Gereja Katolik Stasi Kubipkop Diresmikan, Umat Aktif Hidup Menggereja

0
1101

OKSIBIL, SUARAPAPUA.com — Umat Stasi Santo Yusuf Kubipkop, Paroki Oklip, Dekenat Pegunungan Bintang, merasa bangga memiliki gedung gereja baru yang dibangun selama lima bulan untuk terus melanjutkan hidup menggereja sesuai ajaran Tuhan.

Gedung gereja yang indah tersebut terletak antara kampung Kubipkop dan Ok Ano, Distrik Oksebang, Kabupaten Pegunungan Bintang, dibangun mulai Mei hingga selesai September 2017. Dengan hadirnya gereja sebagai suatu sarana bagi umat Kristiani dalam memuji dan mengagumi keagungan Tuhan, tentu merupakan suatu keharusan untuk mempermudah proses komunikasi dengan Tuhan.

Sostenes Uropmabin dari Oksibil mengabarkan satu cerita unik dari proses pembangunan gereja ini, dimana bahan impor seperti seng, paku, lampu, chainsaw, bahan makanan, dan bahan bakar minyak (BBM) diangkat oleh umat.

“Saya telah menyusuri jalan menuju Kubipkop. Umat menyusuri jalan setapak dengan beban berat di badan mesti melewati jembatan yang terbuat dari rotan, menyusuri hutan, menaiki gunung, menyusuri lereng gunung, menapaki turunan tajam sambil harus hati-hati, karena sekali terpeleset, maka maut sudah pasti  menjemput di dalam jurang terjal dan tak diukur dalamnya,” tutur Sostenes.

Menurut dia, hambatan geografis tersebut rupanya tidak mematahkan animo umat Stasi Santo Yusuf Kubipkop dalam membangun gereja. “Ya, hal itu terbukti dengan telah dibangunnya gereja yang diidam-idamkan oleh seluruh umat di stasi Kubipkop,” kata Uropmabin.

Theresia Tepmul, Ketua Stasi Santo Yusuf Kubipkop mengaku puas atas hasil yang dicapainya bersama umat dalam membangun gereja baru. “Hal yang paling mengganggu dalam pembangunan gereja adalah material bangunan impor yang harus diangkat dengan tenaga manusia, sedangkan jarak tempuh amat jauh dengan kondisi geografis yang tidak bersahabat,” katanya.

Meski begitu, ia merasa bersyukur pada Tuhan karena semua sudah berakhir dengan sukses.

“Yang penting sekarang bagaimana iman umat ditumbuhkan agar mampu menjadi umat yang baik dan bertanggungjawab,” kata Theresia.

Pembangunan gedung gereja yang menghabiskan dana sekitar Rp260-an juta itu tampak gagah dan indah dipandang. Interiornya pun dirancang sederhana meski tidak terkesan murahan dengan dinding papan beratapkan seng multi roof.

Thersia menyampaikan ucapan terima kasih karena selama pembangunan banyak orang telah menyumbangkan tenaga, pikiran dan material serta finansial.

“Dana berasal dari kombas-kombas dalam stasi, stasi Apom dan perorangan. Sedangkan peralatan liturgi dari pusat paroki Oksibil,” jelasnya.

Ibu Tepmul yang sederhana namun periang ini mengaku ia baru menjadi Ketua Stasi tahun 2014. Kesetiaannya dalam tugas perutusan menjadikannya disayang oleh para umat di sana.

Bapak Cosmas Asemki, salah satu umat mengungkapkan rasa gembira dengan adanya gedung gereja baru. “Ini merupakan salah satu dorongan bagi kami dalam hidup menggereja. Selama ini kami aktif dalam hidup menggereja. Semoga itu terus berlangsung di masa yang akan datang,” ucapnya dengan optimis.

Gereja Katolik Santo Yusuf Kubipkop diresmikan dan diberkati oleh Dekan Dekenat Pegunungan Bintang, Pater Petrus Hamsi, Pr dan didampingi pastor paroki Oklip, Pater Carolus Boruk, Pr. Peresmian dan pemberkatan dilakukan pada hari Jumat 30 Desember 2017 jam 13.00 WIT di Kubipkop.

Sebagai ungkapan rasa syukur dan tanda kebersamaan umat, pada kesempatan itu juga disediakan makanan lokal yang dimasak secara tradisional. Sedikitnya 25 ekor babi disembelih di acara ini.

Pewarta: Fransiskus Kasipmabin
Editor: Arnold Belau

Print Friendly, PDF & Email