OAP Tidak Pernah Terlibat Perjuangan Kemerdekaan RI, Papua Bukan Indonesia

0
1047

WAMENA,SUARAPAPUA.com — Dalam sejarah perjuangan kemerdekan Republik Indonesia (RI), tidak ada satu pun orang Papua yang ikut berjuang. Karena itu, makluk yang bernafas maupun yang tidak bernafas yang mendiami teritori West Papua tidak bisa dipaksakan untuk diIndonesiakan.

Pernyataan itu ditegaskan, Namene Elopere, juru bicara Petisi Rakyat Papua (PRP) wilayah La-apago, kepada suarapapua.com tidak lama ini. 

Mengutip pernyataan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno Hatta, lanjut dia, terkait wilayah kemerdekaan Indonesia, kata Juru Bicara PRP wilaya La-apago, Namene Elopere, menyatakan sudah jelas wilaya West Papua tidak masuk dalam wilayah Kemerdekaan Indonesia.

“Wilayah yang merdeka dalam bingkai negara kesatuan republik Indonesia dari Sabang sampai Amboina, untuk Irian Barat [Papua] akakn dipikirkan setelah 25 tahun kemudian,” itulah pernyataan Ir. Soekarno Hatta, tegasnya.

Berdasarkan pernyataan Presiden pertama RI, Ir. Soekarno Hatta itu, semakin menyadarkan orang Papua untuk bangkit memperjuangkan nasib kemerdekaannya secarapolitik untuk lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bukannya mempertahankan NKRI.

“Orang Papua benar – benar telah memahami bahwa, satu batang hidung orang Papua, tidak perna terlibat dalam proses perjuangan Kemerdekaan Indonesia,” ujar Elopere.

Buktinya, kata Namene, pengambilan sumpah pemuda Indonesia yang mana jatuh temponya adalah tanggal 28 tahun 1928 yang di peringati setiap tahun, orang Papua tidak perna ikut dalam proses tersebut. Selanjudnya, dalam pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia juga sama sekali tidak ada satu orang Papua yang ikut menyaksikan.

“Frans Kaisiepo, Marten Indey, dan Silas Papare bukan ikut memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia, melainkan upaya pendekatan Indonesia untuk memasukan wilayah West Papua ke dalam bingkai NKRI,” tegas Namene.

Baca Juga:  Peringati Hari Pers Nasional, Pegiat Literasi dan Jurnalis PBD Gelar Deklarasi Pemilu Damai

Dengan demikian, kata Elopere, semua proses yang terjadi kesalahan atau pelanggaran atas upaya Indonesia dalam perjanjian new York agreement dari tahap ke tahap demi merebut kekuasan wilaya Papua

Secara terpisah, Juruh Bicara (Jubir) Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat, Ones Suhuniap, menghimbau kepada seluruh rakyat West Papua dari Sorong sampai Merauke untuk memperingati hari rasisme pada tanggal 16 agustus setiap tahun.

“Tanggal 16 agustus adalah bulan rasisme yang terjadi terhadap Bangsa Papua yang harus di peringati Rakyat Papua,” tegas Suhuniap

Peringatan itu akan dilakukan oleh Rakyat Papua dan tanggal 16 agustus menjadi hari peringatan bagi Bangsa Papua akibat rasisme yang terjadi terhadap orang Papua pada tanggal 16 agustus 2019 lalu.

Pewarta : Onoy Lokobal
Editor : Arnold Belau

Baca Juga:  Komite Keselamatan Jurnalis Papua Barat dan PBD Resmi Terbentuk
ads
Artikel sebelumnyaPedagang Pasar Modern Rufei Demo ke Pemkot Sorong, Ada Apa?
Artikel berikutnyaGeorge Yarangga: Saya Belum Terima Data Terkait Pasar Modern Rufei