau kita juga tegelam dalam sistem.

“Kalau semua larut di dalam, sabda-sabda teologi dan filsafat mu sudah tidak relevan lagi. Kita perlu reformasi atau revolusi!!”.

Kalau tidak relevan lagi, bukan kita gagal tetapi masih ada kesempatan untuk memperbaikinya. Perayaan 50 tahun ini menjadi moment yang tepat.

)* Penulis adalah alumni Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Fajar Timur, Abepura.