TPN-PB Paniai: Kami Rampas Senjata karena Tidak Ada Pemberitahuan

0
1852

PANIAI, SUARAPAPUA.com — Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN-PB) wilayah Meepagoo menyatakan aksi penghadangan dan perampasan tiga pucuk senjata milik TNI, Senin (6/8/208) kemarin, di kampung Kugitadi, distrik Wegemuka, Paniai, karena tidak ada pemberitahuan.

“Kami lakukan karena tidak ada ijin lewat surat ataupun lisan,” kata pemimpin TPN-PB wilayah Meepagoo, Damianus Magai Yogi, dari markasnya ketika dihubungi suarapapua.com, melalui telepon seluler, Selasa (7/8/2018).

Dikatakan, pihaknya tidak melarang kegiatan apapun yang mau dilaksanakan oleh masyarakat ataupun oleh siapapun tetapi jika melibatkan aparat TNI/Polri harus ada pemberitahuan. Apalagi kata dia, di wilayah itu ada markas mereka.

“Setelah kami cek ke kepala distrik dan 15 kepala kampung yang ada juga tidak ada ijin makanya kami hadang dan rampas senjata mereka. Jadi itu alasannya, bukan yang lain,” ucap dia.

Diakuinya dalam insiden tersebut, pihaknya merampas tiga pucuk senjata laras panjang dan memukul dua anggota TNI.

“Kalau dibilang lebih itu tipu. Cuman tiga saja. Kami juga tidak tembak anggota TNI. Kami hanya pukul karena kami mau ambil senjata mereka. Setelah itu kami pulangkan mereka dengan aman-aman,” kata dia.

Untuk tudingan adanya kabar dua anggota TNI meninggal ditembak dan terjadi kontak senjata (perlawanan) dengan TNI, katanya, tidak benar.

“Itu semua tipu,” kata dia menanggapi pertanyaan suarapapua.com.

Dia menjelaskan, TNI yang dihadang berjumlah 12 orang. Mereka datang dalam rangka mengawal 4 orang (dua laki-laki, dua perempuan) mahasiswa non pribumi dari Jakarta yang mau melakukan PKL/KKN di wilayah itu.

Seperti diberitakan media ini sebelumnya,  anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Papua, Laurenzus Kadepa membantah adanya informasi yang  beredar di dunia maya bahwa ada dua anggota TNI yang tewas di Paniai.

“Peristiwa memang benar. Tapi tidak ada korban jiwa di pihak TNI. Yang benar adalah luka-luka saja. Saya sudah tanya Pangdam XVII Cenderawasih soal anggotanya tewas. Kata beliau tidak benar,” ungkapnya kepada suarapapua.com di Jayapura, Rabu (7/8/2018).

Laurenz juga  mengatakan, ia sudah menerima informasi dari pihak TPN OPM di Paniai.

“Saya sudah kontak juga pimpinan dari TPN OPM Paniai. Memang di pihak TNI kena peluru tapi hanya luka-luka,” terangnya.

Untuk itu, kata Kadepa, ia meminta kepada masyarakat agar tetap tenang. Kata dia, yang jelas persitiwa seperti ini bukan baru.

“Dan saya minta kedua bela pihak TNI dan TPN Agar menahan diri. Supaya rakyat sipil tidak menjadi korban. Dan jika ada senjata milik TNI yang dirampas pihak TPN OPM saya harap kepada pihak TNI kedepankan negosiasi secara damai..Jangan dengan operasi militer,” katanya.

Diktuip dari laman papuasatu.com, Kapolres Paniai AKBP Supriagung mempersiapkan somasi untuk beberapa media online nasional yang yang menurutnya melakukan kesalahan pemberitaan.

Menurut AKBP Supriyagung, beberapa media tersebut mempublikasikan berita tentang pernyataannya tentang adanya anggota TNI yang tewas di Paniai akibat kontak senjata dengan kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB).

Somasi yang akan dibawa ke dewan pers tersebut, sebagaimana disampaikan Kapolres Supriagung, Senin 06/08/2018, karena ia tidak merasa memberikan pernyataan sebagaimana yang dilansir media onlin dimaksud.

Adanya pemberitaan tentang pernyataannya yang tanpa konfirmasi dirinya, Kapolres merasakan sangat dirugikan, karena menurutnya hal itu merupakan pencemaran nama baiknya.

“Saya merasa dirugikan karena berita yang dikutip bukan pernyataan saya, apa yang ditulis oleh merdeka.com, dan okezone.com itu tidak benar,” ujar Kapolres Paniai dalam keterangan persnya di Jayapura.

Selain memberikan somasi, ia juga menegaskan agar media merdeka.com dan okezone.com untuk melakukan pembenahan kualitas SDM medianya, supaya ditingkatkan kualitasnya.

“Jadi memahami betul fungsi media itu dengan baik, konfirmasi terlebih dahulu sebelum menulis berita, jangan hanya mencari rating berita namun mengabaikan isi dari berita tersebut, jadikanlah media sebagai edukasi bagi masyarakat,” tutupnya.

Sementara itu, Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf. Muhammad Aidi, saat dikonfirmasi satupapua.com, membantah adanya dua anggota TNI tewas diserangKKSB saat mengawal tim survei PLN di Kabupaten Paniai, Papua.

“Prajurit tersebut diklaim hanya luka-luka dan tiga pucuk senjata api dipegangnya dirampas pelaku,” demikian dikutip dari okezone.com.

“Tidak ada yang tewas dalam insiden penyerangan tersebut,” kata Kepala Penerangan Kodam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhammad Aidi, sebagaiman dilansir okezone, Senin (6/8/2018).

Lebih lanjut Kapendam menceritakan peristiwanya kepada okezone, bahwa kejadian bermula saat sembilan prajurit TNI mengawal tim survei PLN untuk program Papua terang di Paniai yang menumpangi dua speedboat dan tiba-tiba diserang KKSB.

Karena kondisi di lokasi banyak masyarakat yang berusaha membantu TNI, maka personil TNI tidak berani mengeluarkan tembakan, karena sangat berbahaya, sehingga anggota hanya melakukan perlawanan.

Pewarta: Stevanus Yogi

Editor: Arnold Belau

print