Mereka Ikut Menandatangani PEPERA Lalu Kabur!

0
1937

Oleh: Henry Beryeri)*
)* Penulis adalah Intelektual Papua

Tiba di Tanah Belanda dan melarikan diri ke Vanuatu tahun 1986. Saya baru saja Kembali dari Vanuatu menghadiri Kongres Pertama Vanuaku Party mendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM) di pulau Tana, Vanuatu. Setidaknya saya mengetahui proses imigrasi masuk Vanuatu yang masih dikuasai pemerintah Inggris dan Perancis.  Untung saja pengaruh para pejuang kemerdekaan Vanuatu itu masih dikuasai oleh tokoh-tokoh utama seperti Mr Barak Sope dan PM Father Walter Lini. Di Vanuatu, Bapak Jakob Prai dan saya dilayani sebagai tamu pemerintah sehingga ditempatkan di Guest House Pemerintah Vanuatu.

Tidak lama Setelah kembali dari Kongres di Vanuatu, mendadak hadir Keluarga Ayamiseba di Bandara Sydney. Ikut diantaranya Bapak Dirk Ayamiseba. Dirk Ayamiseba saat itu menjadi Ketua DPRDGR Propvinsi Irian Barat tempo itu dalam proses Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA). Terlihat dalam foto ini Dirk Ayamiseba didampingi Presiden Soeharto juga Amir Machmud dan Frans Kaisiepo.

Pihak Penerbangan Qantas Australia menolak keberangakatan Keluarga Ayamiseba masuk Vanuatu karena tidak memiliki visa masuk apalagi stateless (tanpa warga negara), kecuali Bapak Dirk Ayamiseba. Andy Ayamiseba menelefon agar saya menolong ke Bandara Sydney karena kesulitan visa masuk tersebut. Semuanya serba salah dan tegang. Petugas penerbangan tetap menolak keras karena mereka tak ada visa masuk, lalu harus dideportasi kembali ke Belanda sementara dan tidak memiliki tiket pulang pergi. Ikut hadir cucu yang masih bayi dan kehabisan air susu di bandara. Cucu ini menangis minta minum susu hangat.

Baca Juga:  Operasi Militer: Kejahatan HAM dan Genosida di Papua

Bapak Dirk Ayamiseba sebagai orang Ron Wondama sehingga lancar berbahasa Biak, maka menegur saya dalam bahasa Biak. Bapak Dirk Ayamiseba menyapa, “anak, Bapa ada bawa uang AUstralia yang dulu kitorang pakai saat lewat AUstralia ke PBB.” Ada sejumlah Lembaran $20 dsbnya, termasuk uang receh. Lembaran $2 tidak berlaku. Saya menggunakan uang tersebut membeli susu dan malam itu harus berlari ke Flat penginapan menghangatkan susu untuk bayi yang kelaparan tsb. Mamanya Ipa Ayamiseba dengan sendirinya kami akrab menghadapi krisis visa ini dari Siang hari hingga jauh malam mencari tempat penginapan di Kota Sydney menuju Vanuatu di pagi hari berikutnya.

ads
Baca Juga:  Papua Menuju Puncak Kemenangan Iman

Sampai jam 5 pagi subuh, saya hanya menginap di bangku hotel sambil berceritera dengan Bapak Ayamiseba. Doa kami terkabul karena begitu tiba di bandara petugas penerbangan sudah siap dan kami rombongan pertama yang dilayani. Petugas cek ke Vanuatu dan tak ada visa yang dikirim oleh imigrasi Vanuatu. Kami Putus harapan dan tinggal mereka dideportasi kembali ke Blanda. Saya bertahan dan menunggu di Counter penerbangan dan hadir seorang petugas imigrasi yang pernah menolong saya masuk ke Vanuatu sebulan sebelumnya. Petugas itu bertanya, “ Anda baru kembali dari Vanuatu, bukan?”. Saya jawab, “Iya”! Saya menjawab dan sambil menjelaskan jika Keluarga Ayamiseba yang mau ke Vanuatu tapi tak ada visa masuk dan tidak memiliki tiket PP ke Blanda.

Paitua Immigrasi ini menuju ke counter penerbangan sambil meyakinkan petugas bahwa saya mengenal Perdana Menteri Vanuatu dan juga Mr Barak Sope, sehingga tak ada kesulitan jika mereka tiba di Vanuatu.

Baca Juga:  Nasionalisme Papua Tumbuh Subur di Tengah Penjajahan

Petugas tersebut marah dan mengatakan “Kamu fikir pesawat ini kamu punya nenek moyang cuk*-ma* punya barang kah ?”. Petugas imigrasi meminta agar saya tenang sambil membujuk petugas penerbangan. Kami langsung kontak dengan petugas penerbangan di Vanuatu dan akhirnya mereka berangkat.

Saya puas karena bisa menolong keluarga Ayamiseba dalam situasi seperti ini. Namun tak habis berfikir bagaimana mereka yang saat itu dibujuk. Dan dipakasakan sebagai orang papua dan menandatangani program gula-gula penjajahan ini. Mereka kemudian melarikan diri dan mengembara ke sani sini bahkan mati menyedihkan di tanah orang.

Beberapa hari lalu si Kommarudin (Keyi) dan si peranakan Papua Tionghoa, Yoris Raweyai dan dua Papua Monyet Lainnya menandatangani perpanjangan program penderitaan orang papua lewat otsus ini. Semoga suatu ketika tanda tanganmu sekalian tidak membelit keturunanmu yang menjerat nasib bangsa Papua ini di dalam cengkaraman bangsa penjajah NNKRI ini. (*)

 

Artikel sebelumnyaBenny Wenda: Western Powers Must Give Vaccines Direct to West Papua Now
Artikel berikutnyaBenny Wenda Minta Sejumlah Negara dan Lembaga Internasional Kirim Vaksin ke Papua