Uskup Timika “Berang” Mama Emakeparo Ditembak Aparat, Ini Kronologinya

0
919

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Penembakan terhadap warga sipil Papua kembali terjadi di Timika, Kabupaten Mimika, Sabtu (3/2/2018) malam. Kali ini, timah peluru mengakhiri napas Imakulata Emakeparo (47). Kejadian tragis itu dikecam berbagai pihak.

Mgr. John Philip Saklil, Pr, Uskup Keuskupan Timika, mengaku “berang” terhadap kasus penembakan ini.

Uskup marah karena Mama Emakeparo, warga Suku Kamoro, tidak bersalah, malah ditembak mati aparat keamanan. Dalam hal ini aparat keamanan dianggap tidak profesional karena terbukti bahwa dalam menghadapi kasus kecil justru bertindak brutal dan diluar batas perikemanusiaan.

Aparat menuding ada pencurian konsentrat emas milik PT Freeport Indonesia di pabrik pengeringan Porsite, lalu melakukan pengejaran dan terjadi keributan yang direspon dengan penembakan hingga menewaskan warga sipil lainnya.

Aksi penembakan brutal tersebut, ujar Uskup Saklil, melukai hati masyarakat Papua. Sebab, kejadian tragis sama sudah banyak kali terjadi di wilayah pastoralnya, termasuk Kabupaten Mimika.

Pola pendekatan kekerasan dengan mengandalkan alat negara yang terus menerus diterapkan aparat, meski tanpa alasan jelas, seharusnya dihentikan. Papua sudah banyak terjadi kasus kekerasan, pelanggaran hak asasi manusia, yang mendapat perhatian dunia internasional.

“Sebaiknya segera hentikan penembakan dan segala macam tindakan kekerasan. Saya minta jangan terus terjadi, kita semua tidak terima ini terjadi,” tuturnya di Timika, kemarin.

Pemimpin umat Katolik Keuskupan Timika yang juga lahir dan besar di Kaokonao ini menyatakan, semua pihak menyesalkan dengan penembakan terhadap Mama Imakulata Emakeparo.

Ibu rumah tangga yang bermukim di Pulau Karaka, Distrik Mimika Timur Jauh, kata Uskup, tidak bersalah dan kalaupun ada soal seharusnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin.

“Tetapi dorang main tembak. Ini maunya apa? Jangan tambah-tambah kasus, bikin sakit hati tidak bisa sembuh sampai hari,” tandasnya.

Menurut Uskup, kasus penembakan ini harus diproses. Pihaknya akan mengawal seluruh proses hukum.

Para pelaku penembakan yang menewaskan Mama Emakeparo harus dihukum seberat-beratnya.

Dalam rangka itu, Keuskupan Timika bersama Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) dan lembaga kemanusiaan lainnya akan melakukan investigasi di lapangan.

“Kita kumpulkan fakta-fakta supaya ungkap ke publik,” ujarnya sembari mendukung gagasan untuk otopsi jenazah Mama Emakeparo di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM) Timika.

Fakondus Natipia, kepala kampung Pulau Karaka, mengatakan, korban sejatinya tidak terlibat dalam keributan maupun pencurian yang diduga aparat. Saat terjadi keributan, kata dia, korban mendengar letusan senjata api dan akhirnya tewas tertembak peluru.

Ini dibenarkan Irenius Akimuri, pengurus Lembaga Musyawarah Adat Suku Kamoro (Lemasko) di Timika.

Dilansir tabloidjubi.com, Irenius mewakili pihak keluarga menuntut Polri dan Freeport segera bertanggungjawab atas tragedi penembakan itu hingga para pelaku diproses di meja hijau.

Penembakan oleh anggota Brimob Polri terhadap Mama Emakeparo terjadi ketika ada di sekitar Cargo Dock, Pelabuhan Portsite Amamapare milik PT Freeport Indonesia.

Dari data sementara yang dikumpulkan, Mama Emakeparo tertembak peluruh di bagian kepala hingga tembus otak kecil.

Awalnya, dikutip dari laporan kronologi yang disusun Keuskupan Timika, paada tanggal 3 Februari 2018, sekitar pukul 22.00 WIT, suami-istri (Imakulata Emakeparo dan Titus Onamariuta, 55) yang adalah warga Pulau Karaka, Kampung Amamapare, Distrik Mimika Timur Jauh, menyeberang sungai dengan menggunakan perahu dayun ke seberang Cargo Dock, hendak menimba air minum.

Karena malam, Imakulata pakai senter yang biasanya digantung di kepala. Di tengah perjalanan, mereka mendengar ada suara minta tolong. Saat hendak menuju suara minta tolong, terdengar tiga kali bunyi tembakan. Saat itu istrinya sedang menyedot air yang tergenang dalam perahu keluar.

Tembakan pertama dan kedua mereka dengar, tetapi setelah tembakan yang ketiga, Titus minta supaya senter itu dipadamkan. Senter tetap menyala karena tidak ada tanggapan dari Imakulata, ia kemudian berjalan menuju depan perahu tempat istrinya. Titus mendapati istrinya sudah tertembus peluru.

“Bapak Titus panik melihat lumuran darah dan minta tolong. Mendengar teriakan minta tolong, warga Kampung Karaka keluar dan menolong. Korban kemudian dilarikan ke Klinik Porsite untuk mendapatkan perawatan, namun nyawanya tidak tertolong.”

Korban kemudian dibawa oleh polisi dan dua orang warga (kepala kampung dan satu pemuda) ke RSMM Timika.

Pihak keluarga, kerabat dan warga Kamoro tak terima insiden tragis itu, membawa jenazah ke kantor DPRD Mimika, hari Minggu (4/2/2018) sekitar pukul 14.30 WIT. Mereka dikawal polisi. Jenazah disemayamkan di sana selama semalam.

Keesokan harinya, Senin (5/2/2018), jenazah dibawa ke RSMM untuk diotopsi.

Penembak diduga anggota Brimob dari Kalimantan yang baru seminggu bertugas. Hingga kini identitas sedang dialami dari berbagai sumber.

Sebelumnya beredar cerita bahwa ada beberapa pemuda katanya hendak mau mencuri tempat pengeringan hasil tambang Freeport. Tidak diketahui pasti apa yang mau dicuri di sana. Sekuriti area porsite langsung kejar dan tangkap salah seorang pemuda. Ia diborgol dan dalam keadaan tangan terborgol, sekuriti bersama Brimob (yang bertugas mengamankan area Freport) bersama-sama menggunakan speedboat, membawanya menuju Cargo Dock.

Dalam perjalanan, mendekati kampung Karaka, pemuda itu berusaha melarikan diri dari speedboat dengan melompat ke dalam sungai. Saat mencari pemuda itu, Mama Emakeparo malah ditembak aparat. Dugaan sementara, peluru dilecutkan ke arah senter lampu yang dinyalakan mama itu di kepala.

Memastikan siapa pelaku dan apa penyebabnya, Polda Papua telah memeriksa tujuh anggota Brimob yang tergabung dalam Satgas Amole pengamanan PT Freeport. Proses pemeriksaan berlangsung secara intensif di Mapolres Mimika dibawah pimpinan Kabid Propam Polda Papua, Kombes Janus Siregar.

Hasil otopsi jenazah yang dilakukan kemarin oleh dokter forensik dibawah kendali dr. Jimmy Sembay di RSMM selanjutnya akan dipakai Polda untuk sampaikan ke publik, termasuk keluarga korban.

REDAKSI

print