ArtikelKesaksian: Gambaran Umum Masa Depan Papua

Kesaksian: Gambaran Umum Masa Depan Papua

Oleh: Selpius Bobii)*

)* Koordinator Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua (JDRP2)

Pada hari Sabtu, 20 Agustus 2022, jam 12 siang bertempat di aula Asrama Tunas Harapan Padang Bulan, Abepura, Kota Jayapura, Papua, JDRP2 menyampaikan visi Tuhan tentang masa depan bangsa Papua.

Penyampaian kesaksian ini dihadiri sejumlah orang.

I. PEDOMAN DASAR

A. Panji-Panji Bangsa

Panji-panji bangsa Papua adalah “Kristus Tuhan adalah Pembebas, Gembala Agung dan Raja Kita”.

B. Paham Ideologi

Falsafah hidup bangsa Papua adalah ‘Saling Mengasihi Dalam Tuhan’ dengan semboyang ‘Satu Rakyat Satu Jiwa Siapkan Jalan Tuhan’.Negara Papua menganut ‘Ideologi Sosialis Beragama’.

C. Undang-Undang Dasar

Undang Undang Dasar Kerajaan Transisi Papua sesuai kehendak Tuhan adalah sepuluh perintah Allah yang dimeteraikan oleh Hukum Kasih.

D. Sistem Pemerintahan

Sistem Demokrasi Pemerintahan: ‘Teososiokrasi’ yang berarti ‘bentuk pemerintahan yang berlandaskan Tuhan’, dengan sistem Partai Tunggal yang disebut ‘Partai Rakyat’ dibawah kendali Otoritas Adat Papua dan Agama.

E. Visi Umum

Visi umum Negara bangsa Papua adalah “Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi dilandasi saling mengasihi di dalam Tuhan (hukum kasih) dalam semangat satu rakyat sejiwa siapkan jalan Tuhan”.

F. Misi Umum

Cita-cita bangsa Papua dalam visi umum diperjuangkan dan dihayati serta dilaksanakan oleh tiga pilar utama yang menjadi satu kesatuan dalam sistem pemerintahan Teososiokrasi Papua, yaitu:

1). Menyatukan keberagaman Agama/Gereja dan membangun satu Kenisah Allah dalam kerangka mempersiapkan jalan bagi Tuhan;

2). Menyatukan keberagaman Budaya dalam satu honai Papua untuk membangun peradaban bangsa Papua;

3). Membangun Papua dalam keberagaman karya dan kerja dalam sistem Pemerintahan Teososiokrasi dalam kerangka mewujudkan Damai Sejahtera di bumi seperti di Surga.

Tiga Pilar dalam Satu Sistem Negara bangsa Papua, atau Tiga Tungku dalam Satu Honai Papua.

Kerajaan Transisi Papua:

1). Pilar Adat;

2). Pilar Agama/Gereja;

3). Pilar Pemerintah.

G. Prinsip Hidup Berbangsa dan Bernegara

Berbakti bagi sesama dan Tuhan dengan semangat hidup sederhana demi kemuliaan nama Tuhan, atau lain kata “menjadi abdi bagi sesama dan Tuhan melalui bakti, karya dan kerja nyata untuk kebahagiaan bersama demi kemuliaan nama Tuhan’. Berdoa dan bekerja untuk kebaikan dan kesejahteraan bersama adalah prinsip hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Demikian pula iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati (Yakobus 2:26; 2:22). Dalam hidup ini kita perlu menjaga keseimbangan antara iman dan perbuatan, antara berdoa dan bekerja, antara pemenuhan kebutuhan rohani dan jasmani, antara perkataan yang baik dan perbuatan yang baik.

H. Prinsip Dasar Moral Bangsa

Prinsip dasar moral bangsa adalah takut akan Tuhan. Mengapa? Karena kita datang dari Tuhan dan setelah mati kita akan kembali kepada Tuhan. Takutlah kepada Tuhan yang dapat membinasakan tubuh dan jiwa di dalam neraka (Matius 10:28). Takut kepada Tuhan berarti kita menaati segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya. Hidup ini anugerah dari Tuhan, maka kesempatan yang ada digunakan dengan baik dan benar, karena apapun yang kita lakukan di dunia, akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Baca Juga:  Siklus Kekerasan, Jangan Terjadi di Paniai!

I. Prinsip Pembangunan Nasional

Prinsip pembangunan Nasional adalah “Membangun Papua dilandasi Kasih dan Keadilan demi keselamatan dan kebahagiaan lahir bathin bagi rakyat semesta adalah hukum tertinggi.

J. Tujuan Pembangunan Nasional

Tujuan pembangunan Nasional adalah:

1). Untuk mewujudkan kebahagiaan lahir bathin bagi rakyat semesta melalui pemerataan pembangunan yang adil dan bermartabat;

2). Untuk memelihara perdamaian dunia dan memperjuangkan kesejahteraan bersama rakyat semesta di dunia;

3). Untuk siapkan jalan bagi Tuhan yang akan datang memimpin Kerajaan 1000 tahun.

K. Prinsip Ekonomi Nasional

Prinsip ekonomi nasional adalah “Berbakti demi kebaikan dan kesejahteraan bersama”. Dalam arti “satu untuk semua dan semua untuk satu” artinya kita berbakti untuk kebaikan dan kesejahteraan umum’. Jadi di Tanah Suci Papua tidak ada yang hidup kaya raya, juga tak ada yang jatuh miskin. Semua warga di Tanah Suci Papua hidup sederhana dalam berkecukupan (terpenuhinya sandang, pangan dan papan sambil menjaga kekudusan dalam kebenaran firman Tuhan).

L. Asas Kepemilikan Alam Semesta Papua

Alam semesta Papua adalah milik Allah (Imamat 25:23) yang diberikan kepada masyarakat adat; Untuk melindungi tanah air serta segala isinya, dan untuk mengatur tatanan kehidupan bersama, masyarakat Adat mendirikan negara bangsa atas restu Tuhan, maka alam semesta Papua dan segala isinya dikelola oleh negara bersama masyarakat Adat setempat untuk kemakmuran bersama.

M. Prinsip Politik Luar Negeri

Negara bangsa Papua menganut ‘Politik Bebas Kooperatif’ yang tidak memihak kepada blok apapun, artinya berdiri netral untuk bekerjasama memelihara perdamaian dunia dan memperjuangkan pemenuhan kesejahteraan rakyat semesta di dunia.

II. SELAYANG PANDANG MASA DEPAN PAPUA

Di bawah ini gambaran umum visi Tuhan tentang masa depan bangsa Papua yang telah dinampakkan dalam penglihatan selama dua hari dua malam kepada saya pada bulan September 2017 dan nubuatan lain melalui Roh Kudus, serta pesan yang disampaikan oleh utusan Tuhan.

1. ‘Pembukaan pintu gerbang Tanah Suci Papua’ akan diawali dengan malam pembersihan. Semua yang tidak berkenaan di hadapan Allah yang berada di Tanah Papua akan dibersihkan oleh Allah dalam sekejab, termasuk bagi yang tidak bertobat, tidak berdamai dengan siapapun serta tidak bersatu di dalam kehendak Tuhan. Pada malam pembersihan itu, Tuhan akan menyingkirkan semua yang tidak berkenaan di hadapan Allah. Kemudian Allah akan menguduskan, memurnikan serta menyucikan semua yang ada di negeri Cenderawasih, sehingga Tanah Papua menjadi Tanah Suci, Tanah Penuh Kemuliaan Tuhan.

2. Pada hari pertama setelah bebas merdeka, langit terbuka kemudian turunlah “Istana Pemerintahan Kerajaan Transisi Papua” diliputi kemuliaan-Nya ke suatu tempat di Tanah Papua yang Tuhan sudah tentukan. Ketika Istana itu mendarat di tanah, tempat itu berubah dalam sekejab, pemandangannya indah bagai Taman Eden yang terhilang di kelilingi tembok persegi empat yang menjulang tinggi. Istana itu terdiri dari dua lantai. Lantai pertama adalah Istana Wali Kerajaan Transisi Papua dan lantai kedua adalah ‘Bait Allah’ yang dikhususkan untuk pujian penyembahan 24 jam non stop. Orang orang yang diurapi dengan kepenuhan Roh Kudus akan dikhususkan di ‘Bait Allah’ itu untuk memuji dan menyembah Tuhan di dalam Roh dan Kebenaran. Di dekat Istana itu akan ada Panti Jompo untuk menampung para aktivis Papua merdeka lansia yang sungguh-sungguh mengabdikan hidupnya bagi pembebasan bangsa Papua. Mereka ini diperlakukan khusus dan dilayani dengan kesungguhan hati, karena mereka paling berjasa untuk keselamatan bangsa Papua.

Baca Juga:  Penebangan Hutan dan Masuknya Perusahaan Tambang Emas Ilegal serta Sengketa Tapal Batas di Kapiraya, Provinsi Papua Tengah

3. Pengesahan Undang-Undang Dasar Negara Suci Papua yaitu “Sepuluh Perintah Allah yang dimeteraikan oleh hukum Kasih”. Pengesahan ini berlangsung dalam istana pemerintahan Teososiokrasi, yang disahkan oleh Malaikat atas nama Allah.

4. Kristus tampak di langit bagai lampu yang cahayanya menyilaukan mata. Pantulan cahaya kemuliaan-Nya memenuhi bola bumi. Pantulan cahaya Kristus itu menjadi sinyal, sehingga Kristus menjadi satelit. Sinyal itu digunakan gratis tanpa mengeluarkan biaya apapun. Sinyal Kristus menembus segala sesuatu yang berada di alam semesta, sehingga perangkat teknologi dapat menggunakan sinyal itu di mana saja. Sinyal Kristus menjadi filter untuk memonitoring segala perbuatan, yaitu komunikasi secara lisan maupun tertulis melalui teknologi elektronik. Komunikasi yang mendatangkan dosa atau kejahatan, secara tiba-tiba sinyal akan hilang, sehingga tulisan atau data tidak terkirim atau komunikasi lisan terputus.

5. Pada malam harinya adalah malam pujian penyembahan di pelosok negeri Papua dari Misool Sorong sampai Samarai PNG.

6. Penyatuan Gereja Tuhan. Baik Kristen maupun Katolik bersatu dalam satu Gereja. Nama Gereja-Nya terdapat dalam Kitab Suci Perjanjian Baru. Yesus Kristus sebagai kepala hendak datang memimpin Kerajaan 1000 tahun, sehingga tubuh-Nya harus bersatu dalam satu organisasi Gereja, seperti di awal Gereja perdana. Penyatuan Gereja akan dimulai dari Papua untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

7. Pertahanan Keamanan oleh Pasukan Laskar Kristus di bawah panglima Malaikat Agung Mikael. Pasukan laskar Kristus akan mengawasi semua perilaku manusia di Tanah Suci Papua. Ketika seseorang berpikiran jahat dan memulai melakukan perbuatan jahat, maka pada saat itulah pasukan laskar Kristus akan menangkap orang itu dan langsung dipenjara.

8. Kesejahteraan warga negara akan diperhatikan oleh Negara. Rumah tempat tinggal setiap keluarga bagi warga negara akan disiapkan oleh Negara. Rumah keluarga satu model bagi setiap warga negara, baik pengusaha, karyawan, pegawai maupun petani. Setiap warga negara mendapat gaji perbulan dari Negara, baik dari janin berumur dua bulan hingga usia tua akan mendapat gaji pokok yang nilainya sama. Hanya yang membedakan adalah tunjangan-tunjangan, khusus bagi pegawai dan karyawan.

9. Biaya kesehatan dan pendidikan gratis, menjadi tanggungan Negara. Seorang anak tinggal bersama keluarga sewaktu TK dan SD. Ketika lanjut ke SMP, semua anak masuk penampungan di asrama. Semua anak diperlakukan sama dalam pelayanan selama studi. Ketika masuk SMP langsung memilih jurusan. Bagi yang memiliki kemampuan di atas rata-rata akan melanjutkan pendidikan ke jenjang S1, S2, dan S3 untuk mencetak ahli-ahli pada bidangnya masing-masing. Tetapi bagi yang kemampuannya di bawah rata-rata, langsung dipekerjakan menjadi pegawai atau karyawan di pemerintahan atau lembaga swasta.

Baca Juga:  Nasionalisme Papua Tumbuh Subur di Tengah Penjajahan

10. Setiap orang wajib bekerja dan berdoa. Doa dan Kerja adalah dua mata keping logam yang tidak bisa dipisahkan di Tanah Suci Papua. Demikian pula iman dan perbuatan.

a). Setiap jam 9 pagi 9 malam, jam 12 siang 12 malam, jam 3 sore 3 subuh, jam 6 pagi 6 sore adalah jam-jam khusus untuk pujian penyembahan. Pada jam-jam khusus ini semua kegiatan atau rutinitas berhenti total. Sebelum 15 menit lonceng-lonceng Gereja dibunyikan dan tepat pada jam-jam khusus itu pujian penyembahan dinaikan kepada Tuhan hanya dalam 15 menit saja dan ini diwajibkan bagi semua penduduk yang mendiami di Tanah Suci Papua, kecuali bagi mereka yang tertidur pulas atau sakit yang amat berat. Setelah pujian penyembahan, masing-masing kembali melanjutkan kegiatan atau aktivitasnya. Untuk itu, Kapela-Kapela akan dibangun di berbagai tempat.

b). Setiap penduduk wajib bekerja. Pegawai atau karyawan semua bekerja, juga semua petani atau pengusaha bekerja di tempatnya masing-masing, kecuali sakit atau cacat jiwa/fisik.

c). Bagi yang tidak berdoa pada jam-jam yang sudah ditentukan dan bagi yang tidak bekerja, ada sanksinya yaitu tidak dapat gaji pokok oleh Negara. Gajinya pada bulan itu tidak diberikan kepada yang bersangkutan, kecuali sakit berat atau cacat fisik/jiwa.

11. Lembaga Adat dan Lembaga Agama/Gereja menjadi satu sistem dalam Pemerintahan Teososiokrasi, maka semua yang bekerja di lembaga Adat dan Agama/Gereja diangkat menjadi Pegawai Negeri dan karyawan.

12. Sumber pendapatan Negara bangsa Papua yang utama dan terutama adalah segala jenis tambang yang ada di Tanah Papua. Menurut petunjuk dari utusan Tuhan bahwa ada 9 perusahaan terbesar di dunia yang Tuhan sudah siapkan di Tanah Papua. Saat ini hanya satu perusahaan terbesar yang sedang dikelola oleh para kolonial yaitu tambang Freeport di Timika. Sementara 8 tambang terbesar lain belum disentuh dan dikelola. Dan masih ada beribu-beribu tambang sedang dan kecil yang bertebaran belum dikelola dari Misool Sorong sampai Samarai PNG. Pemuda-pemudi Papua yang sudah putus sekolah yang saat ini menganggur akan diangkat menjadi tenaga kerja di tambang-tambang itu. Dengan hasil dari tambang-tambang yang ada ini, peradaban bangsa Papua akan dibangun dilandasi ‘Hukum Kasih’ dan akan memberkati bangsa-bangsa lain di dunia sambil kita mempersiapkan jalan bagi Tuhan. (Dan masih ada hal lain yang Tuhan akan lakukan di atas Tanah Papua. Amin ya Amin. Terpujilah Tuhan).

‘Bagi Tuhan tak ada yang mustahil’. (*)

 

Terkini

Populer Minggu Ini:

MRP Berhak Memutuskan Hak-Hak Dasar Orang Asli Papua

0
Atas desakan aspirasi rakyat Papua tersebut, maka MRP se-tanah Papua sebagai lembaga representasi kultural orang asli Papua yang memiliki wewenang tertentu dalam rangka perlindungan hak-hak orang asli Papua (pasal 1 huruf g UU Otsus ) mulai merespon aspirasi rakyat Papua tersebut dengan membentuk  Asosiasi MRP se-tanah Papua.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.