Untuk Pertama Kalinya, Bapa dan Anak Asli PNG Jadi Kapten di Air Niugini

0
2363

Kapten Boeing paling senior di maskapai Air Niugini dan pilot terlama yang melayani, Kapten Paun Nonggorr dan putranya, Kapten Jason Nonggorr telah membuat sejarah dengan menjadi  kapten ayah dan anak  pertama asli PNG di Air Niugini, yang terbang untuk maskapai nasional.

Meskipun mereka tidak berada di jenis pesawat yang sama, prestasi mereka sebagai Kapten ayah dan anak pertama untuk Air Niugini, sangat membanggakan. Nonggorr senior adalah Kapten di jet Boeing 767 dan putranya Jason adalah Kapten di pesawat jet Fokker 100.

Berasal dari suku Koepka Ramdi di Koepka, Gunung Hagen, Dataran Tinggi bagian Barat, Kapten Paun Nonggorr juga merupakan warga negara termuda yang mendapatkan komando pada pesawat jet Fokker F28 pada usia 26 tahun pada 1983.

Dia telah bersama Air Niugini selama 44 tahun, 35 dari tahun-tahun itu, sejak tahun 1985, menerbangkan pesawat Boeing 767, Airbus 310 dan Airbus 300 yang berbadan lebar, dan Air Niugini di rute internasional.

Terlepas dari semua prestasi terbangnya, sebagai seorang ayah tidak ada yang dapat mengalahkan kebahagiannya melihat putranya mengikuti jejaknya, dan bahkan lebih baik, terbang untuk maskapai yang sama dan bersama-sama sebagai Kapten.

ads

Kapten Jason Nonggorr memperoleh komandonya sebagai Kapten yang sepenuhnya menggunakan pesawat jet Fokker 100 enam bulan lalu, momen yang membanggakan bagi keluarga Nonggorr, Air Niugini dan juga Papua Nugini.

Kapten Senior Nonggorr mengatakan, “Banyak kerja keras, komitmen, dan disiplin diperlukan untuk menjadi pilot. Jason telah mencapai tonggak sejarah dalam penerbangan dari menjadi pilot hingga menjadi Kapten Fokker F100 yang lengkap. Keluarga kami  dari Gunung Hagen dan orang-orang ibunya dari Pulau Wuvulu, Paun bangga dengan prestasi anaknya itu”.

Putranya mengatakan hal ini adalah pencapaian pribadi yang sangat hebat, yaitu dirinya dapat memegang komando sebuah pesawat Fokker 100. Inilah hasil dari kerja keras, tekad dan dedikasinya.

Baca Juga:  Kerusuhan di Kaledonia Baru: Ketidaknyamanan Mulai Muncul Saat Bala Bantuan Tiba

“Untuk mencapai hal ini dengan maskapai nasional di mana ayah saya dianggap sebagai pelopor penerbangan di PNG, memberi saya rasa bangga yang besar dalam diri saya, keluarga saya, Air Niugini dan juga negara.”

Ayahnya mengingat kembali bahwa ia pernah bertanya kepada putranya setelah dia menyelesaikan sekolah menengah atas apa yang ingin dia lakukan dalam hidup dan jawabannya adalah, ia ingin menjadi seorang pilot.

“Setelah mengalami dan mengetahui kerasnya menjadi seorang pilot, saya tidak ragu bahwa Jason memiliki kemampuan untuk menjadi sukses nanti, ketika dia sudah memahami apa yang telah menolongnya menjadi seorang pilot. Sekarang Jason memiliki pengalaman yang diperlukan untuk mengemudikan pesawat apa pun di dunia penerbangan ”.

Dibesarkan oleh seorang ayah yang berprofesi sebagai  pilot dan seorang ibu yang sebelumnya bekerja sebagai pramugari di Air Niugini, hal tersebut membantu mengarahkan Jason dalam mendaftar untuk berkarier sebagai pilot.

“Kenangan masa kecil saya yang paling awal adalah menyaksikan ayah saya memerintahkan pesawat Airbus A310 dari kursinya yang semakin meningkatkan daya tarik saya tentang penerbangan dan mengilhami saya untuk menjadi pilot,” jelas Kapten Jason Nonggorr.

Jason berusia 30 tahun dan ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Dia telah terbang dengan Air Niugini selama 7 tahun mencapai 8 dasbor setelah mengikuti pelatihan terbang di Archerfield, Brisbane yang secara pribadi dibayar oleh Kapten senior Nonggorr.

Jason bergabung dengan Air Niugini tiga tahun lalu sebagai perwira pertama di F100 dan sekarang telah menjadi Kapten sejak enam bulan lalu.

Jason menambahkan, “Ini akan menjadi tonggak luar biasa dan pengalaman yang berkesan, suatu hari saya dapat mengoperasikan Boeing 767 bersama ayahku.”

Kapten Paun Nonggorr mulai terbang pada usia yang masih sangat muda yaitu pada Januari 1975 di Cessnock, New South Wales Australia di mana ia bersekolah di sekolah penerbangan.

Baca Juga:  Satu Orang Tertembak dan Sejumlah Kios Terbakar Dalam Kontak Tembak di Paniai

Pria 63 tahun itu memulai  karirnya dengan Air Niugini pada Juni 1975 sebagai pilot kadet, kemudian menjadi perwira pertama yang terbang di Fokker Frendship (F27) sebelum menjadi Kapten PNG muda pertama di pesawat jet F28 dengan Air Niugini. Pada saat itu usianya baru 26 tahun.

Kapten Senior Nonggorr ingat menerbangkan pesawat F28 itu menantang karena pesawat itu adalah pesawat analog dan membutuhkan keahlian yang berbeda.

Dia mengatakan, “PNG adalah salah satu tempat paling sulit untuk terbang di dunia karena pola cuaca lokal yang menantang dan medan yang kasar yang membuat penerbangan domestik sangat menantang, namun menyenangkan, mengasyikkan, dan sangat memuaskan” tandasnya.

Dia kemudian pindah untuk mengoperasikan Airbus A300 pada tahun 1985 selama empat tahun sebelum A310 yang telah ia terbangkan selama 14 tahun dengan rute  Air Niugini internasional.

Prestasi terbesar bagi karier terbang Kapten Paun Nonggorr adalah mendapatkan komandonya sebagai Kapten muda pertama jet F28 di tahun 1983 setelah beberapa tahun menerbangkan F27 lama dan diikuti oleh pesawat Airbus 310 dan Boeing 767. Dia telah menerbangkan B767 selama 17 tahun. Dia menjadi senior nomor satu dari semua pilot nasional dan pilot asing di Air Niugini.

Kapten Paun Nonggorr juga mantan Manajer Umum Operasi Penerbangan di Air Niugini. Dia juga seorang Instruktur Penerbangan yang berkualifikasi untuk Pelatihan Penerbangan Ab Initio untuk pilot siswa.

“Rahasia yang membuat saya terus terbang selama bertahun-tahun adalah menyenangkan untuk memiliki kantor di antara bintang-bintang. Meskipun, kadang-kadang bisa membuat stress. Kuncinya adalah disiplin diri dan resimentasi.  Saya  juga mendapatkan ide bagus dari semua aspek tentang apa yang terjadi di seluruh dunia ”katanya.

Baca Juga:  Asosiasi West Papua Australia Mendesak Prancis Mendengarkan Suara Rakyat Kanak

Nasihatnya kepada kaum muda Papua Nugini yang bercita-cita tinggi yang ingin menjadi pilot adalah dedikasi dan tekad.

“Setiap orang muda PNG rata-rata dapat menjadi pilot dan menerbangkan pesawat jet besar seperti F100 atau B767, dan pekerjaan lain apa pun selama mereka siap untuk bekerja keras. Tidak ada cara yang mudah untuk dapat menerbangkan pesawat atau untuk pekerjaan apapun di dunia ini” katanya mengingatkan.

Dia lebih lanjut mendorong orang tua untuk mendukung pengasuhan, pendidikan, dan mimpi anak-anak mereka dengan memberi anak-anak waktu, perhatian, dan cinta terbaik mereka selama tahun-tahun pembentukan.

Dia berkata, “Orang tua harus menyadari ketika mereka memiliki anak, itu artinya adalah 24 jam sehari, 7 hari seminggu dan 365 hari setahun berkomitmen untuk mengasuh anak. Hal ini akanmembentuk blok bangunan untuk kesuksesan seorang anak dalam hidup termasuk anak mereka yang ingin menjadi pilot. Semua kesuksesan oleh anak-anak dimulai di rumah dengan ibu dan ayah”.

Kapten Nonggorr memuji istrinya Anne yang telah mendedikasikan seluruh waktunya untuk membesarkan ketiga anak mereka sementara ia selalu pergi bekerja.

“Dia pada dasarnya membesarkan anak-anak sendirian karena saya sering pergi jauh tetapi saya memastikan saya memiliki waktu yang berkualitas dengan mereka ketika di rumah,” katanya.

Kapten Nonggorr memberikan penghargaan kepada istrinya Anne yang telah mendedikasikan sepanjang waktunya untuk membesarkan ketiga anaknya sementara dia selalu pergi bekerja.

Kapten Paun Nonggorr  juga berterima kasih kepada Air Niugini karena memberi dia dan putranya kesempatan untuk terbang bersama maskapai itu. Ia menambahkan bahwa Air Niugini telah menjadi hidupnya dan berarti dunia baginya dan keluarganya. Menjadi pilot dengan Air Niugini adalah pekerjaan pertama dan satu-satunya dalam kehidupan kerjanya dan itu akan menjadi pekerjaan terakhirnya juga.

Departemen Komunikasi Perusahaan

Selasa 26 Mei, 2020

Translator : Imelda Hendrieta

Artikel sebelumnyaPemkab Puncak Diminta Transparan soal Penggunaan Anggaran Covid-19
Artikel berikutnyaKomnas HAM Didesak Tangani Kasus Penembakan di Timika