BeritaEnam Kamp Pengungsi Internal di Pegubin Masih Bertahan Dengan Cuaca Ekstrim

Enam Kamp Pengungsi Internal di Pegubin Masih Bertahan Dengan Cuaca Ekstrim

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Human Rights Monitor release laporan tentang situasi pengungsi internal atau Internal Displace People (IDP’s) di distrik Kiwirok, Papua. Laporan itu di release pada 2 Januari 2023.

Dalam laporan itu mengungkapkan bahwa para pengungsi di Pegunungan Bintang akhirnya menghadapi kondisi cuaca ekstrem di pengungsian di daerah pegunungan. Sejauh ini, hampir semua pengungsi terus tinggal di kamp-kamp pengungsian di hutan.

Diperkirakan 200 pengungsi telah menyeberangi perbatasan ke Papua Nugini, di mana mereka tinggal di kamp pengungsian di kota Tumorbil. Di antara dari para pengungsi lebih banyak adalah perempuan dan anak-anak.

Baca Juga:  Tolak Yonif 762, Warga Tambrauw Palang Pos Satgas 623 di Fef

Mereka mengambil semua makanan dan persediaan dari kebun dan berburu di hutan.

Kamp-kamp pengungsian sendiri terletak di daerah hutan yang sangat terpencil dan hanya dapat diakses melalui jalan setapak di gunung-gunung.

Para pekerja gereja yang mengunjungi enam kamp pengungsian di daerah Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang menyusun daftar, yang menyatakan bahwa 50 pengungsi telah meninggal sejak mengungsi  [13 September 2021].

Setidaknya 39 pengungsi menderita sakit tanpa akses ke fasilitas kesehatan. Para pengungsi berada dalam bahaya karena penembak jitu atau sniper aparat Indonesia beroperasi dari distrik Kiwirok.

Baca Juga:  Simamora: Penting Mengajar Anak, Tetapi Juga Pembentukan Karakter

Pada tanggal 27 Oktober 2022, sniper aparat Indonesia menembak mati Yahya Tepul di desa Pelebib, di mana ia ingin memberikan makan ternak babinya, yang baru saja beranak.

Seperti halnya di Kabupaten Maybrat, pemerintah (Pegunungan Bintang) setempat telah mencoba untuk memulangkan  pengungsi kembali ke desa-desa mereka, meskipun situasi keamanan di distrik Kiwirok tetap mencekam.

Menurut polisi, sekitar dua puluh pengungsi internal dari distrik Kiwirok, termasuk delapan pemimpin desa dan pekerja medis, diungsikan kembali di desa mereka pada akhir November 2022.

Mereka ketika terjadi kasus kontak tembak antara aparat TNI/Polri dan TPNPB pada September 2021, mereka diungsikan ke ibu kota Pegunungan Bintang di Oksibil, bersama sekitar 500 pengungsi selama empat belas bulan.

Baca Juga:  Generasi Muda Anim Ha Perlu Membangun Pemahaman Dampak Investasi

Aparat keamanan gabungan diduga diperbantukan untuk mendampingi dan menjamin keamanan mereka di kampung. Jumlah total pengungsi di Kabupaten Pegunungan Bintang mencapai 2.252 orang pada April 2022.

Sebelumnya, pada 13 September 2021, telah terjadi kontak tembak antara aparat TNI/Polri dan TPNPB. Akibatnya, banyak rumah-rumah warga terbakar dan masyarakat dari sejumlah kampung di wilayah Kiwirok mengungsi ke gunung-gunung.

 

REDAKSI

Terkini

Populer Minggu Ini:

Gedung Ditempati Satgas Pos Fef Diminta Dihibahkan ke Keluarga Moses Yewen

0
“Selain denda adat terhadap kasus penganiayaan Moses Yewen, kami juga minta gedung yang sekarang dijadikan sebagai pos Satgas itu dibangun di atas tanah adat milik Moses Yewen harus dihibahkan kepada keluarga atau anaknya karena ini tanah sudah ada sertifikat kepemilikan yaitu anak kandung dari Moses Yewen,” ujar Thomas Baru menyampaikan tuntutan kepada pihak TNI.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.