Victor Yeimo, Juru Bicara Internasional KNPB saat orasi di halaman kantor gubernur pada 19 Agustus 2019. (Agus Pabika - SP)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com – Pada bulan Oktober 2018, melalui kongres II Badan Pengurus Pusat Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menetapkan hasil kongres yaitu Mogok Sipil Nasional (MSN) di seluruh teritorial west Papua. Seruan agenda nasional tersebut sedang dikampanyekan oleh KNPB di wilayah-wilayah kepada masyarakat Papua.

Dimana MSN tersebut bertujuan untuk mendorong masyarakat Papua tidak hidup berketergantungan terus pada produk kolonial indonesia.

Victor Yeimo, Juru Bicara Internasional KNPB, ketika diwawancarai suarapapua.com  mengatakan hasil dari kongres II tersebut sudah jelas bahwa agenda KNPB sebagai media nasional rakyat Papua yaitu melakukan Mogok Sipil Nasional (MSN) dimana mengajak rakyat Papua untuk kembali menghidupkan pangan lokal dan tidak bergantung pada produk instan negara kolonial Indonesia ketika Mogok Sipil tersebut terjadi di Papua untuk menuntut kemerdekaan Papua.

“Sejauh ini KNPB di setiap wilayah terus melakukan kampanye dan konsolidasi terkait MSN ini dan mengajak masyarakat untuk kembali ke pangan lokal seperti dulu agar saat terjadi mogok sipil masyarakat tidak krisis makanan dan tidak berharap lagi bantuan dari orang luar (negara),” katanya.

Sejauh ini, kata Yeimo, hampir sebagian rakyat Papua masih bergantung pada produk kolonial Indonesia, terutama makan. Indonesia juga masih menguasai pasar perekonomian di Papua, ketika MSN terjadi dan negara membatasi masuknya makanan di Papua otomatis banyak yang akan kelaparan dan mati sia-sia.

ads

“Rakyat Papua masih dimanjakan dengan produk kolonial indonesia, karena kesadaran mereka untuk berkebun dan lainnya itu belum nampak saat ini hingga wabah virus corona ini menyerang seluruh dunia dan menyebar ke Papua,” katanya.

Baca Juga:  Sidang Dugaan Korupsi Gereja Kingmi Mile 32 Timika Berlanjut, Nasib EO?

Negara kolonial Indonesia ibarat virus Corona, dia akan mematikan siapa saja yang belum siap hadapi virus tersebut dan akan terus menyerang bagi mereka yang menganggap remeh virus tersebut. Sama halnya ketika terjadi MSN, bila rakyat tidak siap akan makan oleh negara, dimana akses menanam, ekonomi dan kesehatan dibatasi sehingga terjadi krisis kelaparan dan lainnya.

“Virus Corona ini sendiri dibawah masuk oleh orang Indonesia ke tanah Papua, untuk membunuh rakyat Papua. Kami harap rakyat Papua harus sadar dan mengambil sikap, ingin dengan indonesia atau pisah dari indonesia dan merdeka?” katanya.

Virus Corona ini menyadarkan rakyat Papua untuk kembali ke kebun dan memanfaatkan pangan lokal, masyarakat mulai berlomba membuat kebun selama masa pandemi Corona, namun setelah Corona berakhir masyarakat ini akan terus berkebun atau tidak? Kesadaran ini harus muncul dari diri sendiri untuk bisa mencapai tujuan bersama yaitu mogok sipil nasional, tidak dipaksakan oleh siapapun seperti virus saat ini yang memaksa kita untuk berkebun.

“Bila kita kuat di pangan, kebun dan lainnya saat MSN masyarakat tidak akan kelaparan atau bergantung pada bantuan pemerintah untuk mencukupi kehidupan sehari-hari. Jangan juga kita masih hidup dengan produk kolonial lalu kita berteriak merdeka, padahal kita masih bergantung dengan mereka,” katanya.

“Masyarakat Papua bisa hidup tanpa uang tapi mereka tidak bisa hidup tanpa tanah dan pangan lokal” ini salah satu kutipan ungkapan almarhum uskup John Philip Saklil. Dimana dirinya membangun gerakan tungku api kehidupan sejak tahun 2010 silam.

Baca Juga:  ULMWP Kutuk Penembakan Dua Anak di Intan Jaya

Masyarakat Papua hampir semuanya masih bergantung dengan pangan lokal Papua yang ada di daerah masing-masing. Baik itu dari pesisir hingga pedalaman Papua. Mereka terbiasa hidup dan makan dari apa yang sudah disediakan oleh alam.

Kebiasaan masyarakat memanfaatkan alam untuk kehidupan sehari-hari dari hasil berburu, meramu dan bercocok tanam (berkebun).

Sementara itu, Nelius Wenda juru bicara Serikat Perjuangan Mahasiswa (SEPAHAM) Papua mengatakan selama ini orang Papua jarang mengelola lahan untuk kebun karena akibat dari program pemerintah Indonesia yang sudah memanjakan orang Papua.

“Pemerintah sudah terlanjur memanjakan orang Papua dengan memberikan bantuan-bantuan berupa uang dalam jumlah yang sangat besar yang turun ke kampung-kampung dan desa,” katanya.

Masyarakat beberapa tahun belakangan ini mulai dari era Otsus sampai sekarang terlanjur dibuat manja dan sudah malas lagi mengelola lahan kebun dan tanah yang merupakan sumber kehidupan bagi orang Papua.

“Kebiasaan masyarakat yang dulu rajin ke kebun dan dusun hutan kini tidak lagi karena sudah dimanjakan dengan dana yang turun sangat besar hingga ke kampung-kampung membuat masyarakat melupakan kebiasaan berburu, meramu dan berkebun,” katanya.

Lanjutnya, hampir 20 tahun Otsus di tanah Papua membuat Sebagian masyarakat bergantung pada uang, lambat laun sudah mengubah kebiasaan orang Papua. Apalagi kehadiran Otsus, beberapa generasi yang baru lahir jarang sekali membuat kebun seperti dulu.

“Akibat wabah Corona datang orang mulai berkebun, tapi di kampung-kampung mereka yang masih punya tanah, lahan itu masih bisa bekerja kebun, dan mereka yang berkebun juga pasti tidak terlalu banyak seperti dulu,” katanya.

Baca Juga:  Dua Anak Diterjang Peluru, Satu Tewas, Satu Kritis Dalam Konflik di Intan Jaya

Pembukaan lahan saat ini hanya untuk saat pendemi wabah ini saja, untuk bertahan saat ini tapi akan terus dilakukan atau tidak?

Agenda Mogok Sipil Nasional (MSN) yang dikeluarkan oleh KNPB ini terbayar dengan wabah Corona ini dan KNPB sendiri bila sudah punya pembacaan situasi Analisa kedepan itu seperti apa sehingga walau masyarakat belum tau tentang situasi pandemic ini kedepan mereka sudah bisa melakukan perencanaan MSN.

“2-3 tahun sebelumnya sebelum bawah ini, agenda MSN di sampaikan terus masyarakat Papua belum menyadari karena memang hegemoni colonial masih kuat dengan bantuan-bantuan yang mudah didapat dan dijangkau oleh masyarakat sehingga bisa dibilang masyarakat Papua belum menangkap tujuan dari agenda MSN yang di dorong oleh KNPB,” katanya.

Lanjutnya, masa Pandemi Corona ini menjadi satu refeleksi juga oleh rakyat Papua dengan apa yang sedang di kampanyekan tentang MSN ini. Kedepan bicara soal Penentuan Nasib Sendiri, rakyat harus mulai meningkalkan ketergantungan dengan system colonial bantuan uang dan lainnya.

Untuk kedepan SEPAHAM Papua berharap dalam situasi saat ini kedepan pangan lokal, harus terus dilestarikan dan berjalan agar tujuan kita tercapai karena persoalan Papua di Indonesia ini belum selesai, apalagi persoalan politik. Orang Papua harus sadar dan Bersama-sama dukung dan mendorong agenda yang di dorong oleh KNPB.

Pewarta: Agus Pabika

Editor: Arnold Belau

Artikel sebelumnyaOnes Sama: Kami Akan Turun Bersuara Demi Tapol Papua
Artikel berikutnyaRakyat Sorong Raya Minta Bebaskan Tapol Papua Tanpa Syarat