Ketua DPRD Tolikara: Perdamaian Perang Sedang Diupayakan Aparat TNI/Polri dengan Semua Pemangku Kepentingan

0
850

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sonny A. Wanimbo, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tolikara mengungkapkan saat ini pihak aparat keamanan, pemerintah, DPR, tokoh pemuda, tokoh adat, tokoh agama dan para pemangku kepentingan sedang terus mengupayakan perdamaian di Kabupaten Tolikara. 

Pernyataan ini disampaikan Wanimobo saat dikonfirmasi suarapapua.com terkait perang antara marga yang terjadai baru-baru ini. Dia membeberkan, penyebabnya adalah pembunuhan anjing. 

“Jadi perang terjadi karena pemilik anjing protes kepada pelaku yang membunuh anjing. Saat terjadi protes ini terjadi perkelahian antara kedua belah pihak. Kemudian meluas dan terjadi perang antara kedua belah pihak,” ungkapnya kepada suarapapua.com di Kota Jayapura saat dihubungi lewat telepon genggamnya, Rabu (28/9/2022) sore menjelang malam. 

Perang sudah berhenti setelah perang berturut-turut selama dua hari kemarin. Hari ini tidak ada perang. 

“Tetapi kedua belah pihak belum damai. Kapolres bersama jajaran TNI dan Polri sudah turun tangan. Masih sedang komunikasi untuk mencari jalan keluar agar kedua belah pihak berdamai,” katanya. 

ads
Baca Juga:  Soal Satu WNA di Enarotali, Begini Kata Pakum Satgas dan Kapolres Paniai

Wanimbo menjelaskan, saat ini aparat kepolisian sedang terus berupaya untuk meredam konflik agar tidak meluas. Hal ini, lanjut dia, juga untuk menghindari terjadinya korban antara kedua bela pihak. 

Saat ini, lanjut Wanimbo, ada dua korban yang telah dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wamena untuk mendapat perawatan medis. Dia juga mengatakan sampai saat ini belum ada laporan tentang korban yang meninggal akibat perang tersebut. 

“Untuk saat ini sesuai dengan laporan yang saya terima, ada dua korban yang sudah dibawa ke RSUD Wamena. Selain itu tidak ada korban yang kritis dan meninggal akibat perang yang sudah terjadi selama dua hari,” katanya. 

Dia menerangkan, para pimpinan daerah dan pimpinan legislatif sedang berada di luar daerah karena sibuk. 

“Kami dari DPRD atau dari bupati dan wakil bupati akan kesana untuk bicara mencari solusi. Apakah secara adat atau bagaimana,” katanya.  

Baca Juga:  Polda Papua Diminta Evaluasi Penanganan Aksi Demo di Nabire

Dia juga mengatakan, perang memang terjadi antara tanggal 26 dan 27. Tetapi, untuk hari ini tanggal 28 perang tidak ada. Karena aparat bersama para pemangku kepentingan sedang berupaya untuk mencari solusi atas kondisi ini. 

Meski tidak ada korban jiwa, Wanimbo mengungkapkan bahwa korban harta benda nilainya mencapai miliaran. 

“Kalau korban harta benda mencapai miliaran. Karena rumah-rumah warga juga ikut dibakar. Karena bahan-bahan pembuat bangunannya di sana mahal, maka ditaksirkan kerugiannya mencapai miliaran rupiah. Detail berapa banyak rumah yang dibakar, saya belum terima. Tetapi kerugian harta bendanya mencapai miliaran rupiah,” katanya. 

Dari informasi yang beredar dalam dua hari terakhir, perang suku antara dua kelompok warga terjadi akibat pembunuhan anjing. 

Bentrokan antara warga Desa Kogome dan Desa Kimibur pecah di Kabupaten Tolikara, Papua. Insiden itu menyebabkan tujuh orang luka-luka terkena panah.

Baca Juga:  Kronologis Tertembaknya Dua Anak Oleh Peluru Aparat di Sugapa, Intan Jaya

“Ada yang terluka, dari pihak Desa Kogome ada 4 orang terluka, sedangkan Kimibur 3 orang,” ujar Kapolres Tolikara AKBP Dicky Hermansyah Saragih seperti dilansir detik.com Senin (26/9/2022).

Dicky menjelaskan secara umum bentrokan berawal dari adanya salah satu warga yang menemukan anjing peliharaannya dipanah pada Sabtu (24/9) malam. Pemilik anjing itu lantas menemukan pelaku hingga terjadi keributan.

“Awalnya ada seorang masyarakat yang masalah anjing dipanah. Lalu dicarilah oleh pemilik anjing. Jadi yang panah ini (ditemukan), terjadilah keributan dan berkembang minta bantuan ke keluarganya, terjadilah bentrokan,” katanya.

Dicky mengatakan pihaknya telah berupaya mendamaikan kedua belah pihak pada Minggu (25/9) dini hari. Namun belakangan warga dari Desa Kogome kembali terpancing emosi.

“Ternyata sekitar jam setengah 2, Minggu siang menjelang sore, dari kelompok Kogome ini ada berkumpul dalam rangka adat, tapi ternyata mungkin tidak terkendali, langsung mengadakan penyerangan,” katanya.

REDAKSI

Artikel sebelumnyaMeskipun Mendapat Penolakan, Pemkot Sorong Tetap Gusur Paksa Pasar Boswesen
Artikel berikutnyaKoboy Cup I Digiring Isu Politik, Festus Asso: Murni Pembinaan Generasi Muda