Analisa Resiko Kesehatan Masyarakat Tentang Malaria di Biak Numfor

0
1952

Oleh: Pascalina Katalin Sarakan)*

Pendahuluan

Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh vektor nyamuk Anopheles sp betina. Penularan penyakit malaria disebabkan dari tusukkan nyamuk Anopheles sp betina yang terinfeksi parasit Plasmodium. Penyakit ini mempengaruhi tingginya angka kematian bayi, balita dan ibu hamil.

Terkait dengan adanya penyakit malaria yang ada di Kabupaten Biak-Numfor, Papua maka sangat penting untuk dilakukan analisa resiko kesehatan pada populasi masyarakat yang beresiko terkena malaria. Tentu saja suatu penyakit dapat berpengaruh pada kesehatan manusia,sehingga analisa resiko kesehatan sangat penting dilakukan supaya dapat mengetahui karakterisasi efek yang potensial merugikan kesehatan manusia oleh pajanan bahaya lingkungan sehingga dapat penanganan lebih lanjut dalam memecahkan masalah kesehatan dan lingkungan yang mengakibatkan peningkatan kasus malaria.

Analisa Resiko

ads

Untuk mengetahui kesehatan masyarakat yang beresiko terkena malaria maka harus dilakukan analisa resiko kesehatan masyarakat. Analisa resiko kesehatan masyarakat adalah proses untuk mengestimasi karakteristik dan peluang munculnya efek kesehatan terhadap manusia karena terinfeksi Plasmodium penyebab malaria pada media lingkungan yang tercemar.

Baca Juga:  Operasi Militer: Kejahatan HAM dan Genosida di Papua

Analisa resiko bertujuan untuk mengidentifikasi pajanan atau paparan lingkungan yang menyebabkan munculnya penyakit malaria yang dapat berakibat ke gangguan kesehatan masyarakat Biak-Numfor.

Analisa resiko kesehatan masyarakat dapat mengidentifikasi masalah terkait kasus malaria Kabupaten di Biak-Numfor yaitu: mengetahui agen penyebab dari malaria, siapa yang paling tinggi terdampak (anak-anak atau orang dewasa),tipe gangguan apa yang akan terjadi,berapa lama (durasi) terkena malaria,lingkup terjadinya kejadian malaria pada masyarakat Biak-Numfor.

Itulah pentingnya melakukan analisa resiko kesehatan masyarakat untuk mengupayakan kasus malaria di Biak-Numfor.

Identifikasi Faktor Resiko

Peningkatan kasus malaria juga disebabkan oleh faktor resiko.Faktor resiko adalah karakteristik individu (masyarakat) atau lingkungannya yang dapat meningkatkan kondisi terkait dengan kesehatan masyarakat.Faktor resiko yang mempengaruhi kesehatan masyarakat di  Biak-Numfor sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat tinggal atau tempat beradaptasi masyarakat,yang mungkin merupakan daerah endemis malaria.

Baca Juga:  Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Tanah Papua Harus OAP, Aspirasi Lama

Dapat diketahui bahwa Kabupaten Biak Numfor memiliki lingkungan yang masih sebagian besar terdiri dari hutan-hutan kecil dan hutan besar dan juga berada di lingkungan yang masih dikatakan kotor(tidak bersih). Dimana semua pemukiman penduduk yang jauh dari perkotaan mereka tinggal langsung berdekatan dengan area hutan(habitat nyamuk),ada juga yang di dekat rawa-rawa atau tempat-tempat yang masih banyak genangan-genangan air dan sebagian kecil masih sangat primitif.

Menurut (Helmin.R.,2016), bahwa faktor lingkungan yang mempengaruhi peningkatan penyakit tular vektor malaria  adalah cuaca, iklim, penggalian pasir, tambak tidak terurus, penebangan hutan. Faktor resiko lainnya juga adalah perilaku masyarakatnya. Masyarakat di Kabupaten Biak Numfor masih kurang pemahaman tentang kebersihan dan dampak yang dapat menimbulkan penyebaran Malaria. Banyak permukiman yang masih dikatakan kotor karena tidak memperhatikan kebersihan lingkungan rumah(masih banyak penumpukan sampah plastik dan sampah dedaunan) atau di sekitarnya. Juga banyak pembuangan-pembuangan limbah rumah tangga ke got-got dalam keadaan terbuka.

Baca Juga:  Kura-Kura Digital

Perilaku masyarakat yang lain juga yaitu masih banyak melakukan aktivitas berkebun di hutan, yang mana mereka sangat senang berlama-lama di hutan untuk menanam sayur-sayuran atau pun buah-buahan, kadang juga mereka beristirahat di dalam hutan supaya menjaga kebun mereka tidak diserang oleh binatang(babi hutan) dan waktu pulang mereka juga ada kalanya di malam hari yang menjadi waktu keluarnya vektor untuk mencari mangsanya.

Sebagian besar tipe rumah masyarakat masih termasuk semi permanen dan juga tidak menutup ventilasi-ventilasi rumah dengan jaring-jaring ini dapat menyebabkan vektor nyamuk dengan cepat masuk ke dalam rumah. Masyarakat juga tidak menggunakan kelambu saat tidur. Faktor resiko inilah yang dapat meningkatkan penyebaran malaria di Kabupaten Biak-Numfor.

 )* Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana

Referensi

  • Helmin Rumbiak, Onny Setiani, Mursid Raharjo.2006.
  • Analisis Manajemen Lingkungan Terhadap Kejadian Malaria di Kecamatan BiakTimur Kabupaten Biak-Numfor Papua. Vol.5 No.2 Oktober 2006.

 

Artikel sebelumnyaPapua Barat 10 Mei: 70 Orang Positif Covid-19, Dua Orang Sembuh
Artikel berikutnyaIni Upaya Pemkab Yalimo untuk Mahasiswa di Masa Pandemi Corona