2000 Mahasiswa Yahukimo Sudah Pulang ke Papua

0
134

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Setelah dilakukan pendataan, 2000 mahasiswa asal kabupaten Yahukimo yang studi di luar Papua sudah pulang ke Papua, pasca kasus rasisme di Surabaya, Malang, Semarang, Makassar, dan beberapa kota lain pada medio Agustus 2019.

Data tersebut dirilis Senin (14/10/2019) di Asrama Mahasiswa Yahukimo, kota Jayapura.

Luis Kabak, pengurus Himpunan Mahasiswa Yahukimo se-Jawa dan Bali mengatakan, selama satu setengah bulan telah didata seluruh mahasiswa eksodus sekaligus verifikasi ulang hingga diperoleh data valid dan disampaikan ke publik.

“Data dari masing-masing ketua korwil di setiap studi sudah kami pengurus pusat terima dan saya bersama pengurus pusat sudah verifikasi hingga datanya valid. Jumlah seluruhnya 2000 mahasiswa,” kata Kabak.

- Iklan -

Setelah pendataan dan verifikasi jumlah data mahasiswa eksodus, pihaknya bersama seluruh mahasiswa telah mengadakan pertemuan untuk membicarakan hal-hal penting.

“Kami 2000 mahasiswa sudah pertemuan, dan hasilnya beberapa poin yang kami sepakat. Sampai sekarang saya dengar informasi bahwa ada yang kembali ke kota studi. Tetapi itu hanya dua sampai tiga orang saja,” ungkapnya.

Kabak menyebut posko dibuat sebagai sentral bagi mahasiswa eksodus. “Terima kasih kepada kawan-kawan di Papua khususnya di Jayapura yang membuat posko untuk kami.”

Sementara, Omikson Balingga, ketua posko umum Mahasiswa Yahukimo di Jayapura, mengatakan, posko dibuat tiga hari setelah kejadian rasisme menimpa mahasiswa Papua di Surabaya, provinsi Jawa Timur.

“Tanggal 21 Agustus kami sudah buat posko umum. Tujuan dari posko ini, kawan-kawan kami yang ke Papua semua didata dengan baik,” jelasnya.

Omikson mengatakan, “Apa yang disampaikan oleh pengurus mahasiswa Yahukimo dari luar Papua itu benar. Tidak berbeda dengan data kami. Jadi, kami juga sudah serahkan data sekitar 2000 mahasiswa kepada ketua pengurus mahasiswa pusat se-Jawa dan Bali.”

Ia juga singgung kembali pernyataan dari pemerintah daerah bahwa tidak banyak mahasiswa yang pulang. Menurutnya, itu keliru karena tak pernah berkomunikasi dengan pengurus yang dipercayakan, sehingga bicara ke publik tanpa data.

“Bupati bilang hanya 600 saja yang pulang. Kami tidak membantah itu dan kami diam karena kami belum mendata. Sekarang data sudah jelas, jadi kami harap supaya sedikit yang ada di luar Papua itu dipulangkan saja,” ujar Balingga.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Markus You

Print Friendly, PDF & Email