Tulisan Oktovianus Pogau Jadi Topik Utama Diskusi Otsus Plus

0
1949

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Analisis terhadap rancangan Otonomi Khusus (Otsus) Plus yang diulas dalam beberapa tulisan oleh almarhum Oktovianus Pogau, pendiri sekaligus pemimpin redaksi Suara Papua, menjadi topik utama saat diskusi di Asrama Tunas Harapan, Jayapura, Minggu (28/10/2018) sore.

Beberapa tulisan itu diantaranya berjudul “Ketika Isu Papua Merdeka dan Referendum Jadi Nilai Tawar”, dan “Otsus Plus: Ide Siapa dan Untuk Siapa?”. Kedua tulisan analisis itu menjadi bahan diskusi yang cukup menarik.

Selain tulisan Pogau, ada beberapa skripsi tentang Otsus pun dijadikan topik pembicaraan dalam diskusi ini. Diskusi diadakan dengan tujuan agar generasi muda Papua yang ada di jaman Otsus memahami apa manfaatnya bagi segenap rakyat Papua.

“Saya punya tulisan skripsi. Judulnya tentang Otsus Plus dan itu saya menulis tentang Otsus dulu dan, serta wacana Otsus Plus. Saya menulis karena Otsus dan Otsus Plus tidak ada manfaat sama sekali untuk orang Papua,” ungkap Hendrikus Yeimo.

Dari skripsi itu Yeimo pun menceritakan tentang tulisan Oktovianus Pogau. Menurutnya, tulisan Pogau lebih mengritisi kepada pasal demi pasal yang dimasukan dalam draft Undang-undang Otsus Plus.

“Skripsi saya berjudul ‘Analisis Framming Headline Berita Otsus Plus di Surat Kabar Harian Suluh Papua bulan Januari, Februari dan Maret 2014’, itu lebih menjelaskan perkembangan Otsus hingga ke rancangan Otsus Plus,” imbuhnya.

Sementara itu, Yason Ngelia, aktivis Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat Papua (GempaR) yang hadir dalam diskusi itu menyebut tulisan dari almarhum Oktovianus Pogau memang benar-benar liputan investigasi. Karena saat itu Pogau memang punya jaringan yang cukup banyak untuk mendapatkan data-data akurat.

“Tulisan-tulisan beliau sangat berbobot, tajam analisisnya,” puji Yason.

Diakuinya, selain menulis di media online ini (suarapapua.com), Pogau juga memotivasi mahasiswa di Jayapura untuk lebih kritis terhadap dinamika yang terjadi.

“Saat Okto tulis beberapa tulisan tentang Otsus Plus, dia juga menggerakan hati kami di GempaR untuk harus turun jalan.”

“Satu kata yang dia bilang waktu itu adalah GempaR harus gerakan massa dan turun gagalkan Otsus Plus itu,” lanjut Ngelia.

Berbekal relasi yang baik dengan berbagai pihak baik di pemerintahan maupun aktivis dan LSM, menurut Yason, Pogau mendapat data dan pengetahuan baru untuk kemudian ditularkan kepada anggota GempaR anti Otsus Plus.

“Kita dengar sekarang ada wacana untuk dorong kembali Otsus Plus. Tentunya pemerintah sudah siapkan pasal-pasal yang ditolak seperti pasal 29 tentang referendum itu. Sementara Otsus punya masa tinggal beberapa tahun saja. Bisa saja Indonesia akan terima usulan pemerintah Papua,” ungkapnya.

Yason menilai selama ini dari Otsus yang ada saja orang Papua tidak mendapatkan dampak positif, malah menjadi korban dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu buktinya, kata dia, orang berdasi makin kaya dan rakyat tetap miskin.

Oleh karena itu, generasi Otsus sekarang harus jeli melihat persoalan ini. “Kita ini generasi yang lahir di era Otsus ada. Maka wacana Otsus Plus itu harus pikir baik-baik,” ujar Yason.

Samuel Womsiwor, di tempat sama, mengaku, dirinya menulis Skripsi berjudul “Dinamika Hegemoni Pasca Otonomi Khusus” pada saat wacana Otsus Plus tengah hangat diperbincangkan.

“Saya tulis tentang hegemoninya saja. Tentang Otsus Plus. Karena saya melihat saat Otsus ada angka kemiskinan justru meningkat. Sebab itu saya menulis tentang hegemoninya saja,” ujar Samuel.

Dalam diskusi yang berlangsung lancar, sebanyak 34 orang yang hadir mendapat giliran berbicara dan mengungkapkan penilaian sesuai hasil pengamatan dan pengalaman di lapangan.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Mary Monireng

print