Melindungi Tanah dan Mengelolanya Sendiri, Merawat Kehidupan

0
2115

TIMIKA, SUARAPAPUA.Com — Melindungi tanah, tidak menjual tanah, tanah harus dikelola sendiri, itu adalah semangat yang sedang mengemuka diserukan Uskup keuskupan Timika Papua, MGR. Jhon Philip Saklil Pr. Menurutnya, melindungi tanah artinya melindungi kehidupan. Menjual tanah sama dengan menjual kehidupan. Dengan semangat itu, ia mengajak umat di keuskupannya merawat kehidupan.

Lalu Uskup Saklil menggagas sebuah gerakan yang dinamakan Gerakan Tungku Api. Gerakan ini dimulai atas prakarsa Uskup Timika ini dengan menyerukan kepada umat Katolik di keuskupannya untuk tidak menjual tanah.

“Tanah adalah kehidupan kita. Hidup kita dipelihara oleh makan yang dihasilkan tanah, uang yang dihasilkan oleh semua yang dapat diproduksi dari tanah. Tanah Papua adalah kehidupan kita. Menjual tanah artinya menjual kehidupanmu,” begitulah kotbah Uskup Saklil saat berkunjung di Paroki Maria Menerima Kabar Gembira di Bomomani, Mapia, akhir tahun 2015 lalu.

Kampanye melindungi tanah Papua sebagai ‘sumber kehidupan’ ditindaklanjuti Uskup Saklil bahkan dengan mendampingi masyarakat Amungme Kamoro dalam konflik tanah dengan PT. Freeport Indonesia tahun lalu.

Tahun ini, dari tanggal 09-16 Juli 2018, bertempat di Timika, sedang dilangsungkan Temu Unio Regio (TUR) Papua dengan tema, “Imam Beraroma Tungku Api.” Ibrani Gwijangge, imam Katolik keuskupan Timika menulis di facebook, kegiatan TUR yang ke-5 itu melibatkan 123 imam projo dari 5 keuskupan di Tanah Papua.

“Ini suara kenabian atas masalah kehilangan tanah dan sumber-sumber hidup masyarakat lokal. Sasaran: mengubah cara berpikir keliru: tanah bernilai bisnis, menjadi cara berpikir benar, tanah bernilai hidup. Kalau pemodal dan pebisnis mengerti tanah sebagai bidang bisnis, masyarakat harus mengerti tanah sebagai sumber kehidupan,” begitu tulis Gwijangge.

Di hadapan ratusan imam projo se-Papua itu, dalam kotbah saat pimpin misa pembukaan TUR, Uskup Saklil menegaskan perutusan baru bagi imam katolik di Papua. Uskup mengajak imam projo agar mewujudkan imannya sampai ke dapur umat.

“Menjadi pastor di Papua tidak gampang, sebab berhadapan dengan realitas umat yang tergerus akibat arus globalisasi, yang mana dusun mereka habis dijual, padahal itu adalah sumber hidup mereka, itu adalah ‘tungku api’ mereka, ‘tungku api’ keluarga,” ujarnya dilansir Tabloid Jubi (09/07/2018).

Jauh sebelum itu, didasari oleh semangat yang sama, Gereja Kingmi Papua pimpinan Pendeta Benny Giay, Gereja Baptis Papua pimpinan Pendeta Socratez Sofyan Yoman dan Gereja GIDI Papua pimpinan Pendeta Dorman Wandikbo mempergunakan mimbar gereja untuk mengajak umat kembali memelihara kehidupannya dengan ajakan untuk tidak jual tanah, ajakan untuk memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga, dan serius menyuarakan keprihatinan mereka atas berbagai pelanggaran HAM yang dialami umatnya.

Tapi sejarah telah memberi pelajaran penting, bahwa sangat berat memilih sikap untuk berpihak kepada rakyat Papua. Karena pada gilirannya kita akan sadar bahwa kita berhadapan dengan sistem negara, dengan para pemodal, dengan militer yang mencari uang pengamanan. Hal ini ditegaskan dengan jelas oleh pimpinan Gereja Baptis Papua dalam sebuah wawancara yang dipublikasikan awal Maret 2018 lalu.

Pendeta Yoman bahkan secara gamblang mengatakn, dirinya bersama pendeta Benny Giay dan Dorman Wandikbo telah dicap oleh militer Indonesia dan negara Indonesia sebagai pendeta separatis. Gereja yang dipimpin oleh mereka juga kerap berurusan dengan militer Indonesia akibat dituding menjadi ‘sarang’ separatis.

Pewarta: Bastian Tebai

print