Frida Kelasin Ajarkan Mama-Mama Papua Memproduksi Bakso

0
1585

KOTA SORONG, SUARAPAPUA.com — Frida Tabita Kelasin mendorong mama-mama Papua di Sanggar Klafun, Kota Sorong, Papua Barat, belajar memproduksi bakso yang kemudian akan dijual dengan membuka warung makan bakso dan lainnya.

Menurut Frida, mama Papua juga bisa memproduksi bakso. Karena itu, ia mendorong mama-mama Papua di Sanggar Klafun memproduksi bakso. Setelah bisa memproduksi bakso, selanjutnya bakso tersebut akan dijual di warung makan. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung ekonomi keluarga.

“Mama Papua putar papeda itu tidak butuh belajar. Itu mama-mama Papua punya talenta, tetapi kalo bakso, ya kita harus belajar. Kita juga harus bisa produksi bakso. Perempuan luar sekarang bisa jual papeda. Kenapa kita tidak bisa jual bakso? Saya mau mama-mama bisa memproduksi bakso. Hasil produksinya, kita jual di warung. Ini upaya untuk mendukung ekonomi mama-mama Papua serta mendukung pembangunan daerah,” jelasnya kepada suarapapua.com, Sabtu (29/2/2020).

Baca Juga:  Tolak Yonif 762, Warga Tambrauw Palang Pos Satgas 623 di Fef

Frida meminta kepada pemerintah ataupun dinas terkait agar harus ada pendampingan berkelanjutan kepada mama-mama Papua, tidak hanya menyukseskan program pelatihan pemberdayaan.

“Pemerintah kota Sorong mempunyai program pemberdayaan di setiap kelurahan, tetapi tidak ada pendampingan berkelanjutan. Harusnya ada pendampingan berkelanjutan, sehingga mama-mama memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk menghasilkan suatu karya. Contohnya, pelatihan menjahit. Tidak habis di pelatihan. Tetapi, harus didampingi sampai mama-mama menghasilkan satu karya yang mempunyai nilai jual,” tuturnya.

ads
Baca Juga:  Semua Warga PBD Diajak Jaga Lingkungan Bebas Sampah

Frida mengatakan, kapasitas perempuan akan terukur ketika pengetahuannya dikelola, sehingga berdampak pada diri sendiri dan juga pembangunan.

“Kapasitas perempuan itu akan terukur. Pengetahuan yang didapat, kemudian dikelola supaya berdampak luas untuk diri sendiri dan perkembangan pembangunan suatu daerah,” katanya.

Ia membawa tenaga ahli dalam memproduksi bakso. Sebelum memproduksi bakso, mama-mama belajar mengenal peralatannya.

“Saya cari perempuan Jawa. Dia datang suruh beli alat-alat semua. Setelah itu, mama-mama belajar mengenal peralatannya. Mereka sudah tahu peralatannya. Kemudian, belajar menggiling daging, membuat adonan sampai menghasilkan satu adonan bakso. Buat pentolan bakso itu tidak gampang. Mama-mama sampai keringat. Satu cape, gantian yang lain. Kita belajar selama satu minggu,” jelas Frida.

Baca Juga:  Butuh Dukungan Pemuda untuk Sukseskan Rapimda KNPI Tambrauw

Yemima Baab, salah satu mama Papua yang juga ikut belajar membuat bakso, mengaku sangat terbantu dengan kegiatan ini. Sebab dari yang tidak tahu ia bisa membuat pentolan bakso.

“Saya senang. Awalnya saya tidak bisa. Kami belajar pelan-pelan. Akhirnya bisa membuat bakso juga. Keringat keluar juga. Itu bagian dari proses belajar, jadi saya bersyukur,” ucapnya.

Meskipun sudah mendapat pengetahuan tentang cara membuat bakso, mama berusia 46 tahun ini lebih memilih usaha busana. “Saya sendiri akan fokus di busana. Bagian masak dan jual, ada teman-teman yang lain,” kata Yemima.

Pewarta: Maria Baru
Editor: Markus You

Artikel sebelumnyaMasyarakat Adat Perlu Pahami KEK
Artikel berikutnyaSatu Lagi Buku Cerita Anak Papua dari Teluk Mayalibit Raja Ampat